Setelah kita mengetahui sepakterjang yang sedemikian buruknya tentang kredibilitas al-Albani dalam kegemarannya mengomentari hadits-hadits Rasulullah Saw. yang terdapat di berbagai kitab para ulama dan mencacimaki Ulama yang tidak sefaham dengannya ,maka orang-orang berakal sehat tidak akan lagi memandang "pantas" untuk menjadikan karya-karya al-Albani sebagai rujukan ilmiah, apalagi dalam rangka memvonis suatu amalan sebagai bid'ah hanya karena dalilnya didha'ifkan oleh al-Albani. Kejanggalan al-Albani itu bahkan juga dirasakan oleh ulama Wahabi seperti al-'Utsaimin dan yang lainnya, sehingga para pengikut Salafi & Wahabi (terutama yang ada di Indonesia) tidak sepantasnya mengunggulkan karya-karya al-Albani, apalagi menerbitkan dan menyebarluaskannya.

FREE MASONRY -ABDUH – SALAFI.

The Salafi

Oleh: David Livingstone

 .

Jamal ud Din Al Afghani

Pada awal tahun 1800-an, sebuah kelompok misionaris yang ditunjuk oleh gabungan gerakan Universitas Oxford, Gereja Anglikan dan Kings College of London University, yang berada di bawah Scottish Rite Freemasonry, sebagai bagian dari persekongkolan untuk membantu mengembangkan pembentukkan okult persaudaraan di dunia Islam, yang berdedikasi kepada penggunaan terorisme atas nama Illuminati di kota London [ 1 ]

Pimpinan promotor the Oxford Movement adalah Perdana Menteri Benjamin Disraeli, Lord Palmerston dari the Palladian Rite, dan Edward Bullwer-Lytton, pimpinan dari sebuah cabang aliran Rosicrucian yang dikembangkan darithe Asiatic Brethren. The Oxford Movement juga didukung oleh Jesuit. Juga terlibat keluarga Kerajaan Inggris, dan banyak didukung oleh Jesuit. Juga terlibat keluarga Kerajaan Inggris, dan banyak tokoh kantor perdana menteri serta para pembantunya.Lytton, pimpinan dari sebuah cabang aliran Rosicrucian yang dikembangkan dari the Asiatic Brethren. The Oxford Movement juga didukung oleh Jesuit. Juga terlibat keluarga Kerajaan Inggris, dan banyak tokoh kantor perdana menteri serta para pembantunya.

Benjamin Disraeli adalah seorang Grand Master Freemasonry, juga Knight of the Order of the Garter. Adalah di dalam bukunya Coningsby ia mengakui, melalui seorang karakter bernama Sidonia, untuk memerankan temannya Lionel de Rothschild, bahwa , “dunia diperintah oleh orang-orang yang sangat berbeda dari apa yang dibayangkan oleh mereka yang bukan berada di belakang layar”. Sebagai pengaruh dari perkumpulan-perkumpulan rahasia, Disraeli juga berkata dalam sebuah debat Parlemen sbb:

Adalah sia-sia untuk menyangkal … sebagian besar Eropa – keseluruhan Italia dan Perancis, dan sebagian besar Jerman, tidak perlu menyebutlan negara-negara lain – adalah tertutup dengan sebuah jaringan dari perkumpulan rahasia, seperti permukaan bumi yang sekarang tertutup dengan jala-jalan kereta api. Dan apakah tujuan mereka?. Mereka tidak berusaha menyembunyikan dirinya. Mereka tidak menghendaki pemerintahan yang konstitusional. Mereka tidak menginginkan melakukan perbaikan lembaga, mereka juga tidak mau dewan provinsi maupun catatan hasil suara ; mereka hanya ingin mengakhiri gereja kristen. … [ 2 ]

Benjamin Disraeli
Bulwer-Lytton adalah the Grand Patron of the Societas Rosicruciana di Anglia (SRIA), didirikan pada tahun 1865 oleh Robert Wentworth Little, dan berdasarkan atas the Asiatic Brethren. Banyak anggota the Asiatic Brethren., atau Fratres Lucis, menjadi anggota sebuah loji Masonik Jerman yang disebut L’Aurore Naissante, atau “the Nascent Dawn”, didirikan di Frankfurt-on-Main dalam tahun 1807. Di loji inilah dimana Lord Bulwer Lytton diinisiasi. [ 3 ] Bulwer-Lytton, yang menjabat senagai kepala Britain’s Colonial Office dan India Office, juga anggota penganut the cult of Isis and Osiris. Dia menulis the Last Days of Pompeii, dan The Coming Race, atau Zanoni, dimana dia membentuk yayasan untuk kemudian diusulkan untuk rasist Nazi. Dia menjadi pendiri the Pre-Raphaelite Brotherhood of John Ruskin, the Metaphysical Society of Bertrand Russell, dan perkumpulan okult seperti the Golden Dawn of Aldous Huxley, dan the Theosophical Society of Madame Blavatsky.

Di Mesir, gerakan Oxford memusatkan perhatiannya dalam membentuk sebuah “reformasi” gerakan Islam, dikenal sebagai Salafi, untuk mengabdi kepada Illuminati dalam rangka memproteksi kepentingan mereka yang semakin meningkat di Terusan Suez, yang kemudian akan menjadi penting untuk pengapalan minyak ke Eropa dan ke seluruh dunia. Dalam tahun 1856, Ferdinand de Lesseps memperoleh konsesi dari Said Pasha, seorang raja muda Mesir, yang memberikan kewenangan mendirikan sebuah perusahaan untuk tujuan pembangunan sebuah terusan terbuka untuk kapal laut seluruh bangsa di dunia. Terusan tersebut mempunyai dampak kuat yang menimbulkan perubahan terhadap perdagangan dunia, memainkan perang penting dalam meningkatkan penetrasi Eropa dan kolonisasi Afrika.

Edward G. Brown
dressed as Persian
Dalam tahun 1875, hutang pengganti Said Pasha, Ismail Pasha meningkat, memaksanya menjual saham Terusan kepada Inggris. Dengan demikian, pemerintah Inggris, di bawah Benyamin Disraeli, dibiayai oleh temannya, Lionel Rothschild, mencapai hampir setengah keseluruhan jumlah saham dalam Perusahaan Terusan Suez, dan meskipun bukan merupakan kepentingan terbesar, hanya sebagai tujuan praktis untuk mengontrol kepentingannya. Sebuah komisi penyelidikan terhadap kelemahan keuangan Ismail dalam tahun 1878, dipimpin oleh Evelyn Baring, First Earl of Cromer, dan yang lainnya, telah memaksa raja muda untuk menyerahkan tanah milik bangsanya, untuk tetap berada di bawah pengawasan Inggris dan Perancis, dan menerima posisi berdaulat sesuai dengan UUD. Orang-orang Mesir yang marah bersatu diseputar Ahmed Urabi, sebuah kerusuhan yang akhirnya memberikan sebuah alasan kepada Inggris untuk bergerak dalam rangka “melindungi” Terusan Suez, diikuti oleh invasi resmi dan pendudukan yang menjadikan Mesir sebuah koloni

Agen provokator kerusuhan melawan Ismail diorganisir oleh gerakan Jamal ud Din al Afghani, pendiri apa yang disebut gerakan “pembaharuan” Salafi dalam Islam. Melalui seorang Afghani inilah misi Inggris bertindak, namun tidak hanya menggulingkan pemerintahan Mesir, tetapi juga menyebarkan pengaruh okult di seluruh wilayah Timur Tengah.

Selama 40 tahun karirnya sebagai seorang agen intelijen Inggris, Jamalludin al Afghani dibimbing oleh dua orang Inggris yang memahami soal-soal Islam dan spesialis cult, yaitu Wilfred Scawen Blunt dan Edward G. Browne. [ 4 ] E. G. Browne adalah seorang Orientalis terkemuka Inggris abad ke-19, dan anggoata diantara para anak didiknya – protégés – di Universitas Cambridge, departemen Orientalis, Harry “Abdullah” St. John B. Philby, seorang spesialis intelijen Inggris di belakang gerakan Wahhabi. Wilfred S. Blunt, anggota lainnya dari the British Orientalist school, diberikan tanggungjawab oleh the Scottish Rite Masons untuk mengorganisir loji-loji di Persia dan di Timur Tengah. Al Afghani merupakan agen utama [ 5 ]

Sedikit sekali diketahui mengenai asal-usul Jamal ud Din al Afghani. Walaupun sebutan “Afghani”, dipakai dibelakang namanya yang dengan mana ia dikenal, namun terdapat beberapa laporan bahwa ia adalah seorang Yahudi.[ 6 ] Pada sisi lain, beberapa sarjana percaya bahwa dia bukan seorang Afghan, akan tetapi seorang Syi’ah Iran. Dan meskipun menyandang sebagai seorang pembaharu ortodoks Islam, al Afghani juga bertindak sebagai juru dakwah kepercayaan Bahai, proyek pertama dari the Oxford Movement, sebuah kepercayaan yang akan menjadi jantung agenda satu agama dunia – one-world-religion – Illuminati.

Dalam tahun 1645, keluarga Afghani mendaftarkan dia pada sebuah madrasah (sekolah Islam) di kota suci Najaf, sekarang Iraq. Disana, Afghani diinisiasi menjadi anggota “the mysteries” oleh pengikut Sheikh Ahmad Ahsai. Sheikh Zeyn ud Din Ahmad Ahsai adalah pendiri the Shaikhi school. Setelah meninggal, Ahsai digantikan oleh Seyyed Mohammad Rashti, yang memperkenalkan sebuah gagasan “perfect Shiah – Shi’ah yang Sempurna, disebut Bab, artinya “pintu gerbang”, yang akan datang. Dalam tahun 1844, Mirza Mohammad Ali mengklaim sebagai Bab yang dijanjikan, dan mendirikan Babiisme, diantara para pengikutnya adalah Afghani, yang juga mempunyai hubungan keluarga tertentu.. [ 7 ]

Salah seorang pengikut Bab, Mirza Hoseyn Ali Nuri, mengumumkan bahwa dia adalah merupakan penjelmaan dari the “One greater than Himself”, yang telah diprediksikan oleh Bab, dengan diberikan gelar Baha Ullah, artinya dalam bahasa Arab “Kemuliaan Tuhan – Glory of God”. Baha Ullah merupakan keturunan dari penguasa Mazandaran, sebuah provinsi di sebelah utara Iran, berbatasan dengan Laut Kaspia di utara. Mereka adalah dinasti Ismailiah, yang melakukan perkawinan silamg dengan keturunan keluarga Bostanai, Exilarch (salah satu garis keturunan para penguasa komunitas Yahudi di Babilonia kira-kira abd ke-2 sampai abad ke-11 M)pada abad ke-7 M. [ 8 ] Menunjuk kepada dirinya sendiri, Baha Ullah menyatakan, “The Most Great Law is come – Hukum Paling Agung sudah datang”, dan Kemolekan Masa Lalu memerintah di atas singgasana Daud – and the Ancient Beauty ruleth upon the throne of David. – Jadi izinkanlah Penaku berbicara mengenai sejarah abad masa lalu – Thus hath My Pen spoken that which the histories of bygone ages have related.”

baha_ullahBaha Ullah pendiri kepercayaan Bahai, yang mencampurankan beberapa agama menjadi satu , yaitu dari Islam, Kristen, Zoroaster dan Yahudi, namun mengklaim menggantikan semua agama dalam “sebuah kepercayaan dunia”. Prinsip-prinsip dasar ajaran Bahai adalah persatuan semua agama dan persatuan umat manusia. Bahai percaya bahwa semua pendiri agama-agama besar dunia merupakan penjelmaan Tuhan dan agen-agen rencana progresif tuhan untuk pendidikan ras manusia. Karena itu menurut Bahai, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan, agama-agama besar dunia mengajarkan kebenaran yang serupa.

Meskipun demikian, kepercayaan Bahai dengan cepat mereka tidak disukai di Persia karena ajarannya yang ekstrim. Dalam tahun 1852, seorang pemimpin Bahai ditahan karena usaha pembunuhan Shah Persia, setelah gerakannya ditindas, dan banyak dari para pengikutnya dibuang ke Baghdad dan Istambul. Sepanjang kurun waktu ini, sebagaimana dilaporkan oleh Robert Dreyfuss, pimpinan Bahai tetap memelihara hubungan dekat, baik dengan Scottish Rite Freemasonry dan berbagai macam gerakan yang telah mulai menyebar di seluruh India, Kekaisaran Ottoman, Rusia dan bahkan Afrika. [9]

Al Afghani ternyata berasal dari Asadabad, sebuah kota di Persia, dekat dengan Hamadan, sebuah wilayah pemukiman Ismaili. Seperti Ismaili sebelum Afghani, ia yakin bahwa agama perlu untuk rakyat jelata, sambil mengamankan kebenaran atheisme untuk elit. Menurut Nikki R. Keddie, dalam studinya mengenai Afghani, “Banyak doktrin-doktrin esoterik Ismaili permulaan abad disajikan dengan mutu interpretasi yang berbeda dari naskah-naskah yang sama, mengikat rakyat jelata dan elit dalam sebuah rencana yang sama, jadi Jamal ud Din mempraktekan pengajaran dengan tingkat berbeda yang dapat menyatukan elit yang rasionalis dan mengikat rakyat jelata yang religious masuk ke dalam gerakan politik yang sama.[ 10 ]

Beberapa orang dari mereka yang menyaksikan Afghani mengajar dan menegaskan mengenai penyimpangannya dari ajaran ortodoks. Di anatara mereka adalah Lutfi Juma, menceriterakannya bahwa, “kepercyaannya bukan Islam yang benar meskipun dia menyampaikan ajaran Islam, dan Saya tidak bisa menilai mengenai kepercayaan para pengikutnya” Dan yang lainnya, Dr. Shibli Shumayyil, seorang pengagum Afghani, menulis bahwa ketika ia mendengar Afghani menulis sebuah tratise – buku yang membahas dengan mendalam – yang menentang “pengikut-pengikut fahan materialis” ia memberikan komentar, ” Saya terkagum-kagum, karena Saya tahu dia sebelumnya bukanlah seorang yang religius. Adalah sulit bagi Saya setelah pengalaman secara pribadi dengan dia untuk langsung memberikan penilaian mengenai apa yang Saya dengar, dan mengenai dia setelah itu, tetapi Saya lebih cenderung berpikir bahwa ia bukanlah seorang yang beriman” [ 11 ]

Disamping Afghani memperoleh banyak ilmu filsafat Islam, terutama sekali mengenai Persia, termasuk Avicenna, Nasir ud Din Tusi, dan yang lainnya, dan Sufisme. Bukti-bukti menjelaskan bahwa dia menguasai karya-karya tersebut, tetapi juga ia memperlihatkan tertarik kepada subyek-subyek okult, seperti rahasia-rahasia alfabet, kombinasi huruf, alkemi (ilmu kimia abad pertengahan) dan subyek-subyek Kabbalah lainnya. Juga Afghani memperlihatkan ketertarikannya kepada ilmu mistik, dari jenis Neoplatonic, sebuah tratise dua belas halaman mengenai Gnostikisme yang dicatat dengan tulisan tangannya.

Banyak kontroversi terhadap kegiatan Afghani selama periode tahun 1858-1865. Namun, menurut seorang biografer, Salim al Anhuri, seorang penulis yang kemudian mengenalnya di Mesir, yang pertama Afghani melakukan perjalanan di luar Iran adalah ke India. Dia pernah tinggal di sana, ia melanjutkan, disitulah Afghani memperoleh kecenderungan bid’ahnya. Dia mempelajari bidang agama yang ada kaitannya, tukas Anhuri, menjurus kepada ateisme dan panteisme. dengan His studies in religion, relates Anhuri, led into atheism and pantheism. Pada dasarnya Afghani percaya kepada filsafat yang berhubungan dengan Lurianic Kabbalah, mengenai evolusi alamiah dari alam semesta, dimana kemajuan intelektual manusia merupakan bagiannya. Sebagaimana dijelaskan Anhuri, Afghani percaya bahwa:

Manusia mulai dengan mengatakan bahwa setelah mati ia akan dipindahkan ke dalam kehidupan abadi, dan bahwa kayu atau batu yang akan membimbingnya kepada tempat tertinggi jika dia memperlihatkan catatan untuk hal itu serta memperlihatkan ketaatan terhadapnya, dan dari peribadatan seperti ini timbul pembebasan dari kepahitan pikiran mengenai sebuah kematian tanpa adanya kehidupan setelahnya. Dan nampak kepada Afghani bahwa api lebih kuat dan lebih besar dalam manfaat dan kerugian, maka dia berbalik kepadanya. Kemudian dia melihat bahwa awan lebih baik daripada api dan lebih kuat, maka dia melekatkan dirinya dan menggantungkan diri kepada mereka. Hubungan dari mata rantai ini, ditempa oleh dua alat khayal dan hawa nafsu bersama-sama dengan insting dan sifat alami manusia, diteruskan untuk meningkatkan sampai manusia memuncak dalam keadaan yang paling tinggi. Hasil daripada hukum alam adalah reaksi yang membawa kepada pembuktian bahwa semuanya yang di atas adalah pembicaraan tidak beralasan yang bermula dari hawa nafsu, dan bahwa itu tidak mempunyai kebenaran dan tidak ada definisi. [ 12 ]

Dalam tahun 1866 Afghani muncul di Qandahar, Afghanistan, kurang dari dua dekade setelah usaha Inggris gagal, bekerjasama dengan Aga Khan. Dan menurut sebuah laporan, dari seorang Afghanistan di dalam pemerintahan lokal Afghanistan, Afghani adalah:

… benar-benar ahli dalam bidang sejarah dan geografi, berbicara bahasa Arab dan Turki dengan fasih, berbicara bahasa Persia seperti orang Iran. Nampaknya ia tidak mengikuti agama tertentu. Cara hidupnya lebih menyerupai orang Eropa daripada seorang Muslim. [ 13 ]

Pada akhir tahun 1866, Afghani menjadi penasihat rahasia Azam, penguasa Afghanistan. Seorang asing bisa menduduki posisi penting dengan cepat menjadi perhatian ceritera masa kini. Beberapa sarjana berspekulasi bahwa Afghani, kemudian menyebut dirinya sendiri “Istanbuli”, ia, atau dirinya adalah seorang agen Rusia yang mampu mendapatkan dukungan uang dan politik untuk Azam dari Rusia untuk melawan Inggris, yang menyebabkan kekuasaannya berakhir. Ketika Azam menyerahkan singasananya kepada salah satu saingannya, Shir Ali, dia mencurigai Afghani, dan mengusir dari wilayahnya dalam bulan Nopember 1868.

Selama tinggal di Afghanistan, Afghani tetap memelihara hubungannya dengan Bahai, Freemasonry Inggris, dan beberapa Sufi yang berbasis di India, dimana ia juga bertemu dengan Muslim Nizari. Menurut laporan intelijen Inggris waktu itu, , selama ia melakukan perjalanan ke India, Afghani menggunakan nama Jamal ud Din Effendi. Kemudian mengunjungi Aga Khan, pimpinan Ismaili. Disamping sebagai seorang Syekh Sufi ordo Mawlavi, atau Mevlevi, yang sangat terpengaruh mistik Iran dan puisi abad ke-13, Jalal ud Din ar Rumi juga sebagai juru dakwah kepercayaan Bahai, yang konon dikirim langsung dalam misi tersebut oleh Baha Ullah sendiri..

Salah satu laporan yang dicatat tahun 1891, dari seorang muslim India yang tidak disebutkan namanya, bertindak sebagai seorang agen Inggris, yang berpura-pura menjadi pengikut Bahai dalam rangka mengumpulkan informasi yang lebih banyak, menyatakan sbb:
Berikut ini adalah isi pernyataan yang dibuat oleh seorang yang jelas mengetahui betul, seperti keadaan sebenarnya atas kehadiran Saiyid Jamal-ud-din di India, yang digambarkan oleh informan sebagai seorang Persia, namun ybs menyebut dirinya sendiri sebagai seorang Turki dari Konstantinopel.
Di kota pantai Akka (Acre?) tinggal seorang yang bernama Husen Ali, seorang Turki, yang menyebut dirinya sebagai Baha-ullah Effendi alias Jamal Mubarik (the Bless Beauty). Orang ini menyatakan bahwa semua agama adalah jelek, dan mengatakan bahwa dia sendiri adalah Tuhan. Dia memurtadkan sejumlah orang memeluk agama Bahai dan mengumpulkannya di Baghdad. Kira-kira empat tahun lalu mereka memberontak melawan Shah, tetapi mereka ditindas dan secara perlahan-lahan keluar dari Persia pindah ke Turki di Asia. Baha-ullah sekarang berada dalam pengawasan di Akka, disebut “Az Maksud” [Ar Maqud, sebuah istilah umum diantara penganut Bahai Iran untuk menyebut Tanah Suci] oleh orang-orang murtad.. Agen-agen Balla-ullah pergi ke seluruh dunia dan berusaha keras untuk meyakinkan semua orang bahwa mereka sedang dikunjungi oleh utusan-utusan Tuhan., dan pengikutnya akan menjadi penguasa-penguasa di muka bumi. Anak laki-laki Baha-ullah, Muhammad Ali, berkunjung ke Bombay dalam rangka misi ini, dan kemudian kembali ke Akka. Para agennya ditugaskan dimana-mana, Saiyid Jamal-ud-din termasuk salah seorang dari agennya.
Dia datang ke Kailaspur dan tinggal selama 10 hari bersama saya. Dia menceriterakan semua mengenai Baha-ullah kepada saya dan misinya, dan mengusulkan untuk menunjuk saya menjadi agennya, dan mengajak saya pergi ke Bombay untuk bertemu dengan Muhammad Ali. Saya menyetujuinya untuk menjadi murid Baha-ullah dalam rangka menemukan mengapa in order to discover mengapa Saiyid Jamal-ud-din datang ke India. Saya setuju menjadi agennya untuk alasan yang sama, dan dia sekarang sering menulis surat kepada saya. Saya tidak menyimpan surat-suratnya, namun bisa di dapat bila diinginkan. Sekarang dia berada di Farukhabad, dan Saya percaya bahwa dia sudah memurtadkan sejumlah orang-orang yang kemudian mengikuti Bahai di India. Dia mempunyai banyak uang dan memnelanjakannya dengan sesuak hatinya, berpergian naik kereta api dengan kelas utama. Di Bombay ada seorang bernama Agha Saiyid Mirza [Afnan], seorang pedagang dari Shiraz, yang memberi dia uang yang banyak. [ 14 ]
… Pada tanggal 21 September 1891, informan yang sama menulis surat langsung kepada Jenderal Supdt., Departmen T. dan D. [Pengawasan Umum, Departemen Thagi dan Dakaiti, bertanggungjawab memonitor para penjahat dan pembuat kerusuhan – General Superintendent, Thagi and Dakaiti Department, responsible for monitoring criminals and trouble-makers], sebagai berikut:­ “Orang bernama Saiyid Jamal-ud-din Shah bukan ‘Rumi,’ dia seorang yang berasal dari Astrabad Mazinderan di Persia, dan namanya adalah Mirza Muhammad Ali. Dia bukan pengikut ajaran Muhammad [Muslim] tetapi seorang “Babi,” dan kantor pusatnya di Akka, Palestine. [ 15 ]

 

Kemudian Afghani muncul di Istanbul dalam tahun 1870, dibawa ke sana oleh Ali Pasha, seorang Freemason, dan Grand Vizier selama lima kali semasa Sultan Abdul Majid dan Sultan Abdul Aziz berkuasa. Afghani sangat tidak disukai oleh para alim ulama karena pandangan-pandangan bid’ahnya, oleh karena itu Hasan Fahmi, seorang sarjana terkemuka pada waktu itu, dan Syekh al-Islam dari Kekaisaran Ottoman, menyampaikan sebuah Fatwa yang mengumumkan bahwa Afghani seorang kafir, dan kemudian dia diusir dari Turki.

Dalam tahun 1871 Afghani pergi ke Kairo, disponsori oleh Perdana Menteri Mustafa Riad Pasha, yang pernah bertemu dengan Afghan di Istanbul, dan menempatkannya dalam pekerjaan dengan gaji yang besar, dan menunjuknya menduduki jabatan yang bergengsi di Universitas Islam Al Azhar. Pada mulanya, Afghani tetap secara ketat ortodoks, tetapi dalam tahun 1878, dia pindah ke perkampungan Yahudi di Kairo, dimana di sana ia mulai membuka organisasi politik. Kemudian Afghani mengumumkan pembentukkan the Arab Masonic Society. Meskipun kepada umum diketahui sebagai Islam ortodoks, para anggota lingkaran dalam Afghani menunjukkan dengan jelas ketaatannya kepada Gnostisisme Ismailia. Afghani menyebut kepada persaudaraan Masoniknya sebagai ikhwan al saffa wa khullan al wafa, yang sengaja mereferensi kepada persaudaraan Ismailia yang menggunakan nama yang sama pada abad-ke-10.[ 16 ]

Dengan bantuan Riad Pasha dan Kedutaan Besar Inggris, Afghani mereorganisasi the Scottish Rite dan Grand Orient lodges of Freemasonry, dan mulai mengorganisir disekitar dia sebuah jaringan terdiri dari beberapa negara Islam, terutama sekali Syria, Turki, dan Persia. [ 17 ] Setelah beberapa tahun kemudian gerakan Afghani memikat pengikutnya, dari kalangan penulis muda dan aktivis, diantaranya adalah Mohammed Abduh, yang sudah menjadi pimpinan apa yang sering dianggap sebagai gerakan “modernis” dalam Islam, dengan kata lain dikenal sebagai Salafi, dan Sad Pasha Zaghlul, yang mengaku dirinya seorang Freemason, serta pendiri Wafd, Partai Nasionalis Mesir. [ 18 ]

The Hermetic Brotherhood of Luxor

Afghani mengakui sebagai seorang representasi dari sebuah perkumpulan rahasia misterius Egyptian quasi-Masonic, seperti yang diduga mewakili pengajaran peninggalan Sabiin yang masih dipertahankan dari the Grand Lodge of the Ismailis of Cairo, yang menjadi dikenal diantara pengilut okult Barat sebagai the Hermetic Brotherhood of Luxor (H.B. of L.), juga ternyata juga yang mulanya dipengaruhi dibelakang pembentukkan Samuel Honis’ Rite of Mizraim.

Salah seorang teman Afghani yang paling dekat adalah James Sanua. Sanua dilahirkan di Kairo dari keluarga yang berhubungan erat dengan keluarga Yahudi Italia yang berasal dari Yahudi Sephardic. Sanua dibesarkan sebagai Yahudi oleh ayahnya, yang lahir di Italia, dan kemudian menjadi penasihat penting bagikeluarga kerajaan Mesir. Sebagai tambahan sebagai seorang yang dibesarkan dilingkugan keluarga Yahudi, dan menguasai delapan bahasa asing, Sanua begitu menguasai dengan baik Qur’an dan adat-istiadat Islam yang mendapatkan untuk dirinya gelar “sheikh”, sebuah faktor yang menjurus kepada desas-desus mengenai kepindahan agamanya kepada Islam.

Semasa mudanya Sanua belajar di Italia, disana ia berkenalan dengan gagasan Giuseppe Mazzini. Ketika ia kembali ke Cairo, dia dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya mengajarkan ajaran Mazzini. Sanua juga bertanggungjawab atas pendirian yayasan teater Mesir Modern, yang mempelopori industri perfilman. Namun demikian, peranannya mengundang kecurigaan di mata pihak berwenang Mesir. Dan ketika ia mengetahui adanya persekongkolan untuk meracuninya, ia terbang ke Perancis, di sana dia lebih menyukai dikenal sebagai Abu Naddara. Di Paris, Sanua mendirikan sebuah jurnal yang didedikasikan terhadap prinsip, yang utamanya kepada Bahai, mengenai sebuah one-world-religion – satu-agama-dunia, seringkali menyajikan tulisan-tulisan Afghani.

Pacar Sanua, Lydia Pashkov adalah wanita asal Rusia dan nekerja sebagai wartawan di harian Le Figaro di Paris. Melalui hubungan dengan mereka, Afghani menjadi bersahabat dengan direktur kantor pusat regional Illuminati di bagian selatan Lebanon, seperti Sheik Medjuel el-Mezrab, yang menikah dengan seorang Inggris who married British dilettante,- pencinta kesenian untuk hiburan – Jane Digby, dan Lydia Pashkov. Antara tahun 1870 dan 1875, nampaknya Illuminati memulai sebuah proyek yang meniru the Italian Carbonari di seluruh negara di Timur Tengah. [ 19 ]

Baik Sanua maupun Lydia Pashkov adalah juga temannya Helena P. Blavatksy yang suka melakukan perjalanan bersama-sama. yang pada tahun 1856, Mazzini diinisiasi ke dalam the Carbonari. Helena P. Blavatsky, medium dan mistis yang terkenal, adalah the godmother dari kebangkitan okult dalam akhir abad ke-19. Setelah menulis karya-karya yang monumental seperti Isis Unveiled, dan The Secret Doctrine, the Theosophical Society dibentuk dalam tahun 1875, untuk menyebarkan ajarannya ke seluruh dunia. Dalam The Theosophical Society terdapat anggota Freemasonry, yaitu Henry Steel Olcott dan George H. Felt yang ditunjuk kemudian sebagai presiden dan wakil-presiden. Diantara angota-anggota paling awal termasuk juga Albert Pike. Menurut Manly P. Hall, seorang ahli sejarah terkemuka Masonic, menjelaskan:

The Secret Doctrine dan Isis Unveiled merupakan hadiah dari Madame Blavatsky untuk umat manusia, dan kepada mereka yang visinya dapat menembus awan ancaman malapetaka yang sudah diambang pintu, adalah tidak berlebihan untuk menyatakan bahwa tulisan-tulisan ini merupakan bacaan paling penting yang dikontribusikan kepada dunia modern. Tidak akan bisa mereka dibandingkan dengan buku-buku yang lain, dapatkah cahaya matahari dibandingkan dengan lampu glowworm – ulat yang berkelap-kelip. The Secret Doctrine adalah jelmaan kemuliaan dari sebuah kitab suci. [ 20 ]

Blavatsky mengklaim menerima tanzil dari “Secret Chiefs”, atau ruh “Ascended Masters”, yang membantu umat manusia untuk meningkatkan dirinya menjadi sebuah ras yang super. Pada awalnya Blavatsky memberikan nama kepada para Masternya,seperti “Tuitit Bey”, “Serapis Bey”, dan “Hilarion”, yang nama-nama tersebut diakui milik the “Brotherhood of Luxor”. Menurut Joscelyn Godwin, dalam The Theosophical Enlightenment, jika kita menginterpretasikan the “Brotherhood of Luxor” sebagai sekelompok kecil penganut okult dimana Blavatsky bergabung dengan mereka di Mesir, maka kita dapat menganggap bahwa Jamal ad-Din al Afghani merupakan salah seorang daripada anggotanya.. [21 ]

Meskipun tidak terdapat bukti langsung bahwa Blavatsky telah bertemu dengan Afghani, menurut K. Paul Johnson, dalam The Masters Revealed, kenyataan akan menunjukkan terjadinya kontak. Tidak hanya Afghani yang akrab dengan teman-temannya Sanua dan Pashkov, tetapi dia dengan Blavatsky, kedua-duanya berada di India antara tahun 1857 dan 1858, demikian juga kedunya berada di Tbilisi dalam pertengan 60-an, dan keduanya berada di Cairo dalam tahun 1871. Lagi-lagi Afghani meninggalkan Mesir menuju ke India pada akhir tahun 1879, dimana pada tahun yang sama Blavatsky dan Olcott tiba di sana. Setelah meninggalkan India pada akhir tahun 1882, Afghani tinggal di Paris sepanjang tahun 1884, dimana Blavatsky pada tahun itu menghabiskan waktunya di sana.

Melalui Jamal ud Din al Afghani, Blavatsky memperoleh doktrin-doktrin sentral, derivasi dari Ismailisme, yang kemudian dia menghubungi komunitas okult Barat. SebagaimanaJohnson menjelaskan, dalam tulisan Blavatsky, The Eastern Gupta Vidy dan the Kabbalah, dia mengklaim the “real Kabbalah” ditemukan di dalam buku the Chaldean Book of Numbers. Meskipun buku tersebut tidak diketahui oleh para sarjana, Blavatsky sering mengutip buku ini di dalam buku besarnya, Isis Unveiled dan The Secret Doctrine.

Dia mengklaim telah menerimanya dari seorang “Sufi dari Persia”, dan sebagaimana juga dijelaskan oleh K. Paul Johnson, Afghani hampir bisa dipastikan sebagai sumbernya.

Menurut Johnson, sebua h struktur penting dalam doktrin Blavatsky hanya dapat menunjuk kepada satu sumber, yang juga berhubungan dengan gagasan pengikut okult lainnya, Gurdjie ff: Ismaili Gnosticism. The Chaldean Book of Numbers mengajarkan sebuah kosmologi tujuh lapis mirip dengan elektrik mistikisme Ismaili.

…adalah merupakan petunjuk penting yang menunjuk kepada gnosisi Ismaili sebagai sebuah sumber penting baik bagi Blavatsky maupun Gurdjieff. Henri Corbin’s dalam Cyclical Time and Ismaili Gnosis menjelaskan sebuah doktrin proses evolusi kosmik tujuh lipat, diulang kembali di dalam sebuah skema sejarah tujuh lipat, paralel dengan sebuah tujuh lipats jalan inisiasi untuk adept-ahli individu. Ini sepadan sekali dengan surat-surat Mahatma [dari Blavatsky] yang mengajarkan bahwa “tingkatan seorang Adept-ahli diinisiasi dengan lambang tujuh tahap dimana ia menemukan rahasia dari prinsip-prinsip tujuh lipat secara alami dan manusia membangunkan kekuatan-kekuatan yang tidak aktif.” Doktrin Kehidupan kembali – Resurrection – membutuhkan arti yang spesifik dalam gnosis Ismaili yang menghubungkannya kepada pengajaran Blavatsky. Setiap prinsip-prinsip tujuh dari individu adalah “dibangkitkan” dari pengaruh prinsip berikutnya yang lebih tinggi. HPB tujuh lipat menguraikan prinsip-prinsip manusia yang disuguhkan juga secara bervariasi seperti Chaldean, Tibet, dan Chaldeo-Tibet. Tetapi faktanya analogi sejarahnya yang terdekat adalah Ismaili. [ 22 ]

Max Theon

Ajaran Blavatsky juga mempengaruhi penentuan sebuah perkumpulan rahasia terkemuka yang dikenal sebagai the Golden Dawn, yang muncul ke luar karena kontak Afghani dengan pimpinan Egyptian Rite Freemasonry. Setelah bergerak di dalam tanah selama beberapa waktu, sampai tahun 1848, the “Year of Revolutions”, the Egyptian Rite of Freemasonry kemudian dihidupkan kembali kegiatannya di Paris dan dalam tahun 1856 juga didirikan di Mesir, Amerika, Romania dan negara-negara lainnya. Dalam tahun 1872, ketika the Egyptian Rite yang dikenal sebagai the Ancient and Primitive Rite, the Grand Mastership dari ordo ini dijabat oleh John Yarker, yang dilimpahkan kepadanya oleh Marconis de Negre. Yarker juga akrab dengan Blavatsky, bertemu di Inggris tahun 1878, dan menemuinya untuk merundingkan dengan Blavatsky mengenai sebuah inisiasi Masonic, meskipun terdapat upaya-upaya menyalahkan keterlibatannya dalam Freemasonry.

Di Paris, Yarker bertemu dengan Pascal Beverly Randolph, seorang okultis Africa-Amerika yang mengadakan perjalanan ke Mesir, dimana dia where he was supposedly initiated by a secret priestess of the Ismaili Muslims. Paschal Randolph was a noted medium, healer, occultist and author of his day, and also counted among his personal friends Bulwer-Lytton. Randolph’s Brotherhood of Eulis claimed descent from the Rosicrucian Order, by charter of the “Supreme Grand Lodge of France”, and taught spiritual healing, western occultism and principals of race regeneration through forms of sex magic. Through Randolph, Yarker passed on the tradition of the Hermetic Brotherhood of Luxor, that was reborn as the Hermitic Brotherhood of Light, a continuation of the Frates Lucis, or Asiatic Brethren.

Dalam tahun 1873, Carl Kellner, seorang rekan Randolph, salah seorang dari para pengikut okult yang berhubungan dengan Freemasonry Mesir, yang melakukan perjalanan ke Cairo pada waktu kegiatan al Afghani. Di Mesir untuk pertama kali bertemu dengan seorang muda misterius, menyandang nama Aia Aziz, juga dikenal sebagai Max Theon. Sebenarnya, Max Theon adalah anak dari pemimpin terakhir sekte Frankist, Rabbi Bimstein dari Warsawa, Polandia.

Max Theon melakukan perjalanan kemana-mana, dan di Cairo bekerja dengan Blavatsky, juga menjadi seorang murid Paulos Metamon, seorang “tukang sihir Coptic”. Paulos Metamon juga merupakan “Master” Blavatsky pertama, yang bertemu di Asia Minor dalam tahun 1848, kemudian bertemu lagi di Cairo dalam tahun 1870, dialah yang memperkenalkan Blavatsky kepada the Hermetic Brotherhood of Light. Yang menarik adalah, kosmologi tujuh lipat Ismailisme ternyat sudah terbiasa bagi Theon dan Blavatsky. Dalam tahun 1873, Metamon menyerahkan the Grand Mastership kepada Aziz, yang menggunakan nama Max Theon, kemudian pindah ke Inggris untuk menyebarluaskan ordo yang sama.

Adalah Carl Kellner dan Thoedore Reuss, anggota lainnya dari Bulwer-Lyttons’ Societas Rosicruciana di Anglia, yang menggabungkan ritus Egyptian Rite Freemasonry, yang diizinkan kepada Reuss oleh John Yarker untuk membawa rahasia orang dalam dari the Hermetic Brotherhood of Luxor. Mengenai Kellner, Reuss menulis:

 

Selama melakukan perjala nannya yang sering dan ekstensif di Eropa, Amerika dan Timur Jauh, Bro. Kellner melakukan kontak dengan sebuah organisasi yang disebut The Hermetic Brotherhood of Light. Dorongan yang dia peroleh melalui hubungannya dengan wadah ini, juga kenyataan-kenyataan yang tidak bisa disebutkan disini, hingga menyebabkan Bro. Kellner’s berkeinginan untuk mendirikan sejenis Academia Masonica yang akan memungkinkan saudara seiman yang sedang mencari-cari dapat mengenal semua tingkat dan sistem Masonic yang ada. Dalam tahun 1895 Bro. Kellner mendiskusikan secara panjang lebar dengan Bro. Reuss di Berlin mengenai bagaimana gagasan ini dapat direalisasikan.. Sewaktu dalam pembicaraan dengan Bro. Reuss ia tidak menyetujui usul mengenai nama Academia Masonica dengan memberikan alasan -alasan termasuk dokumentasi, menyarankan untuk memakai nama Oriental Templars. Namun pada waktu itu, yakni dalam tahun 1895 perundingan-perundingan ini tidak membawa hasil yang positif karena Bro. Reuss kemudian disibukkan dengan menggiatkan kembali Ordo Illuminati dan Bro. Kellner tidak bersimpati terhadap organisasi ini atau terhadap orang-orang yang aktif di dalamnya bersama-sama dengan Bro. Kellner. [ 23 ]

 

Adalah John Yarker yang diduga menyiapkan sebuah piagam untuk mendirikan the Ordo Templi Orientis, atau O.T.O., yang dipengaruhi oleh Reuss, yang berusaha untuk menghidupkan kembali tradisi-tradisi dari the Ancient Mysteries, the Knights Templars, the Freemasons, Rosicrucians dan the Illuminati. Ordo Templi Orientis berarti “Order of Eastern Templars”, yang mengacu kepada the Johannite myth dari Sabian atau pengaruh Ismaili. Lingkaran dalam okult the O.T.O. akan di atur paralel dengan tingkat tertinggi dari Egyptian Rite Masonry, dan doktrin-doktrin esoterik Rosicrucian dari the H.B. of L.

 

Ketua O.T.O., Reuss, kemudian digantikan oleh Aleister Crowley yang terkenal karena kejahatannya. Aleister Crowley menyandang gelar tingkat ke-33 Mason dari the Scottish Rite, juga seorang anggota dari the Isis-Urania Temple of Hermetic Students of the Golden Dawn. Disingkat menjadi The Golden Dawn, ordo ini didirikan dalam tahun 1888, oleh Bulwer-Lytton, seorang Masons dan anggota dari the Societas Rosicruciana di Anglia. Kult Isis ini dibentuk sekitar tahun 1877 yang diorganisir berdasarkan naskah Isis Unveiled karya Helena Blavatsky. Anggota-anggota The Order of the Golden Dawn diantaranya termasuk William Butler Yeats, Maude Gonne, istri Oscar Wilde, dan Arthur Edward Waite. The Golden Dawn pada waktu itu dipimpin oleh McGreggor Mathers, yang melacak spiritual leluhur ordonya sampai kepada ordo the Rosicrucians, dan dari sana, melalui Kabbalah sampai ke Mesir Kuno. Dan sewaktu di Mesir dalam tahun 1904, dimana Crowley melakukan kontak dengan wujud makhluk bernama Aiwass, yang mendiktekan kepadanya untuk isi bukunya yang kemudian diberi judul Book of the Law, berisi a.l. semboyan terkenal dari okultisme modern, “Do what thou wilt shall be the whole of the Law.”

The Salafi

Setelah Afghani meninggalkan Mesir, muridnya, Mohammed Abduh, dengan alasan yang tidak dapat dijelaskan ditunjuk sebagai the chief editor publikasi resmi pemerintah Mesir yang dikontrol Inggris, the Journal Officiel. Bekerja dibawah Abduh seorang temannya anggota Freemason, Saad Zaghul, yang kemudian mendirikan Partai Nasionalis Wafd. Dalam tahun 1883, Abduh bergabung dengan Afghani di Paris, dan kemudian pergi ke London, di sana ia mengajar di Oxford dan Cambridge, serta berkonsultasi dengan pejabat-pejabat Inggris mengenai krisis di Sudan melawan Mahdi.

Di Paris dan London, Abduh membantu Afghani dalam mengatur jurnal berbahasa Perancis dan bahasa Arab di Paris, yang disebut Al Urwah al Wuthkah, atau the “Indissoluble Bond”, juga sebuah nama organisasi rahasia yang dia dirikan dalam tahun 1883. Diantara anggota-anggota Afghani di Paris adalah orang-orang Mesir, Turki, India, Siria, Afrika Utara dan banyak juga mereka yang beragama Kristen serta Yahudi, dan Bahai Persia, yang diusir dari Timur Tengah.

Ketika Perancis menekan Al-Murwah al-Wuthkah, Abduh mengadakan perjalanan ke seluruh negara-negara Arab selama beberapa tahun, dibawah berbagai penyamaran, terutama di Tunis, Beirut, dan Siria. Di setiap kota, dia mencoba merekrut orang-orang untuk menjadi anggota perkumpulan rahasia fundamentalisme Afghani. [ 24 ]

Seperti gurunya, Abduh bergabung dengan gerakan Bahai yang sudah berupaya dengan hati-hati dalam menyebarkan kepercayaannya ke Mesir. Bahai mulai didirikan di Alexandria dan Cairo dalam tahun 1860. Abduh bertemu dengan Abdul Baha ketika dia mengajar di Beirut, dan keduanya mulai bercengkrama dengan sangat bersahabat, dan keduanya menyetujui falsafah sebuah agama dunia – one-world-religion philosophy. [ 25 ] Memuji keutamaan Abdul Baha dalam ilmu agama dan diplomasi, Abduh mengatakannya bahwa “[dia] lebih dari itu. Sesungguhnya ia seorang besar, dialah orangnya yang patut mendapatkan nama kehormatan yang diterapkan kepadanya.”[26]

Rashid Rida

Abduh dike nal dengan pandangan reformasinya mengenai Islam. Akan tetapi, dalam How We Defended Orabi, A.M. Broadbent menyatakan bahwa, “Sheikh Abdu bukan seorang fanatik yang berbahaya atau seorang yang beragama dengan antusias, dia termasuk orang yang paling luas pemikirannya dalam Islam, berpegang kepada sebuah keyakinan politik serupa dengan republikanisme murni, dan seorang Master of a Masonic Lodge yang bersemangat.” [ 27 ] Seperti pengikut Ismaili sebelumnya, dia akan meningkatkan murid- muridnya secara progresif masuk jauh ke dalam derajat bid’ah. Kepada initiates yang lebih tinggi, dia akan mengungkapkan doktrin-doktrin the Scottish Rite dan falsafah one-world government – satu-agama-dunia. Meskipun demikian, kepada mereka yang Abduh anggap lebih bersedia, dia akan memperkenalkannya sebagai seorang pejabat intelijen Inggris dari London. [ 28 ]

Dari tahun 1888, sampai dengan kematiannya dalam tahun 1905, Abduh secara tetap berkunjung ke rumah kediaman dan kantor Lord Cromer. Dalam tahun 1892, dia ditunjuk untuk melaksanakan administrasi Komite Mesjid dan Universitas Al Azhar, lembaga pendidikan Islam paling bergengsi, dan universitas tertua di dunia. Dari jabatan tersebut dan karena reputasi Al Azhar, dia mengatur keseluruhan sistem Islam di Mesir dan banyak dari dunia Islam juga.

Dalam tahun 1899, Lord Cromer, mengangkat Abduh sebagai Mufti Besar Mesir. Abduh sekarang kepala otoritas hukum Islam, juga sebagai the Masonic Grand Master of the United Lodge of Egypt. Lord Cromer adalah seorang anggota penting dari keluarga perbankan England’s Baring, yang menjadi kaya raya dari hasil perdagangan opium di India dan Cina. Motif Lord Cramer menjadikan Abduh sebagai yang paling berkuasa dalam semua urusan mengenai Islam adalah untuk merubah hukum Islam yang melarang bunga bank, Abduh kemudian mengupayakan sebuah penafsiran Qur’an, untuk menciptakan jalan yang diperlukan untuk memberikan kebebasan kepada bank-bank Inggris berkuasa di Mesir. Mengenai Abduh, Lord Cromer menceriterakan, “Saya curiga teman saya Abduh dalam realitasnya seorang agnostic – orang yang tidak peduli adanya Tuhan – I suspect my friend Abduh was in reality an agnostic,” dan dia mengatakan gerakan reformasi Salafi yang dipimpin Abduh, bahwa “Mereka adalah sekutu alamiah dari reformer Eropa They are the natural allies of the European reformer.” [ 29 ]

Gerakan Salafi kemudian bersekutu dengan Wahhabi dari Saudi Arabia, melalui anggota Freemason, Mohammed Rashid Rida, yang setelah kematian Afghani dalam tahun 1897, dan Abduh dalam tahun 1905, menjabat pemimpin Salafi, Rida menjadi anggota the Indissoluble Bond pada usia muda. Dia dipromosikan Afghani melalui perkumpulan Masonic dengan membaca Al-Urwah al Wuthkah, yang kemudian dia mengakui sangat besar pengaruhnya dalam kehidupannya. Rida tidak bertemu Afghani, tetapi pada tahun 1897, dia pergi ke Mesir untuk belajar bersama Mohammed Abduh. Meskipun Rida tidak berbagi menggagas opini mengenai gerakan Bahai, hanya karena melalui pengaruhnya saja gerakan Salafi menjadi kuat bersekutu dengan Negara Saudi Arabia.

Footnotes:

[1] Dreyfuss, Hostage to Khomeini , p. 113. [ pdf ]
[2] Hansard’s Parliamentary Debates , quoted from Paul A. Fisher, Their God is the Devil , pp. 18-19.
[3] Ruggiu, Jean-Pascal. “ Rosicrucian Alchemy and the Hermetic Order of the Golden Dawn ”.
[4] Dreyfuss, Hostage to Khomeini . p. 118.
[5] Ibid . p. 123 and 121.
[6] Ibid . p. 118.
[7] Nikki Keddie, Sayyid Jamal ad-Din “al Afghani”: A Political Biography , Berkeley, CA: University of California Press, (1927) p. 87
[8] David Hughes, Davidic Dynasty .
[9] Nikki Keddie, Sayyid Jamal ad-Din “al Afghani”: A Political Biography p. 116.
[10] Ibid . p. 87.
[11] Ibid . p. 91.
[12] Ibid .
[13] Ibid . p. 45.
[14 North West Province Special Branch, 29 August 189. quoted from Momen, Moojan, “ Jamal Effendi and the early spread of the Bahai Faith in Asia ”, Bahai Studies Review, Volume 8, 1998.
[15] (C.S.B.) Report of D.E. McCracken , dated 14 August 1897, in file Foreign: Secret E, Sept. 1898, no. 100, pp. 13-14; national archives of the government of India, New Delhi.
[16] Raafat, Samir. “ Freemasonry in Egypt: Is it still around? ” Insight Magazine, March 1, 1999.
[17] Dreyfuss, Hostage to Khomeini , p. 122.
[18] Ibid . p. 122.
[19] 1941: Iraq and the Illuminati .
[20] Manly P. Hall (33rd degree mason), “The Phoenix, An Illustrated Review of Occultism and Philosophy”, 1960 The Philosophical Research Society , p. 122
[21] p. 280
[22] The Masters Revealed , p. 146.
[23] Howe, Ellic, Theodor Reuss: Irregular Freemasonry in Germany, 1900-23, 16 February 1978; Grand Lodge of BC and Yukon, Ars Quatuor Coronatorum , ” Theodor Reuss: Irregular Freemasonry in Germany, 1900-23 “.
[24] Dreyfuss, Hostage to Khomeini , p. 136.
[25] Ibid. p. 279.
[26] Cole, Juan R. I. “ Rashid Rida on the Bahai Faith: A Utilitarian Theory of the Spread of Religions ”, Arab Studies Quarterly 5, 3 (Summer 1983): 278.
[27] Raafat, Samir. “ Freemasonry in Egypt: Is it still around? ” Insight Magazine, March 1, 1999.
[28] Dreyfuss, Hostage to Khomeini , p. 136.
[29] Goodgame, Peter. The Muslim Brotherhood: The Globalists’ Secret Weapon .

Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info

Inilah Wajah Leluhur Kami ( Fatwa M. Abduh ).

 .

Untuk meletakkan wajah manusia pada nenek moyang kita, para ilmuwan dari Research Institute Senckenberg menggunakan metode canggih untuk membentuk 27 model kepala berdasarkan fragmen tulang kecil, gigi dan tengkorak yang dikumpulkan dari seluruh dunia.

Kepala berada di layar untuk pertama kalinya bersama di Museum Sejarah Alam Senckenberg di Frankfurt, Jerman.

Model ini tchadensis Sahelanthropus, juga dijuluki “Toumai,” yang hidup 6,8 juta tahun yang lalu. Bagian dari tulang rahang dan gigi ditemukan sembilan tahun yang lalu di gurun Djurab di Chad. Itu salah satu spesimen hominid tertua yang pernah ditemukan.

.

Australopithecus afarensis

Dengan setiap penemuan baru, paleoanthropolog harus menulis ulang asal usul nenek moyang manusia, menambahkan tentang cabang-cabang baru dan pelacakan ketika spesies split.

Model ini dibuat dari potongan tengkorak dan rahang ditemukan di antara sisa-sisa 17 pra-manusia (sembilan orang dewasa, tiga remaja dan lima anak-anak) yang ditemukan di wilayah Afar, Ethiopia pada tahun 1975.

Spesies manusia-kera, Australopithecus afarensis, diyakini memiliki hidup 3,2 juta tahun yang lalu. Beberapa tulang lebih banyak dari spesies ini telah ditemukan di Ethiopia, termasuk terkenal “Lucy,” A. hampir lengkap afarensis kerangka yang ditemukan di Hadar

.

Australopithecus africanus

Bertemu “Mrs prinsip keuangan,” julukan populer untuk tengkorak paling lengkap dari Australopithecus africanus, digali di Sterkfontein, Afrika Selatan pada tahun 1947.

Hal ini diyakini dia hidup 2,5 juta tahun yang lalu (walaupun jenis kelamin dari fosil ini tidak sepenuhnya tertentu).

Kristal ditemukan di tengkoraknya menunjukkan bahwa dia meninggal setelah jatuh ke dalam lubang kapur, yang kemudian diisi dengan sedimen.

A. africanus telah lama para ilmuwan bingung karena rahang besar dan gigi, tetapi mereka sekarang percaya desain tengkorak spesies ‘adalah optimal untuk cracking dan kacang.

.

Paranthropus aethiopicus 

Tengkorak ini jantan dewasa ditemukan di pantai barat Danau Turkana di Kenya pada tahun 1985. Bentuk mulut menunjukkan bahwa ia memiliki gigitan yang kuat dan dapat mengunyah tanaman.

Dia diyakini telah hidup dalam 2,5 juta tahun yang lalu dan diklasifikasikan sebagai aethiopicus Paranthropus. Banyak yang masih belum diketahui mengenai spesies ini karena reamins begitu sedikit dari P. aethiopicus telah ditemukan.

.

Paranthropus boisei

Peneliti berbentuk tengkorak ini “Zinj,” ditemukan pada tahun 1959. Laki-laki dewasa hidup 1,8 juta tahun yang lalu di Gorge Olduvai Tanzania.

Nama ilmiah Nya Paranthropus boisei, meskipun ia awalnya bernama boisei Zinjathropus – maka julukan.

Pertama kali ditemukan oleh antropolog Mary Leakey, yang tengkorak terawat baik memiliki rongga otak kecil.

Dia akan makan biji-bijian, tanaman dan akar yang mungkin digali dengan tongkat atau tulang.

.

Homo rudolfensis

Model spesies sub-manusia – Homo rudolfensis – dibuat dari potongan tulang ditemukan di Koobi Fora, Kenya, pada tahun 1972.

Laki-laki dewasa diyakini telah hidup sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Dia menggunakan alat-alat batu dan makan daging dan tanaman.

Ciri pembeda H. rudolfensis ‘termasuk wajah, datar yang lebih luas dan gigi postcanine yang lebih luas, dengan mahkota yang lebih kompleks dan akar. Ia juga diakui sebagai memiliki tengkorak lebih besar dari orang-orang sezamannya.

.

Homo ergaster

Kerangka hampir sempurna terpelihara dari “Turkana Boy”adalah salah satu penemuan paling spektakuler di paleoantropologi. Dilihat dari anatomi nya, para ilmuwan percaya ini ergaster Homo seorang pemuda tinggi sekitar 13 sampai 15 tahun.

Menurut penelitian, anak itu meninggal di samping sebuah delta sungai yang dangkal, di mana ia ditutupi oleh endapan aluvial.

Membandingkan bentuk tengkorak dan gigi, ergaster H. memiliki struktur kepala mirip dengan Homo erectus Asia.

.
Homo heidelbergensis

Ini laki-laki dewasa, heidelbergensis Homo, ditemukan di dalam Sima de los Huesos, Spanyol pada tahun 1993. Dilihat oleh tengkorak dan tengkorak, ilmuwan yakin dia mungkin meninggal karena infeksi besar yang menyebabkan deformasi wajah.

Model, ditampilkan di sini, tidak termasuk deformitas.

Spesies ini diyakini sebagai nenek moyang Neanderthal, seperti yang terlihat dalam bentuk wajahnya.

“Miquelon,” julukan “5 Atapuerca”, hidup sekitar 500.000 sampai 350.000 tahun yang lalu dan fosil spesies ini telah ditemukan di Italia, Prancis dan Yunani.

  .
Homo neanderthalensis 

“Manusia Lama La Chapelle” diciptakan kembali dari tengkorak dan rahang dari seorang laki-laki Homo neanderthalensis ditemukan di dekat La Chapelle-aux-Saints, di Perancis pada tahun 1908. Dia hidup 56.000 tahun yang lalu.

Nya usia relatif tua, diperkirakan antara 40 sampai 50 tahun, menunjukkan dia diurus dengan baik oleh klan.

Kerangka pria tua itu menunjukkan ia menderita dari sejumlah penderitaan, termasuk radang sendi, dan memiliki banyak patah tulang.

Para ilmuwan di pertama tidak menyadari usia dan keadaan menderita spesimen ini ketika ia pertama kali ditemukan. Hal ini menyebabkan mereka untuk salah berteori bahwa Neanderthal laki-laki membungkuk ketika mereka berjalan.

.

Homo floresiensis

Tengkorak dan rahang dari “hobbit” perempuan ditemukan di Liang Bua, Flores, Indonesia, pada tahun 2003. Dia sekitar 1 meter tinggi (sekitar 3’3 “) dan tinggal sekitar 18.000 tahun yang lalu.

Penemuan spesies-nya, Homo floresiensis, dipertanyakan keyakinan bahwa Homo sapiens adalah satu-satunya bentuk manusia selama 30.000 tahun terakhir.

Para ilmuwan masih memperdebatkan apakah Homo floresiensis adalah spesies sendiri, atau hanya sekelompok manusia modern sakit. Semakin terbukti bahwa makhluk kecil itu, pada kenyataannya, sebuah spesies manusia yang berbeda.

.

Homo sapiens

Tulang hanya bisa memberitahu kita begitu banyak. Para ahli sering beranggapan atau membuat dugaan untuk mengisi kesenjangan dalam pohon keluarga manusia, dan untuk mengembangkan rasa apa yang nenek moyang kita mungkin tampak seperti.

Dilihat dari tengkorak dan fragmen mandibula ditemukan di sebuah gua di Israel pada tahun 1969, ini Homo Sapien perempuan muda hidup antara 100.000 dan 90.000 tahun yang lalu. Tulang nya menunjukkan dia adalah sekitar 20 tahun. Tengkorak hancur wanita itu ditemukan di antara sisa-sisa 20 lainnya di kuburan dangkal.

(news.discovery.com)

.

KERAJAAN SAUDI ARABIA TOLAK AJARAN WAHHABI AL-ALBANI&PENGIKUTNYA

KERAJAAN SAUDI ARABIA TOLAK AJARAN WAHHABI AL-ALBANI&PENGIKUTNYA -berbukti

SAUDI ARABIA MENOLAK AJARAN YANG DIBAWA OLEH NASIRUDDIN AL-ALBANY DAN PENGIKUTNYA YANG TERKENAL DENGAN AJARAN WAHHABI TETAPI KONONNYA MENDAKWA SEBAGAI SALAFI. MENERUSI DEKAN UNIVERSITI MUHAMMAD BIN SU’UD IAITU SEBUAH UNIVERSITI TERKEMUKA DI NEGARA SAUDI ARABIA MENEKAN BAHAWA AJARAN YANG DIBAWA OLEH AL-ALBANI DAN PENGIKUTNYA BUKAN AJARAN SEBENAR DAN BUKAN FAHAMAN SALAF YANG SAHIH SEPERTI YANG DIDAKWA.

Kita di Malaysia terdapat sebahagian golongan yang mengikut ajaran Al-Albany seperti MAZA, Institut Al-Qayyim dan sebagainya. Sebenarnya Saudi Arabi telah lama menolak ajaran mereka ini walaupun mereka mendakwa sebagai Salaf sebenar.

DI BAWAH INI MERUPAKA BUKTI BAHAWA SAUDIA ARABIA SEKARANG MENOLAK AJARAN AL-ALBANI AL-WAHHABI DAN PENGIKUTNYA :


[ Teroris solo] Majalah An-Najah : Majalah Teroris wahabi (Salafi palsu) solo

[ Teroris solo] Majalah An-Najah : Majalah Teroris wahabi (Salafi palsu) solo

Mengenal Pimpinan majalah salafi palsu /teroris / khawarih murji’ah :

Ust Muh. Mas’ad Lc (Redaktur pelaksana majalah
An Najah solo)

Penyebar dan penyelenggara bedah buku majalah an-najah di lampung : Ust Agus Supriyadi Lc (pengasuh dialog imani RRI) yang sering mengadakan taklim -taklim wahhaby di Lampung!

GB

Buku-buku yang disita dari dalam rumah tersebut. Salah satu buku berisi langkah-langkah teknis merakit senjata dan bahan peledak yang ditulis dalam bahasa inggris.

GB

SOLO, KOMPAS.com — Tim Densus 88 Antiteror menangkap tiga orang di Solo, Jawa Tengah, sepanjang operasi yang dilakukan sejak Rabu (12/5/2010) malam. Awalnya, Densus menangkap Joko Purwanto di Purbayan, Sukoharjo, dan Abdul Hamid di Purwosari, Rabu malam.

Selanjutnya, Kamis pagi ini, Densus menggerebek sebuah toko aki di Dukuh Gondang, Desa Baki, Sukoharjo, dan menangkap Erwin. “Ini hasil pengembangan setelah penangkapan di Purbayan dan Purwosari,” kata seorang petugas kepolisian setempat yang tidak bersedia disebut namanya.

Sebelumnya diberitakan bahwa berdasarkan informasi Kepala Desa Bakipandeyan Pardio, ada dua orang yang ditangkap dalam operasi di Solo. Dalam penggerebekan di toko aki, Densus menyita sejumlah senjata api laras panjang dan pendek, ratusan peluru, belati, CD, dan buku-buku.

Hingga sekitar pukul 11.00, ribuan warga menyaksikan lokasi toko aki yang telah dipasangi garis polisi. Petugas Brimob berjaga-jaga di lokasi. Sementara itu, arus lalu lintas Sukoharjo-Solo terlihat tersendat.

http://us.foto.detik.com/readfoto/2010/05/13/123526/1356509/157/1/

DR. Hendro Priyono (Mantan Ketua BIN ) : Wahhaby (agen yahudi) Dalang semua semua Aksi Teroris!

Wahhaby (agen yahudi) Dalang semua semua Aksi Teroris!

Wahhaby (agen yahudi) Dalang semua semua Aksi Teroris!

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”

bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?

1. Yahudi mengadu islam  vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby, taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadau sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

Yang Saya Maksud Wahabi Aliran Keras
Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir.

Wahabi aliran keras. Itu yang dimaksudkan Hendropriyono ketika menyebut habitat Noordin M Top sehingga sulit untuk ditangkap. Kepada Sabili di Jogjakarta, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menjelaskan siapa yang dimaksud dengan Wahabi di balik serangan bom di Indonesia .

Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta, Jenderal TNI (Purn) Dr. Ir. Drs. Abdullah Mahmud Hendropriyono SH, SE, MBA, MH menyebut Wahabi, terkait dengan rentetan pemboman yang terjadi di negeri ini. Ketika Sabili mengkonfirmasi wahabi yang dimaksud, Hendro menjelaskan panjang lebar.

“Ketika itu saya ditanya oleh Metro TV tentang teroris, kenapa masih terus terjadi? Saya bilang, selama lingkungan masih ada yang menerima Noordin M Top, maka terorisme akan terus berlangsung. Agama kita, memberi pengertian yang dalam, bahwa tujuan yang baik tidak harus menghalalkan segala cara. Yang rugi, jelas umat Islam dan negara kita sendiri. Karena itu, harus dihentikan. Tujuan baik kalau caranya salah tetap salah.”

Lantas siapa yang dimaksud dengan lingkungan atau habitat Noordin M Top? Dikatakan Hendro, doktrin klasik kita, cuma mengenal dua, yaitu: al mukminin dan al kafirin. Antara al mukminin dan al kafirin itu ada yang dipertajam, dan ada yang memperhalus. “Yang mengkafir-kafirkan sesama Muslim inilah yang saya maksud sebagai habitat. Abu Ghifari, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) adalah salah satu yang tidak setuju doktrin mengkafir-kafirkan, makanya dia keluar dari JI, tapi bukan berarti dia tidak Islam. Kalau anggota JI punya pendirian seperti dia, Indonesia pasti aman.”

Hendro memberi contoh, Yayasan Muaddib di Cilacap, justru menciptakan masyarakat sendiri. Inilah masyarakat yang menjadi habitat Noordin M Top. Sekarang polisi terus memburu ketua yayasan pesantren itu.


Nasir Abbas


Baca Buku Membongkar “Jamaah Islamiyah”

Menurut Hendro, Noordin M Top punya akses langsung ke Al Qaidah. Karenanya, dunia kecolongan. Usamah bin Ladin dan Aiman Az Zawahir, sudah masuk ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Begitu JI dikendalikan oleh Abu Rusydan dan Nasir Abbas, organisasi itu mulai moderat.

“Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir. Kelompok keras ini beranggapan, dalam Islam tidak ada demokrasi. Menurut saya, setiap negara seyogianya punya filsafat dan ideologinya sendiri. Setelah itu, kita bisa hidup berdampingan secara damai. Tapi kalau mengusung ideologi internasionalisme, tidak bakal ketemu.”

Dikatakan Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa; mengancam dan berdoa. “Para pelaku terorisme juga mengalami kegagalan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,” ungkap Hendro yang baru menyandang predikat doktor ilmu filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) dan berhasil meraih cumlaude Sabtu lalu (25/7).

Subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi dan intelektual secara optimal, karena mereka adalah orang normal, buka orang gila. Semua tindak terorisme, termasuk di Indonesia saat ini, adalah implementasi cara berpikir para pelakunya. Terorisme sendiri terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. “Apa yang bisa menghentikan terorisme adalah dengan menghentikan cara berpikir seorang yang berkepribadian terbelah. Kalau itu berhenti, teroris berhenti.”

Terorisme, kata Hendro, terjadi akibat benturan dua filsafat universal dunia, yakni demokrasi yang tidak dilaksanakan secara etis dan fundamentalisme. Selama keduanya belum berubah ke arah yang lebih baik dan menyatu, terorisme akan terus ada.

Diakui Hendro, di antara ideologi itu, ada yang menginginkan liberalisme dan kapitalistik. Sedangkan Islam menginginkan kekhilafahan. Kalau kita ingin perdamaian dunia, maka harus merupakan sintesis dari dua tesis. Sekuler-liberal dengan Islam yang akomodatif-moderat. “Kalau tidak gitu, gak ketemu. Teror dibalas teror gak selesai. Dunia akan terus kecolongan, sebelum kita selesaikan.”

Jadi yang ngebom-ngebom itu Wahabi, begitu? “Wahabi aliran keras lah yang mengakomodir Noordin M Top masih tetap hidup. Apa susahnya mencari Noordin M Top, dia orang Malaysia, logatnya saja kentara bahwa dia bukan orang Indonesia . Makanya lingkungan atau habitatnya harus dibersihkan. Yaitu aliran keras Wahabi yang kawin dengan aliran keras Ikhwanul Muslimin.”

Bukankah Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin berbeda? “Ya, akhirnya mengerucut di Al Qaidah. Jadi Usamah itu adalah gabungan salafi, wahabi, ikhwan,” terang Hendropriyono.

Seringkali Wahabi dijadikan stigma terhadap kelompok Islam tertentu. Yang ujung-ujungnya adalah Islamphobi. Menanggapi itu, Hendro mengatakan, “Itu orang nggak ngerti. Apa gunanya kita punya kementrian agama, harusnya diberi penjelasan, apa itu wahabi, salafi, Ikhwanul Muslimin dan Al Qaidah, biar jelas. Kalau yang menjelaskan intelijen, saya disalahin melulu. Capek saya,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta , 7 Mei 1945.

Yang jelas, tudingan Wahabi pernah dilekatkan pada PKS dan ormas Islam lainnya. Mereka tidak terima. “Memang, orang pasti akan bertanya, Wahabi yang mana? Salafi yang mana? Itu sama saja menyebut Jawa yang mana? Sekali lagi, yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras yang tidak mau berpartai. Kalau ada yang mengikuti demokrasi, mereka akan mengkafirkan. Ini Wahabi yang saya maksud. Orang yang menyebut kafir karena menolak demokrasi, ini harus dibersihin. Terorisme akan hidup terus selama masih ada orang yang suka mengkafirkan!”

Apakah penyebutan Wahabi ini akan menjadi pukat harimau bagi gerakan Islam? Hendro yang mengaku dari kecil sekolah di Muhammadiyah pun juga Wahabi. Tapi, Hendro mengatakan, Muhammadiyah bukan Wahabi yang merusak. “Mereka takut. Kan saya tidak mau pukul rata, saya bukan orang tolol, ini Wahabi yang mana dulu. Yang maksudkan alah wahabi aliran keras. Memang yang lembut bisa menjadi keras. Itulah harus kita bersihin. Sebut saja Muhammadiyah, ada tarik menarik, untuk menjadi Wahabi, ada pula yang ingin menjadi Liberal. Posisi Muhammadiyah pun jadi rebutan ideologi.”

Perkembangan geopolitik global menjadi penyebab lahirnya terorisme global. Tapi tidak harus teror jawabannya, harusnya uswatun hasanah. Teror itu bukan perang. Hendro tidak setuju, dengan memunculkan Wahabi ini akan melemahkan spirit Islam sendiri. “Oh, nggak, bukan begitu. Kita tidak usah bergantung Wahabi. Kita berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Kenapa kita harus ikut-ikutan yang bukan Nabi. Tujuan baik kalau jalannya salah, keliru.”

Persoalannya bukan hanya di dalam internal umat Islam sendiri, melainkan juga keterlibatan unsur asing. Hendro mengatakan, bukan tidak mungkin, ada keterlibatan CIA. Yang jelas, yang bisa menyelesaikan adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sebab, jika dari luar, nambah gak karuan negeri ini.

Menurut Hendro, untuk menghancurkan suatu jaringan ada empat poin yang bisa dilakukan. Pertama, tangkap orang-orang kunci. Kedua, putuskan hubungan. Ketiga pangkas support logistic. Keempat bersihkan lingkungan. Kempat inilah yang akan menghancurkan organisasi. Ketika bom berulangkali terjadi, ada kemirisan yang muncul, umat Islam kembali menjadi kambing hitam. “Itulah yang membuat saya sedih. Makanya sebelum saya mati, mudah-mudahan saya masih bisa melihat Indonesia aman, dan menjadi ummatan wahidah, umat yang bersatu. Umat ini terbelah akibat Noordin M Top.” (sabili)

(Oleh Adhes Satria & Eman Mulyatman)

http://swaramuslim.net/more.php?id=6307_0_1_0_M

Membongkar “Jamaah Islamiyah”

.

Baca Buku Membongkar “Jamaah Islamiyah”

Menurut Hendro, Noordin M Top punya akses langsung ke Al Qaidah. Karenanya, dunia kecolongan. Usamah bin Ladin dan Aiman Az Zawahir, sudah masuk ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Begitu JI dikendalikan oleh Abu Rusydan dan Nasir Abbas, organisasi itu mulai moderat.

“Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir. Kelompok keras ini beranggapan, dalam Islam tidak ada demokrasi. Menurut saya, setiap negara seyogianya punya filsafat dan ideologinya sendiri. Setelah itu, kita bisa hidup berdampingan secara damai. Tapi kalau mengusung ideologi internasionalisme, tidak bakal ketemu.”

Dikatakan Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa; mengancam dan berdoa. “Para pelaku terorisme juga mengalami kegagalan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,” ungkap Hendro yang baru menyandang predikat doktor ilmu filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) dan berhasil meraih cumlaude Sabtu lalu (25/7).

Subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi dan intelektual secara optimal, karena mereka adalah orang normal, buka orang gila. Semua tindak terorisme, termasuk di Indonesia saat ini, adalah implementasi cara berpikir para pelakunya. Terorisme sendiri terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. “Apa yang bisa menghentikan terorisme adalah dengan menghentikan cara berpikir seorang yang berkepribadian terbelah. Kalau itu berhenti, teroris berhenti.”

Terorisme, kata Hendro, terjadi akibat benturan dua filsafat universal dunia, yakni demokrasi yang tidak dilaksanakan secara etis dan fundamentalisme. Selama keduanya belum berubah ke arah yang lebih baik dan menyatu, terorisme akan terus ada.

Diakui Hendro, di antara ideologi itu, ada yang menginginkan liberalisme dan kapitalistik. Sedangkan Islam menginginkan kekhilafahan. Kalau kita ingin perdamaian dunia, maka harus merupakan sintesis dari dua tesis. Sekuler-liberal dengan Islam yang akomodatif-moderat. “Kalau tidak gitu, gak ketemu. Teror dibalas teror gak selesai. Dunia akan terus kecolongan, sebelum kita selesaikan.”

Jadi yang ngebom-ngebom itu Wahabi, begitu? “Wahabi aliran keras lah yang mengakomodir Noordin M Top masih tetap hidup. Apa susahnya mencari Noordin M Top, dia orang Malaysia, logatnya saja kentara bahwa dia bukan orang Indonesia . Makanya lingkungan atau habitatnya harus dibersihkan. Yaitu aliran keras Wahabi yang kawin dengan aliran keras Ikhwanul Muslimin.”

Bukankah Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin berbeda? “Ya, akhirnya mengerucut di Al Qaidah. Jadi Usamah itu adalah gabungan salafi, wahabi, ikhwan,” terang Hendropriyono.

Seringkali Wahabi dijadikan stigma terhadap kelompok Islam tertentu. Yang ujung-ujungnya adalah Islamphobi. Menanggapi itu, Hendro mengatakan, “Itu orang nggak ngerti. Apa gunanya kita punya kementrian agama, harusnya diberi penjelasan, apa itu wahabi, salafi, Ikhwanul Muslimin dan Al Qaidah, biar jelas. Kalau yang menjelaskan intelijen, saya disalahin melulu. Capek saya,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta , 7 Mei 1945.

Yang jelas, tudingan Wahabi pernah dilekatkan pada PKS dan ormas Islam lainnya. Mereka tidak terima. “Memang, orang pasti akan bertanya, Wahabi yang mana? Salafi yang mana? Itu sama saja menyebut Jawa yang mana? Sekali lagi, yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras yang tidak mau berpartai. Kalau ada yang mengikuti demokrasi, mereka akan mengkafirkan. Ini Wahabi yang saya maksud. Orang yang menyebut kafir karena menolak demokrasi, ini harus dibersihin. Terorisme akan hidup terus selama masih ada orang yang suka mengkafirkan!”

Apakah penyebutan Wahabi ini akan menjadi pukat harimau bagi gerakan Islam? Hendro yang mengaku dari kecil sekolah di Muhammadiyah pun juga Wahabi. Tapi, Hendro mengatakan, Muhammadiyah bukan Wahabi yang merusak. “Mereka takut. Kan saya tidak mau pukul rata, saya bukan orang tolol, ini Wahabi yang mana dulu. Yang maksudkan alah wahabi aliran keras. Memang yang lembut bisa menjadi keras. Itulah harus kita bersihin. Sebut saja Muhammadiyah, ada tarik menarik, untuk menjadi Wahabi, ada pula yang ingin menjadi Liberal. Posisi Muhammadiyah pun jadi rebutan ideologi.”

Perkembangan geopolitik global menjadi penyebab lahirnya terorisme global. Tapi tidak harus teror jawabannya, harusnya uswatun hasanah. Teror itu bukan perang. Hendro tidak setuju, dengan memunculkan Wahabi ini akan melemahkan spirit Islam sendiri. “Oh, nggak, bukan begitu. Kita tidak usah bergantung Wahabi. Kita berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Kenapa kita harus ikut-ikutan yang bukan Nabi. Tujuan baik kalau jalannya salah, keliru.”

Persoalannya bukan hanya di dalam internal umat Islam sendiri, melainkan juga keterlibatan unsur asing. Hendro mengatakan, bukan tidak mungkin, ada keterlibatan CIA. Yang jelas, yang bisa menyelesaikan adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sebab, jika dari luar, nambah gak karuan negeri ini.

Menurut Hendro, untuk menghancurkan suatu jaringan ada empat poin yang bisa dilakukan. Pertama, tangkap orang-orang kunci. Kedua, putuskan hubungan. Ketiga pangkas support logistic. Keempat bersihkan lingkungan. Kempat inilah yang akan menghancurkan organisasi. Ketika bom berulangkali terjadi, ada kemirisan yang muncul, umat Islam kembali menjadi kambing hitam. “Itulah yang membuat saya sedih. Makanya sebelum saya mati, mudah-mudahan saya masih bisa melihat Indonesia aman, dan menjadi ummatan wahidah, umat yang bersatu. Umat ini terbelah akibat Noordin M Top.” (sabili)

(Oleh Adhes Satria & Eman Mulyatman)

http://swaramuslim.net/more.php?id=6307_0_1_0_M

Be the first to like this.

Filed under: [ Teroris solo] Majalah An-Najah : Majalah Teroris wahabi (Salafi palsu) solo Tagged: |

Tarjamah English Al- Fiqh Al-Akbar (Imam Abu Hanifah )

Tarjamah English Al- Fiqh Al-Akbar (Imam Abu Hanifah )

Al- Fiqh Al-Akbar

The great Imam Abu Hanifah An-Nu^man said in Al-Fiqh Al-Akbar:

The basis of Tawhid1 and what constitutes a valid belief is for one to say I believe in

Allah, His Angels, His Books, His Messengers, Resurrection after death, Destiny2

both good and evil and that it is created by Allah, the Settlement of Accounts on the

Day of Judgment, the Balance, Paradise and Hellfire. All are true matters.

Allah, the Exalted, is One not in the context of numbers but with the meaning that

He has no partners. Allah said in Surah Al-Ikhlas:

قل ھو لله أحد لله الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوًا أحد

This means: Say (O Muhammad) He is Allah, the One clear of partners and anything

similar.

Allah is the One needed by all and He needs none. He does not beget children and He is not begotten.

And there is none, in any way, similar to Him.

He does not resemble any of His creations, and nothing among His creations is like

Him. He existed Eternally3 and exists Everlastingly4 having His Names and

Attributed with the Attributes of His Self5 and the Attributes of His Doings. As to

the Attributes of His Self they are such as Life, Power, Knowledge, Speech,

Hearing, Sight and Will.

As to the Attributes of His doings they are such as Creating, Giving Sustenance, Insha’-Creating, Ibda^-Creating, Sun^-Creating and other than that among the Attributes of His Doings.

He existed Eternally and exists Everlastingly having His Names and Attributed

with His Attributes. He did not acquire a Name or an Attribute that He did not have.

He is Knowledgeable Eternally and Everlastingly by His Knowledge.

The Knowledge is His Eternal Attribute. He is Powerful by His Power. The Power is His

Eternal Attribute. He Speaks by His Speech. The Speech is His Eternal Attribute.

He Creates by His Creating. The Creating is His Eternal Attribute. He Does things

by His Doings. The Doing is His Eternal Attribute. The Doer is Allah, the Exalted.

The Doing is His Eternal Attribute and what is done is a created matter. The Doing

of Allah, the Exalted, is not created. His Attributes are Eternal without a beginning and not created. The one who claims they have a beginning or are created or doubts

or wavers about them, indeed is a blasphemer.

The Qur’an is The Speech of Allah. It is written in the Books of Qur’an, memorized

in the hearts, recited by the tongues and descended onto the Prophet sallallahu

^alayhi wa sallam. Our utterance of the Qur’an is created and our writing it is

created and the Qur’an is NOT created.

What Allah has mentioned in the Qur’an predicating about Musa and other Prophets, sallallahu ^alayhim wa sallam, and about Pharaoh and Iblis, all of that is the Speech of Allah, the Exalted, predicating about them. The Speech of Allah, the Exalted, is not created. The speech of Musa and the other creations is created. The Qur’an is the Speech of Allah and it is Eternal without a beginning, hence it is not their speech. Musa, peace be upon him, heard

the Speech of Allah, the exalted, as Allah, the Exalted, said:

وكلم لله موسى تكليمًا

Which means: Allah Spoke to Musa who heard the Eternal Speech of Allah.

Allah,the Exalted, was Attributed with Speech Eternally and yet had not spoken to

Musa. Allah, the Exalted,was Attributed with Creating Eternally and yet had not

created the creation.

ليس كمثله شىء وھو السميع البصير

This means: Absolutely nothing is like Him and He is Attributed with Hearing and

Sight.

When Allah spoke to Musa He spoke to him with His Eternal Speech. All His

Eternal Attributes are different from the attributes of the creations. He Knows unlike

our knowing, He is Powerful unlike our powerfulness, He Sees unlike our seeing,

He Hears unlike our hearing, He Speaks unlike our speech. We speak with

instruments and letters but Allah, the Exalted, Speaks without an instrument and

without letters. The letters are created and the Speech of Allah is not created. He is a

Thing unlike other things.

The meaning of a Thing is that His existence is confirmed– clear of bodily attributes, a jawhar-atom of a body, an ^arad-quality of a body, a limit, an opposite, a rival, a similar. He is Attributed with Yad, Wajh, and Nafs. What Allah mentioned in the Qur’an about the Yad, Wajh, Nafs refer to that they are His Attributes without a manner of being6. His Yad is His Attribute without a manner of being. His Ghadab7 and Rida8 are two of His Attributes without a manner of being.

Allah created the things from no other thing. Allah Knew in Eternity about all things

before they were created. Allah Decreed and Created these things. Nothing happens

in this world and the Hereafter except by His Will, Knowledge, Creating, and

Destining and He ordered all of it be Written in the Guarded Tablet (attribute wise

and not judgment wise). Creating, Destining and Will are His Attributes in Eternity

without a manner of being.

Allah knows the non-existent thing while in the state of non-existence as nonexistent.

He knows how it would be had He created it. Allah Knows the existent

while in the state of existence as existent. He knows how its annihilation would be.

Allah knows the one who is standing, while standing up, as standing up and if one

sits He Knows one is sitting while in the state of sitting. All of this is without the

Knowledge of Allah changing or Him acquiring knowledge. The change and the

different situations occur in the creations.

Allah created the creations empty of blasphemy or belief and then He spoke to them

and ordered and prohibited them. The one who blasphemed did so by ones own

action and disbelieving in the existence of Allah, all out of Allah’s Will to deprive

one of goodness. The one who believed did so by ones own action, admittance and

belief, all out of Allah’s Will to guide one to goodness and of support to one.

He took out the offspring of Adam, peace be upon him, from his back in forms as

tiny as the small red ants and made them mindful. He spoke to them and ordered

them to believe and prohibited them from blasphemy. They admitted to Him that He

is the Owner of all things and thus were established as believers, hence they are

born with Fitrah9. So after that, whoever blasphemes has in fact changed and altered

and whoever becomes a believer and believes has remained steadfast and lasted. He

did not force any of His creations to blaspheme or believe and did not create them

believers and blasphemers, rather He created them as persons; belief and blasphemy

are the doings of the slave. Allah Knows whoever blasphemes, while in the state of

blasphemy, as a blasphemer, and if one believes after that He knows him, while in

the state of belief, as a believer, without a change in the Knowledge and Attribute of

Allah. All the doings of the slaves among motion and rest, they truly acquire, and

Allah is their Creator, and all of them are by the Will, Knowledge, Creating and

Destining of Allah.

The acts of obedience no matter what they entail are due by the Order of Allah, the

Exalted, His Love10, Acceptance, Knowledge, Will, Creating and Destining. All the

sins are by His Knowledge, Creating, Destining and Will but not by His Love11,

Acceptance and Order.

All of the Prophets, sallallahu ^alayhim wa sallam, are clear of minor sins12,

enormous sins and abhorrent matters. Some errs and faults occurred from them.

Muhammad, the Messenger of Allah, sallallahu ^alayhi wa sallam, is His beloved,

slave, Prophet and Choicest. He did not worship an idol and did not associate

partners with Allah not for a blink of an eye. He never did commit a minor13 or a

major sin.

The best of the people after the Prophets, sallallahu ^alayhim wa sallam, is Abu

Bakr As-Siddiq, may Allah accept his deeds, thereafter ^Umar Ibn Al-Khattab,

thereafter ^Uthman Ibn ^Affan, thereafter ^Ali Ibn Abi Talib, may Allah accept all of

their deeds and keep them strolling with truth and make us support them in the truth.

We do not speak ill of the companions and we do not judge a Muslim as a

blasphemer for any of the sins, even if enormous, unless one deems it lawful.

We do not remove him from the nomenclature of a believer, and call him truly a believer,

and he could be a believer committing iniquities but not a blasphemer.

Wiping over the Khuff-foot gear is sunnah14 and tarawih prayers in Ramadan are

sunnah.

Praying behind every pious and committer of iniquities is permissible.

We do not say that the believer is not harmed by sins, and we do not say that he

does not enter Hellfire, and we do not say that he remains therein forever even if he

used to be a blasphemer, as long as he departs this life as a believer.

We do not say

our good deeds are accepted and our sins are forgiven, as the Murji’ah15 say. But we

say the one who does a good deed, satisfying all its conditions and is clear of the

invalidating defects and matters and does not invalidate it by blasphemy and

apostasy until one departs this life, is a believer, and then Allah will not make it

wasted for him, rather He accepts it from him and rewards him for it.

Whatever sinsone commits less than associating partners with Allah and blasphemy and does not repent from them until he dies as a believer, then he is under the Will of Allah, if

Allah Wills, He will torture him in Hellfire and if He Wills forgives him and does

not torture him in Hellfire, fundamentally speaking.

Should insincerity infiltrate one of the deeds it nullifies its reward, and likewise

arrogance. Miracles are confirmed for the Prophets and the supernatural-karamas

doings are truthful for the highly pious-waliyys.The extraordinary doings that occur

from the likes of Iblis, Pharaoh and the Imposter, which were mentioned in the

religious reports that they happened or will happen, we do not call them miracles or

supernatural-karamas doings. Rather we call them fulfillment of needs for them,

because Allah fulfills the needs of His enemies with the purpose of leading them for

the punishment they deserve, and as a punishment for them, so they become

satisfied in deceit and exaggerate in sinning or blasphemy, and all of that is possible

and permissible.

Allah the Exalted was Eternally a Creator before He created things and was

Eternally a Sustainer before providing sustenance.

Allah the Exalted will be seen in the Hereafter. The believers will see Him while

they are in Paradise with their eyes without likening Allah to the creations, without a

manner of being, without a volume and there will not be a distance between Him

and His creations.

The belief is admitting and believing. The belief of the occupants of earth and

heavens does not increase or decrease as far as the One believed in is concerned,

and increases and decreases as far as ones degree of certainty and belief are

concerned.

The believers are equal in the belief and excel in deeds. Islam is submitting and following the orders of Allah the exalted.

Linguistically there is a difference between belief and Islam, however, there is no belief without Islam and Islam does not exist without belief for they are together like the front and the back of the thing. The religion is a name that encompasses the belief, the Islam and the entire rules revealed to the prophets.

We know Allah with the knowledge that is due to Him and as per the Attributes He

Attributed to His Self. No one can worship Allah the worship due to Him that He is

entitled to, but rather one worships Him in fulfillment of His Orders and as He

ordered.

The believers are equal16 about Allah in knowledge, certainty, reliance, love,

acceptance, fear, hopefulness, belief and differ in all what is less than this.

Allah, the exalted, is generous to His slaves and is Just. He might reward the slave

many folds of what he deserves out of His generosity, and might punish for the sin

out of His justice or forgive it out of His generosity.

The intercession of the Prophets, sallallahu ^alayhim wa sallam, is confirmed for the sinners and committers of enormous sins among the believers who deserve punishment.

Weighing the deeds on the Balance on the Day of Judgment is true and the

settlement of the dues between the plaintiffs and defendants is true, and it is

permissible that if they had no good deeds of their own, the sins of the other party

will be added to them.

The Basin of the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam, is true. Paradise and Hellfire are now created and shall never annihilate, and the Huril^in-women shall never annihilate. The torture of Allah shall never annihilate and the reward of Allah lasts forever. Allah, the Exalted, guides whomever He willed out of His generosity, and makes misguided whomever He willed out of His Justice. Making one misguided entails depriving one of goodness; that is the slave will not be guided to the deeds that Allah accepts from one. This is justice from

Allah. Likewise, the punishment for the sin of the deprived one is justice from

Allah.

It is not permissible to say that the Devil takes away the belief from the believing

slave forcefully and out of subjugation, rather we say the slave becomes lose with

the belief and if one leaves it at such an instance, the Devil takes it away from one.

The questioning of Munkar and Nakir is a true matter that takes place in the grave.

The return of the soul to the body of the slave in the grave is true. The pressing of

the grave and the torture therein is true for all the blasphemers and for some sinful

believers.

Proximity and being far from Allah are not matters of length or shortness of

distance, rather they are meanings pertaining to one being favored with acceptance

or deprived by being unaccepted. The one who is obedient is close to Him without a

manner of being, and the sinful one is far from Him without a manner of being.

Proximity, being far and coming forth fall on the supplicating one. Likewise, being

in the jiwar17 of Allah in Paradise and standing between His Yadayh18 are without a

manner of being.

The Qur’an was sent down onto the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam, and is

written in the books. All the verses of the Qur’an are equal in merit and greatness,

except some have the merit of recitation and some have the merit of who is

mentioned in them.

Like the ayah of Al-Kursi, because who is mentioned in it is the Glory and greatness of Allah and His Attributes. Hence, two merits are combined in it, the merit of the recitation and the merit of who is mentioned in it.

Some of the verses have only the merit of reciting, such as the tale of the

blasphemers, so who is mentioned in it has no merit and they are the blasphemers.

Likewise, the Names and Attributes are equal in greatness and merit with no

excellence of one over the other between them.

Qasim, Tahir and Ibrahim were the sons of the Prophet, sallallahu ^alayhi wa

sallam. Fatimah, Ruqayyah, Zaynab, Umm Kulthum were all the daughters of the

Prophet sallallahu ^alayhi wa sallam, May Allah Accept the deeds of all of them.

If one is perplexed about something among the delicate matters of the science of

Tawhid19, one is ought to immediately believe what is correct about Allah, the

Exalted, until one finds a scholar and asks him, and one is not entitled to delay.

The news of the Ascension is true and the one who rejects it is deemed a misguided

blasphemer.

The appearance of Gog and Magog, and the sunrise from the Westside,

and the decent of ^Isa, peace be upon him, from the sky, and the rest of the signs of

the Day of Judgment according to the authentic reports, are true and shall happen.

Allah, the Exalted, guides whomever He willed to a straight path.

The text of Al-Fiqh Al-Akbar for the great Imam Abu Hanifah, may Allah accept his

deeds, ends here. Some terms used here might be different due to the different copies of

the text.

1 The knowledge about Allah and His Messenger.

2 Destiny is used here to denote the things created by Allah whether good or evil. Allah creates these

things as per His Destining — an Eternal and Everlasting Attribute of Allah . Hence we do not say about

the Destining of Allah evil.

3 The status of existence without a beginning.

4 The status of existence without ending.

5 Refers to the Reality of Allah.

6 A manner of being refers to all what could be an attribute of the creation.

7 Ghadab is an Attribute of Allah pertaining to non-acceptance of deeds and punishment.

8 Rida is an Attribute of Allah pertaining to acceptance of deeds and reward.

9 Refers to the inherent readiness after birth to accept the call of Islam.

10 When Love is Attributed to Allah it refers to acceptance of deeds and reward and NOT emotions and

reactions; Allah is clear from that.

11 See footnote 5

12 This refers to the small abject sins that constitute meanness. It is possible for Prophets to commit

non abject small sins but they are guided to immediately repent from them before others follow their

pursuit.

13 See footnote 12

14 Recommended and not obligatory.

15 A well known deviant group who strayed in the matter of the Islamic creed.

16 That is fundamentally as far as the essence of the aforementioned matters is concerned.

17 Jiwar means one would be enjoying the endowments that Allah endows on one in Paradise—all

being owned by Allah .

18 Standing between His Yadahy reflect when one stands on the Day of Judgment to face the settlement

of ones account and to be judged.

19 The knowledge about Allah and His Messenger.

MEMAHAMI KARAKTER SALAFI & WAHABI

 

MEMAHAMI KARAKTER SALAFI

Oleh : Abu Rifa Al-Puari

Mungkin saat kita berdiskusi dengan golongan yang mengaku sebagai salafi, salafiyun atau salafush shalih, akan menimbulkan kesan bahwa golongan ini merasa paling benar sendiri dan cenderung mencela golongan lain. Sehingga tidak ada golongan yang begitu aktif mencela golongan lain selain salafi, baik melalui buku-buku dan website mereka, kasus mutakhir adalah buku Rapot Merah Aa` Gym. Secara tidak sengaja penulis memperoleh jawaban atas karakter salafi tersebut dari sebuah buku karangan ulama salafi dengan judul Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah karangan Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi.

Buku tersebut bukan sebuah buku yang berisi celaan semata, tetapi buku yang telah direkomendasikan dan disetujui oleh salah satu ulama salafi Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, di halaman depan terdapat surat rekomendasi dari Shalih bin Fauzan untuk menerbitkan buku tersebut :

“…Sungguh, komentar (ta’liq)-nya telah mencukupi. Dan saya ijinkan untuk menerbitkan dan menyebarkannya. Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan risalah ini bermanfaat untuk manusia”

Artinya, buku ini dapat digunakan sebagai representasi sikap salafi terhadap golongan yang berbeda pendapat (ijtihad) dengan mereka. Di samping itu, apa yang tertera di dalam buku tersebut juga diperkuat lagi dengan buku-buku salafi yang lain dan website-website salafi.

Mungkin buku tersebut dimaksudkan memberikan nasehat kepada golongan yang dianggap menyalahi as-Sunnah dan mereka yang tidak termasuk golongan salafi, tetapi secara tidak sadar buku tersebut telah menelanjangi KARAKTER ASLI SALAFI. Dalam tulisan ini akan diungkapkan karakter salafi dan bantahan terhadap pendapat mereka. Karakter-karakter salafi dapat kita simpulkan sebagai berikut :

1. Merasa dirinya paling benar

Salafi satu-satunya golongan yang selamat, yang benar dan yang masuk syurga

Salafi meyakini bahwa merekalah yang disebut-sebut dalam hadits Nabi sebagai golongan yang selamat dan masuk syurga, sedangkan 72 golongan lainnya kelompok sesat dan bid’ah dan akan masuk neraka. Hadits tersebut berbunyi :

“Umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka, wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku.” (HR Abu Dawud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darami dan Al-Hakim).

Keyakinan salafi ini diperkuat oleh kaidah yang mereka gunakan “Kebenaran hanya satu sedangkan kesesatan jumlahnya banyak sekali”. Hal ini berasal dari pemahaman salafi terhadap hadits Rasulullah SAW :

Rasulullah SAW bersabda: ‘Inilah jalan Allah yang lurus’ Lalu beliau membuat beberapa garis kesebelah kanan dan kiri, kemudian beliau bersabda: ‘Inilah jalan-jalan (yang begitu banyak) yang bercerai-berai, atas setiap jalan itu terdapat syaithan yang mengajak kearahnya’ Kemudian beliau membaca ayat :

“Dan (katakanlah): ‘Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-An’am 153).

(HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim) (Lihat Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, hal. 47-48).

Dengan mengutip dua hadits tentang; satu golongan yang selamat dari 73 golongan dan hanya satu jalan yang lurus, maka salafi meyakini bahwa merekalah yang disebut-sebut kedua hadits tersebut. Salafi-lah satu-satunya golongan yang selamat dan masuk syurga, serta golongan yang menempuh jalan yang lurus itu. Simaklah pernyataan salafi :

“Dan orang-orang yang tetap di atas manhaj Nabi SAW, mereka dinisbahkan kepada salaf as-shalih. Kepada mereka dikatakan as-salaf, as-salafiyun. Yang menisbatkan kepada mereka dinamakan salafi.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 33, catatan kaki).

“Kami di atas manhaj yang selamat, di atas akidah yang selamat. Kita mempunyai segala kebaikan –alhamdulillah-” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 76-77).

“Jadi jika benar dia di atas manhaj Rasulullah SAW dan manhaj salafu ash-shalih, maka dia dari ahlu jannah. Bila dia menjadi orang yang berbeda di atas manhaj sesat, maka dia terancam neraka.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 110).

“Saya (Abu Abdillah) berkata,’Subhanallah! Bagaimana dia membolehkan dirinya menggabungkan antara manhaj salaf yang benar dengan manhaj-manhaj dan kelompok-kelompok bid’ah yang sesat dan bathil.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 32, catatan kaki)

“Jalan merekalah yang harus ditempuh oleh generasi yang datang setelahnya, memahami dengan pemahaman mereka, menerapkan dan mendakwahkannya seperti mereka. Jalan merekalah yang kemudian dikenal dengan istilah manhaj salaf, metode salaf, ajaran salaf atau pemahaman salaf dan lain-lain.” (www.salafy.or.id , Muhammad Umar As-Sewed, Sekali Lagi : Mengapa Harus Manhaj Salaf?).

Akibatnya, sulit bagi salafi untuk menerima ijtihad golongan/ulama lain yang berbeda dengan mereka, karena salafi meyakini kebenaran hanya satu dan salafi-lah pemilik kebenaran itu, karena merekalah golongan yang paling sesuai dengan as-sunnah, yang paling benar, selamat, dan ahlu jannah.

Dalam hadits tersebut ada kata firqah, tapi dalam konteks ini sebagai seseorang/golongan yang dikutuk karena tindakan yang mereka lakukan telah menyimpang dari wahyu Allah. Firqah yang dihukum dan masuk ke dalam api neraka, serta firqah yang selamat dan masuk syurga tidak bisa dinisbatkan kepada golongan tertentu. Oleh karena itu, mereka-mereka yang mengikuti mazhab-mazhab tertentu atau golongan lain selain salafi tidaklah bisa diberi label ‘sesat’. (www.hayatulislam.net , Asif Khan, Kritik: Terbagi ke Dalam 73 Golongan).

Kebenaran hanya milik Allah SWT, bukan milik satu golongan. Bahkan para imam madzhab sendiri tidak pernah mengklaim bahwa diri (madzhab) merekalah yang paling benar, simaklah pernyataan para Imam Madzhab tersebut :

Imam Abu Hanifah (Hanafi):

“Jika suatu hadits shahih, itulah madzhabku”

“Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu darimana kami mengambil sumbernya”

Imam Malik (Maliki):
“Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Quran dan sunnah, ambillah, dan bila tidak sesuai dengan Al-Quran dan sunnah, tinggalkanlah”

Imam Syafi’i:

“Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah SAW, peganglah hadits Rasulullah SAW itu dan tinggalkanlah pendapatku itu”

Imam Ahmad bin Hambal (Hambali):

“Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.” (Lihat Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Sifat Shalat Nabi, hal. 53-60)

Begitulah para imam madzhab menganjurkan untuk tidak merasa paling benar sendiri dan tidak taqlid kepada satu golongan, merekalah salafus shalih yang benar. Ketika salafi merasa paling benar sendiri, maka salafi bukanlah salafush shalih yang benar seperti yang telah dicontohkan oleh para imam madzhab.

Bahkan diantara imam madzhab terdapat perbedaan ijtihad dalam beberapa masalah furu’, mereka tidak saling membid’ahkan dan menyesatkan satu sama lain. Bahkan menganjurkan untuk menelaah dulu hujjah mereka dan jika ada hujjah yang lebih kuat (quwwatut dalil) silahkan diambil hujjah itu.

Di lain hal, jaminan Allah SWT terhadap hamba-Nya ahli syurga adalah kepada orang yang mukmin, tidak ada klasifikasi apakah mukmin salafi, mukmin ikhwani, mukmin tahriri, mukmin tablighi, dan mukmin-mukmin tertentu saja. Selama mukmin tersebut menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya, maka Allah SWT menjanjikan syurga bagi mukmin tersebut.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka.” (QS At-Taubah 111).

Golongan yang lain adalah sesat dan bid’ah serta lebih berbahaya daripada golongan fasik

Salafi meyakini golongan lain yang berbeda dengan mereka sebagai sesat dan ahlu bid’ah. Golongan bi’dah ini lebih berbahaya dari pada golongan fasik (pelaku maksiat), karena golongan fasik masih bisa dinasehati dan diajak kejalan yang benar karena mereka tahu telah berbuat maksiat, sedangkan ahlu bid’ah tidak tahu bahwa mereka telah sesat, sehingga sulit untuk diajak kejalan yang benar.

“Sebab pelaku maksiat masih bisa diharap untuk bertaubat, karena dia merasa berdosa dan tahu bahwa dirinya berbuat maksiat. Berbeda dengan ahli bid’ah, sedikit sekali kemungkinannya untuk bertaubat. Karena mubtadi’ (pelaku bid’ah) menyangka kalau dirinya di atas kebenaraan, dan menyangka bahwa dirinya orang yang taat serta di atas ketaatan.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 22).

Istiqamahnya golongan yang dianggap sesat dan bid’ah oleh salafi dengan pendapat (ijtihad) mereka, adalah hal yang wajar dan dapat dipahami, karena golongan ini mempunyai hujjah yang kuat juga untuk mempertahankan ijtihad mereka. Di sisi lain, perbedaan dalam masalah furu’iyah khilafiyah merupakan hal yang biasa dalam khazanah Islam dan para mujtahid (lihat penjelasan pada poin 2).

Hanya mereka yang berhak menyandang nama salafi

Salafi meyakini bahwa wajib memberikan nama golongan yang selamat itu sebagai salafi dan melarang golongan lain menggunakan nama salafi :

“Jadi penisbatan kepada salaf adalah penisbatan yang harus, sehingga jelaslah bagi salafi (pengikut salaf) terhadap al-haq.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 33, catatan kaki).

“Oleh karenanya tidak boleh memakai nama salafiyah, bila tidak di atas manhaj salaf.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 34).

Sikap ini menunjukkan rasa ‘ashabiyyah yang kental, dengan menganggap golongannya yang paling benar, padahal Rasulullah SAW mencela sikap ‘ashabiyyah ini :

“Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ‘ashabiyyah, orang yang berperang karena ‘ashabiyyah, serta orang yang mati karena ‘ashabiyyah.” (HR Abu Dawud).

Bahkan Shalih bin Fauzan Al-Fauzan yang merekomendasikan kitab “Menepis penyimpangan manhaj Dakwah”, dalam kitabnya Al-Wala’ dan Al-Bara’ melarang bersikap ‘ashabiyyah :

“Inilah keadaan orang-orang yang ashabiyah pada saat ini dari sebagian pengikut-pengikut madzhab, aliran tasawuf serta penyembah-penyembah kubur. Apabila mereka diajak untuk mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah serta membuang jauh apa-apa yang menyelisihi keduanya (Al-Kitab dan As-Sunnah) mereka berhujjah (berdalih) dengan madzhab-madzhab, syaikh-syaikh, bapak-bapak dan nenek moyang mereka.” (Lihat Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Al-Wala’ dan Al-Bara’, hal. 63-64).

Bagaimana bisa timbul pertentangan, satu sisi merekomendasikan sebuah kitab yang sangat kental sikap ‘ashabiyyahnya karena merasa golongan yang paling benar dan hanya mengacu kepada ijtihad ulamanya sendiri, tetapi dalam kitab lain melarang orang-orang bersikap ‘ashabiyyah. Ini salah satu pertentangan beberapa kitab diantara ulama-ulama salafi, bahkan dalam satu kitab bisa terjadi pertentangan satu sama lain.

2. Mencela golongan/ulama lain

Tidak boleh berkasih sayang, berteman, semajelis dan shalat di belakang golongan sesat dan bid’ah. Jangan ungkapkan kebaikannya dan selalu ungkapkan keburukan golongan sesat dan bid’ah.

Terkait dengan poin 1 diatas dimana hanya golongan salafilah yang paling benar, mengakibatkan salafi dengan mudah mencela golongan/ulama lain yang berbeda ijtihad dengan mereka, bahkan salafi melarang berkasih sayang dan berteman dengan mereka :

“Adapun apabila bermaksud berkasih sayang dengan mereka atau berteman dengan mereka tanpa (ada maksud) mendakwahi dan menjelaskan yang haq, maka tidak boleh. Seseorang tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang menyimpang tersebut, kecuali di dalamnya didapatkan faedah syar’i, yaitu menyeru mereka kepada Islam yang benar dan menjelaskan al-haq agar kembali kepada kebenaran.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 26)

Tidak boleh semajelis dengan mereka :

“Abu Qalabah berkata,’Janganlah kalian bermajelis dengan mereka dan jangan kalian bergaul dengan mereka. Sesungguhnya saya tidak merasa aman dari mereka yang akan menceburkan kalian dalam kesesatannya. Atau mengaburkan kebenaran-kebenaran yang telah kalian ketahui.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 111, catatan kaki)

Bahkan salafi tidak boleh shalat di belakang mereka :

“Jangan shalat di belakang mereka, seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 66, catatan kaki)

Tidak boleh mengungkapkan secuilpun kebaikan mereka, karena mengakibatkan orang awam akan mengikuti mereka, dan harus diungkapkan keburukan-keburukannya :

“Apabila engkau menyebutkan kebaikan-kebaikannya, berarti engkau menyeru untuk mengikuti mereka. Jangan… jangan engkau sebutkan kebaikan-kebaikannya. Sebutkan saja penyimpangan-penyimpangan yang ada pada mereka. Karena engkau diserahi untuk menjelaskan kedudukan mereka dan kesalahan-kesalahan agar mereka mau bertaubat, dan agar orang lain berhati-hati terhadapnya.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 28-29)

Begitu berbahayanya golongan yang dianggap sebagai sesat dan bid’ah tersebut, sehingga “nyaris” diperlakukan seperti orang kafir, tidak boleh berteman, berkasih sayang dan semajelis dengan mereka. Karena begitulah perintah Allah SWT dalam memperlakukan orang-orang kafir, mukmin tidak boleh berteman dekat dengan orang kafir :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.” (QS Ali Imran 118).

Tidak boleh semajelis dengan mereka :

“Dan sungguh Allah telah menurunkan padamu didalam Al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk berserta mereka. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir didalam neraka jahanam.” (QS An-Nisa’ 140).

Padahal sesama mukmin itu bersaudara, apapun golongan, kebangsaan, dan sukunya, selama ia seorang muslim maka ia saudara bagi muslim yang lain. Rasulullah SAW tidak pernah membedakan antara Abu Bakar dan Umar yang Arab, Bilal yang Habsyi (negro), Salman yang Persi dan Shuhaib yang Rumawi, semuanya sama di hadapan Rasulullah SAW selama mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat 10).

Sesama mukmin tidak boleh saling mencela, mendzalimi dan merendahkan, serta harus berda’wah dengan lemah lembut :

“Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; satu sama lain tidak boleh saling mendzalimi, menelantarkan dan merendahkan.” (HR Muslim dan Ahmad).

“Maka disebabkan rahmat Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka.” (QS Ali Imran 159)

Golongan sesat dan bid’ah harus dihambat gerakannya dan kalau perlu dimusnahkan

Salafi meyakini golongan lain sesat dan menyesatkan (termasuk partai politik) dan salafi memberikan istilah hizbiyyah atau harakah. Metode da’wah hizbiyyah ini dinilai beraneka ragam, ruwet, lagi kacau. Semuanya harus dihambat gerakannya dan kalau perlu dimusnahkan karena sangat berbahaya bagi masyarakat, karena golongan ini akan meracuni masyarakat dan menyebar perpecahan umat. (Lihat Abul Hasan Musthafa, Bunga Rampai Fatwa-Fatwa Syar’iyah, Jilid 1, hal. 39)

“Da’i salafiyun tidak boleh memberi kelapangan bagi tersebarnya manhaj-manhaj mereka. Bahkan wajib mempersempit ruang gerak dan memusnahkan manhaj mereka.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 69, catatan kaki).

Sehingga kaum muslimin harus menyatu dalam satu golongan saja, yakni salafi. Tidak boleh ada golongan-golongan lain yang eksis, adanya jamaah-jamaah, kelompok-kelompok atau golongan-golongan menunjukkan adanya perpecahan umat Islam. (Lihat Abul Hasan Musthafa, Bunga Rampai Fatwa-Fatwa Syar’iyah, Jilid 1, hal. 39)

Hampir semua golongan dianggap sesat dan menyesatkan oleh salafi, mereka pukul rata antara golongan yang sesat dengan golongan yang benar. Hanya gara-gara beberapa perbedaan ijitihad dalam masalah furu’, dengan mudah salafi menyesatkan golongan tersebut.

Salafi menyesatkan golongan syi’ah (rafidhah) dan Ahmadiyah, salafi juga menyesatkan pula golongan lain yang berbeda ijtihad dalam beberapa hal dengan mereka semisal Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir, NII, Tasawuf, dll. (Lihat Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, hal. 95-145).

“Saya (Abu Abdillah) berkata,’Ya Allah ya Rabb kami saksikanlah bahwa kami bara’ (berlepas diri) dari dakwah IM dan pendirinya, yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah dan apa-apa yang ada pada pendahulu umat ini.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 26, catatan kaki).

Ulama yang berbeda ijtihad dengan salafi dianggap sesat dan ahlu bid’ah, diharamkan membaca kitab-kitab mereka.

Ulama-ulama besar dan berjasa bagi kebangkitan kaum muslimin tidak luput dari celaan salafi, menganggap mereka ahlu bid’ah, dilarang memuji, mengagungkan mereka, mengharamkan untuk membaca kitab-kitab mereka dan mendengarkan kaset-kaset mereka. Hal ini terjadi karena perbedaan ijtihad dalam beberapa hal saja. Ulama yang mereka anggap sesat dan ahlu bid’ah antara lain;

Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Abul A’la Al-Maududi, Taqiyuddin An-Nabhani, Muhammad Al-Ghazali, Muhammad Surur, Hasan Turabi, Yusuf Qaradhawi,

dan

ULAMA YANG TIDAK SEFAHAM DENGAN MEREKA 

“Bahkan ada orang yang memuji-muji: Abul A’la Al-Maududi dan kitab-kitabnya, Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin, Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Hasan Turabi dan yang semisal mereka dari kalangan ahlu bid’ah.”

(Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 129, catatan kaki).

“Tidak boleh membaca kitab-kitab ahlu bid’ah maupun mendengarkan kaset-kaset mereka. Kecuali orang yang ingin membantah dan menjelaskan kerusakan mereka.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 111, catatan kaki).

“Hingga siapa saja yang memuji, memuliakan, mengagungkan kitab-kitab mereka, atau memberi udzur (maaf) untuk mereka, maka samakan dia dengan mereka (ahlul bid’ah dan ahlu ahwa’), dan tidak ada kemuliaan bagi mereka semua.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 133, catatan kaki).

“Hati-hati engkau terhadap kitab-kitab ini. Ini adalah kitab-kitab bid’ah dan sesat, berpeganglah kalian kepada atsar.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 112, catatan kaki).

Sungguh sikap tercela dengan menganggap golongan/ulama itu sesat, hanya karena dalam beberapa hal ijtihad mereka berseberangan dengan salafi. Dalam masalah-masalah furu’iyah khilafiyah bisa saja perbedaan ijtihad, para sahabat seringkali berbeda pendapat dalam banyak hal, yang terkait kepada masalah-masalah furu’. Mujtahid-mujtahid besar dalam Islampun mempunyai perbedaan pendapat diberbagai aspek agama Islam, tetapi sekali lagi masalah yang menjadi dasar perbedaan tersebut adalah dalam furu’. Tetapi mereka tidak saling menyesatkan dan membid’ahkan.

(www.hayatulislam.net , Asif Khan, Kritik: Terbagi ke Dalam 73 Golongan).

Kasus yang sangat populer di zaman Rasulullah SAW dimana diyakini sebagai landasan dibolehkannya perbedaan (ikhtilaf) dalam masalah furu’, adalah saat perang Khandaq. Di mana para sahabat memahami berbeda perintah Rasulullah SAW :

“Janganlah salah seorang dari kalian melaksanakan shalat ashar kecuali di (daerah) Bani Quraizhah.” (HR Bukhari)

Para sahabat ada yang shalat Ashar dalam perjalanan, ada juga yang mengakhirkan shalat ‘Ashar hingga sampai di Bani Quraizhah, maka Rasulullah SAW-pun mendiamkan (taqrir) kedua kelompok sahabat yang berbeda itu (Lihat Muhammad Asy-Syuwaiki, Masalah-Masalah Khilafiyah di Antara Gerakan Islam, hal. 14). Hal ini diyakini bahwa dibolehkan terjadinya ikhtilaf dalam masalah furu’ dan membantah dengan tegas pernyataan salafi bahwa “Kebenaran hanya satu” karena dalam kasus melaksanakan shalat ‘Ashar yang berbeda di antara dua kelompok sahabat ini didiamkan (taqrir) oleh Rasulullah SAW atau kedua kelompok sahabat itu benar dan tidak ada yang salah.

Khatimah:

1. Salafi merasa dirinya yang paling benar, karena mereka meyakini kebenaran hanya satu, indikasi yang terdapat dalam hadits hanya satu golongan yang masuk syurga dari 73 golongan adalah golongan salafi, serta salafi menganggap sesat dan bid’ah golongan yang berseberangan ijtihad dengan mereka. Sehingga sulit bagi salafi untuk menerima ijtihad yang berbeda dengan mereka dan sangat taqlid dengan ijtihad ulama-ulama mereka.

2. Salafi cenderung mencela golongan lain, karena salafi diperintahkan untuk mengungkapkan semua keburukan golongan sesat dan bid’ah itu dan dilarang mengungkapkan secuil-pun kebaikan mereka. Karena mengungkapkan kebaikan mereka akan menyebabkan orang lain mengikuti golongan sesat dan bid’ah itu. Sehingga tidak heran jika buku-buku dan website-website salafi banyak memuat celaan sesat dan bid’ah kepada golongan lain.

3. Salafi juga melarang untuk berkasih sayang, berteman dengan golongan selain mereka, bahkan tidak boleh shalat di belakang mereka, salafi menyesatkan ulama yang mereka anggap ahlu bid’ah, melarang memuji, mengagungkan, membaca kitab dan mendengarkan kaset ulama-ulama tersebut. Sehingga salafi akan mengalami kesulitan dalam menjalin ukhuwah dengan golongan lain, malah akan menimbulkan pertentangan dan perpecahan dengan golongan lain.

4. Salafi akan menghambat gerak da’wah golongan yang dianggap sesat dan bid’ah oleh mereka, bahkan harus memusnahkan mereka (golongan da’wah dan partai politik), karena golongan itu dianggap akan meracuni umat dan menimbulkan perpecahan. Sehingga akan timbul benturan di medan da’wah antara salafi dengan golongan lain, karena golongan lain merasa dihalang-halangi saat berda’wah di area-area yang dikuasai oleh salafi.

Diharapkan setelah memahami karakter salafi ini, kita mampu mengantisipasi menghadapi golongan seperti ini. Tetapi jangan kaget, jika penjelasan dari kitab-kitab salafi di atas, akan ditemukan pertentangan dalam kitab-kitab salafi yang lain. Karena di antara ulama salafi sendiri bisa terjadi saling pertentangan, seperti halnya terpecahnya salafi dalam beberapa golongan.

Wallahua’lam

BIN BAZ & SEMUA WAHHABI KAFIRKAN SAHABAT NABI (bukti rasmi Wahabi )

http://www.abu-syafiq.blogspot.com


DI ATAS ADALAH KITAB FATHUL BARY SYARAH SOHIH BUKHARY OLEH ULAMA ISLAM AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH AL-ASYA’IRAH IAITU IMAM SYEIKH IBNU HAJAR AL-ASQOLANY.
DI ATAS PULA ADALAH ISI KANDUNGANNYA DALAM PERMULAAN KITAB TADI YANG DICETAK DENGAN NAMA 4 BUAT SYARIKAT PENCETAKAN MENYATAKAN KITAB TERSEBUT TELAH DI TAHKIK ( DILETAK NOTA ) OLEH ABDUL AZIZ BIN BAZ AL-WAHHABI.LIHAT LINE YANG TELAH DIMERAHKAN.

NAH….INILAH BUKTI BAHAWA BIN BAZ MUFTI WAHHABI DAN KESEMUA WAHHABI DI MALAYSIA MENGKAFIRKAN SAHABAT NABI MUHAMMAD:

DI ATAS ADALAH ISI KANDUNGAN KITAB TERSEBUT YANG DITAMBAH NOTA KAKINYA OLEH BIN BAZ AL-WAHHABI DAN KESEMU WAHHABI DI MALAYSIA MEMPERAKUINYA.TERTERA PADA LINE YANG BERWARNA MERAH HADITH NABI YANG SAHIH DALAM KITAB FATHUL BARY TERSEBUT MENYATAKAN BAHAWA SAHABAT NABI YANG BERNAMA BILAL AL-HARITH ALMUZANY TELAH MELAKUKAN AMALAN TAWASSUL IAITU MEMINTA HUJAN DARI ALLAH BERTAWASSULKAN NABI DINAMAKAN “ISTISQO’ “.

PADA LINE YANG BERWARNA BIRU PULA ADALAH KENYATAAN RASMI BIN BAZ AL-WAHHABI DAN KESEMUA WAHHABI MALAYSIA MEMPERSETUJUINYA DIMANA KENYATAAN TERSEBUT AMAT JELAS WAHHABI MENGKAFIRKAN DAN MENGHUKUM SYIRIK SAHABAT NABI (BILAL) KERANA BERTAWASSULKAN NABI KETIKA ” ISTISQO’ “.
DAN PERHATIKAN PADA KENYATAAN WAHHABI DIATAS: و ان ما فغله هذا الرجل منكر ووسيلة الى الشرك
YANG DIERTIKAN “SESUNGGUHNYA APA DILAKUKAN OLEH LELAKI INI IAITU SAHABAT NABI MUHAMMAD (BILAL) ADALAH SATU-SATUNYA PEMBAWA SYIRIK“.
DAN PERHATIKAN PADA AYAT SELEPASNYA LEBIH JELAS WAHHABI MENGKAFIRKAN SAHABAT NABI DAN MENGHUKUM SAHABAT NABI MUHAMMAD (BILAL) SEBAGAI MUSYRIK.

Semoga Allah memelihara kita dari terjatuh dalam kancah wahhabi atau yg seakidah dgn Wahhabi.sekalipun nk didakwa Wahhabi tak wujud didunia ini tapi kekufuran mereka masih menyebarkannya termasuk website mereka yg bertopengkan ahkam.

http://www.abu-syafiq.blogspot.com 012-2850578 (antipuakkuffar)

AL-BANI BERAKIDAH ” ALLAH WUJUD TANPA TEMPAT ” & TOLAK AKIDAH “ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK ATAS ‘ARASY”



ALBANI & AZ-ZAHABI KATA: AKIDAH ISLAM ADALAH “ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT” & ALLAH TIDAK BERSEMAYAM/DUDUK ATAS ARASY.

Oleh: Abu Syafiq ( Hp: 006-012-2850578 )

Sememang kebenaran akidah Islam tidak dapat ditolak oleh golongan munafiq mahupun kafir Mujassim. Ini kerana burhan dan adillah (hujjah dan dalil) yang terbit dari sumber yang mulia iaitu Al-Quran dan Hadith tiada secebis pun keraguan manakan pula kebatilan. Antara akidah Islam adalah “ Allah Wujud Tanpa Bertempat” dan inilah antara yang Ahlu Sunnah Wal Jama’ah war-warkan bagi memberi kefahaman yang tepat dalam perbincangan akidah Islam dalam mentauhidkan diri kepada Allah.

WAHHABI MALAYSIA KAFIRKAN ALBANI & AZ-ZAHABI
Kesemua Wahhabi di Malaysia berakidah dengan akidah yang tidak menepati Al-Quran dan Hadith Nabawi. Ini amat jelas dengan hujjah yang telah saya ( Abu Syafiq ) kemukakan sebelum2 ini berlandaskan ayat2 Allah dan sabda Nabi Muhammad berkonsepkan kaedah ulama Salaf dan Khalaf tulen.

Semua Wahhabi di Malaysia yang berakidah Allah Bertempat telah menghukum kafir terhadap umat Islam yang berakidah benar Allah Wujud Tanpa Bertempat. Pada masa yang sama Wahhabi di Malaysia alpa akan akidah tok guru mereka sendiri Nasiruddin Al-Bany dan rujukan utama mereka Al-Hafiz Az-Zahaby yang juga berakidah Allah Wujud Tanpa Bertempat, malangnya Wahhabi mengkafirkan sesiapa yang berakidah sedemikian. Ini amat jelas semua Wahhabi di Malaysia bukan hanya mengkafirkan umat Islam bahkan turut mengkafirkan tok guru dan rujukan utama mereka sendiri iaitu Al-Bani dan Az-Zahabi.

Silakan pembaca rujuk teks kenyataan Allah Wujud Tanpa Bertempat Dan Tanpa Berarah oleh Al-Bani & Az-Zahabi :

Kitab: Mukhtasor ‘Ulu Li ‘Aliyyil ‘Azhim.
Pengarang: Syamsuddin Az-Zahabi.
Pentahkik: Nasiruddin Al-Bani.
Cetakan: Maktab Islami.
Mukasurat: 71.

Kenyataan teks Al-Bani bersumber kitab di atas : “ Apabila kamu telah mendalami perkara tersebut, denganizin Allah kamu akan faham ayat-ayat Al-Quran dan Hadith Nabai serta kenyataan para ulama Salaf yang telah dinyatakan oleh Az-Zahabi dalam kitabnya ini Mukhtasor bahawa erti dan maksud sebalik itu semua adalah makna yang thabit bagi Allah iaitu ketinggian Allah pada makhluk-makhlukNya ( bukan ketinggian tempat), istawanya Allah atas arasyNya layak bagi keagonganNya dan Allah tidak ber arah dan Allah tidak bertempat”.
(Sila rujuk kitab tersebut yang telah di scan di atas).

Saya menyatakan:
Al-Bani telah nukilan lafaz akidah yang benar walaupun ulama Islam telah maklum bahawa golongan Mujassimah dan Tabdi’ ini pada hakikatnya akidah mereka sering berbolak balik. Albani pun mengatakan Allah tidak bertempat tetapi Wahhabi di Malaysia pula berakidah Allah itu bertempat bahkan mereka mengkafirkan pula sesiapa yang percaya Allah wujud tanpa bertempat. Kenyatan Al-Bani menafikan tempat bagi Allah adalah secara mutlak dan tidak disebut tempat yang makhluk atau tidak dan ini juga adalah bukti Al-Bani dan Az-Zahabi menafikan Allah Bersemayam/Duduk Atas Arasy. Sememangnya Al-Bani dan Az-Zahabi sering menolak akidah Allah Bersemayam/Duduk Atas ‘Arasy.

Soalan saya kepada Wahhabi..mengapa kamu mengkafirkan Muhaddith kamu ini? Adakah Syeikh Islam kamu, ulama kamu dan Muftary kamu termasuk Albani ini adalah kafir kerana berakidah Allah Tidak Bertempat? Sekiranya TIDAK maka mengapa kamu bawa akidah palsu dan sekiranya YA maka kamu semua adalah NAJIS SYAITON!.

Wahai pembaca yang berakal dan budiman….
– Albani berakidah “ Allah Wujud Tanpa Bertempat dan Tidak Ber Arah ” tetapi Wahhabi Malaysia kafirkan akidah tersebut.

– Hafiz Az-Zahabyi berakidah “ Allah Wujud Tanpa Bertempat dan Tanpa Ber Arah ” tetapi Wahhabi Malaysia kafirkan akidah tersebut bahkan Wahhabi berakidah Allah bertempat. Sila rujuk bukti:

http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/12/buku-wahhabi-yang-tersebar-di-seluruh.html

Nah..! Dimanakah hendak dikategorikan golongan Wahhabi ini? Jamban,mangkuk, tandas? atau di tanah perkuburan yang hanya disemadikan dalamnya ahli-ahli Mujassimah pengkhianat amanah?!.

Apapun saya doakan hidayah keimanan diberikan oleh Allah kepada Wahhabi yang masih hidup.

Wassalam.

http://www.abu-syafiq.blogspot.com

Syaikh Nashiruddin Albani Kafirkan Syaikh Bin Baz dan Tuwaijiry

Syaikh Nashiruddin Albani Kafirkan Syaikh Bin Baz dan Tuwaijiry

.

Mufti BEN BAZ&Tuwaijiry adalah KAFIR&MUSYABBIH- kata Al-Bani (berbukti)

.

.

AL-ALBANI AL-WAHHABI KAFIRKAN BEKAS MUFTI SAUDI BEN BAZ AL-WAHHABI

Seorang tokoh agama baru agama Wahhabi bernama Nasiruddin Al-Albani yang menjadi nabi kepada agama Wahhabi telah menghukum KAFIR ke atas seluruh Wahhabi khususnya pengarang buku Wahhabi yang terkenal bernama Al-Tuwaijiry dan Abdul Aziz Bin Baz kerana menyamakan Allah dengan makhluk dan merujuk dhomir kata ganti nama dalam hadith Nabi dengan cara yang salah dan terpesong.

At-Tuwaijiry merupakan penulis buku Wahhabi yang banyak mengunakan dalil dari ucapan Yahudi untuk menyamakan Allah dengan makhluk dan Abdul Aziz Bin Baz yang merupakan bekas Mufti Saudi pula memuji bukunya dan menyokong sepenuhnya dengan menyatakan bahawa dhomir tersebut kembali kepada Allah dan dengan itu Al-Albani telah menghukum KAFIR ke atas kedua-duanya sekali kerana sepatutnya dhomir itu kembali kepada nabi Adam. Maha suci Allah dari menyerupai nabi Adam dan makhluk lain.

DOWNLOAD KENYATAAN AL-ALBANI TERSEBUT DISINI: KLIK

http://albrhan.org/portal/index.php?show=sounds&op=download&id=339

Sekiranya anda telah download rakaman itu sila fokuskan pada pentakfiran Al-Albani Al-Wahhabi keatas Wahhabi At-Tuwaijiry termasuk Ben Baz bekas Mufti Saudi yang menyokong Al-Tuwaijiry. Sila fokus pada minit 12 hingga tamat.

Wassalam

WAHHABI MUJASSIM DAKWA ALLAH ADA BAYANG-BAYANG



( BUKTI WAHHABI MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK, WAHHABI MENDAKWA ALLAH ADA BAYANG-BAYANG DAN BERSIFAT DENGAN BAYANG-BAYANG ).Disusun oleh: Abu Syafiq ( Call lah saya untuk berbincang 012-2850578 )

ORANG YAHUDI JUGA MENDAKWA BERIMAN KEPADA ALLAH. TETAPI “ALLAH” BAGI ORANG YAHUDI ITU ADALAH YANG BERANAK DAN BERJISIM. WAHHABI TURUT MENJISIMKAN ALLAH DENGAN MENYIFATKAN ALLAH SERUPA DENGAN MAKHLUK, ALLAH DUDUK ATAS KERUSI, ALLAH ADA BAYANG-BAYANG, ALLAH BERSIFAT DENGAN BAYANG-BAYANG DAN PELBAGAI LAGI DARI AQIDAH TAJSIM.

Umat Islam tidak cukup dengan tosokkan kuat datang dari Yahudi sendiri kini agennya pula sering menyerapkan aqidah tajsim menyamakan Allah dengan makhluk.Wahhabi bukan sahaja mendakwa Allah mempunyai telinga dan mulut. Wahhabi juga menyamakan Allah dengan mendakwa Allah ada BAYANG-BAYANG.
Makhluk macam manusia ada bayang2, matahari pun ada bayang2 dan bayang-bayang bukan sifat kesempurnaan tetapi menunjukkan kepada sifat lemahnya makhluk tersebut. Maka bayang-bayang adalah sifat makhluk BUKAN sifat bagi Tuhan Yang Maha Esa.

Cukup pelik kerana Wahhabi mendakwa sebagai Salaf ( hakikatnya bukan Salaf tapi Mujassim) Wahhabi menyifatkan Allah dengan sifat yang tidak pernah dinyatakan oleh mana-mana ulama Islam termasuk ulama Salafi sebenar mahupun ulama Khalaf.
Tidak ada ulama Islam seorang pun yang menyifatkan Allah dengan sifat BAYANG-BAYANG…cukup pelik jijik dan hina Wahhabi ini.

WAHHABI DENGAN LIDAH DAN PENGAKUAN ABDUL AZIZ BIN BAZ MENDAKWA ALLAH ADA BAYANG-BAYANG DAN SIFAT ALLAH BERBAYANG-BAYANG.

Bin Baz apabila ditanya adakah Allah mempunya bayang-bayang? lantas Bin Baz menjawab Allah ada bayang-bayang dan bersifat dengan sifat bayang-bayang yang mempunya bentuk dan rupa.
Rujuk: http://www.binbaz.org.sa/mat/4234

Inilah bukti aqidah Wahhabi telah diresapi dengan falsafah Mujassimah.
Subhanallah…bukan kesemua nas yang disandarkan sesuatu itu kepada Allah maka ianya sifat bagi Allah.TIDAK!. Tetapi hendaklah dilihat pengertian yang mengikut konsep akidah Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Allah ta’ala menyandarkan pada diriNya Ruh..adakah kita nak sifatkan Allah dengan sifat RUH…Ini dah jadi mcm Kristian mendakwa Allah adalah RUH MUQADDAS.Maha suci Allah dari disifatkan dengan ruh.

* AQIDAH ‘ ALLAH ADA BAYANG-BAYANG DAN BERSIFAT DENGAN BAYANG-BAYANG’ ADALAH AQIDAH KARUT MARUT ISRAILIYYAT BUKAN AQIDAH ISLAM.

Semoga Allah menetapkan kita dalam aqidah Tanzih dan memberi hidayah aqidah kepada golongan Wahhabi.

http://www.abu-syafiq.blogspot.com

Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan

KEDUSTAAN DAN KESESATAN BUKU :
“Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan”
Oleh : Al-Ustadz Abu Ahmad as-Salafi -hafidzohulloh-

burning_bookDi antara karakteristik ahli bid’ah dari masa ke masa, mereka selalu mencela dan mencoreng citra Ahli Sunnah wal Jama’ah untuk menjauhkan umat dari al-haq. Al-Imam Abu Hatim ar-Rozi rohimahulloh berkata: “Ciri ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar.”(1) Al-Imam Abu Utsman ash-Shobuni rohimahulloh berkata: “Tanda yang paling jelas dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap pembawa sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Mereka melecehkan dan menghina ahli Sunnah dan menamakan ahli Sunnah dengan Hasyawiyyah (orang-orang pinggiran yang tidak faham agama dengan sebenarnya), Jahalah (orang-orang bodoh), Dhahiriyyah (orang-orang fundamentalis), dan Musyabbihah (orang-orang yang menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya).”(2)

Di antara deretan buku-buku ‘hitam’ yang mencela Salafiyyun dan Dakwah Salafiyyah ialah buku Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan yang beredar baru-baru ini. Isi buku ini tidak jauh berbeda dari buku para pendahulunya seperti Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah oleh Sa’id Romadhon al-Buthi(!) atau Salaf wa Salafiyyun Ru’yah minad Dakhil oleh Ibrahim As’as(!). Buku kecil ini sarat dengan syubhat yang menyesatkan serta kedustaan atas Salafiyyin dan Dakwah Salafiyyah.

Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin dan membela dakwah yang haq, dengan memohon pertolongan kepada Alloh akan kami paparkan sebagian kesesatan dan kedustaan buku ini agar menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi kita semua.

Penerbit dan Pengedar Buku Ini

Buku ini disusun oleh Tim Studi Kelompok Sunniyyah dan diterbitkan oleh Pustaka MIM pada bulan Robi’ul Awwal 1427 H/April 2006 M. Pengedar buku ini adalah HASMI yang berada di bawah naungan Yayasan Al-Huda, Bogor.

Sebagai catatan, beberapa bulan lalu telah datang pertanyaan dari sebagian pembaca Majalah AL FURQON kepada kami yang belum sempat kami jawab, yaitu: “Apakah HASMI termasuk kelompok Sururi?” Insya Alloh dengan menelaah buku yang mereka sebarkan ini jatidiri mereka bisa diraba.

Menyebarkan Keraguan Terhadap Istilah Salafiyyah dan Salafiyyun

TimStudiKelompokSunniyyah (TSKS) berkata di hal. 7-8 buku mereka ini: “Manhaj Ahli Sunnah terkadang pula disebut atau dinamakan dengan istilah Salafiyyah, walaupun sebenarnya nama Salafiyyah tidak mendapatkan legitimasi resmi sebagai nama lain dari manhaj Ahlus Sunnah. Salafiyyah hanyalah merupakan kata atau istilah bantu untuk memastikan bahwa As-Salaf Ash-Shalih (tiga generasi pertama) berjalan di atas manhaj tersebut!”

Bandingkan perkataan mereka ini dengan perkataan Sa’id Romadhon al-Buthi dalam judul kitabnya: “Salafiyyah adalah fase kurun waktu yang penuh berkah dan bukan madzhab Islami”(!)

Perkataan al-Buthi ini telah dibantah oleh Syaikh Sholih al-Fauzan(3) di dalam kitab beliau Nazhorot wa Ta’qibat ‘ala Ma fi Kitabi Salafiyyah li Muhammad Sa’id Romadhon minal Hafawat, kata beliau: “Penafsiran bahwasanya Salafiyyah hanyalah suatu kurun waktu dan bukan jama’ah adalah penafsiran yang ghorib (asing) dan batil, apakah dikatakan bahwa kurun waktu adalah Salafiyyah? Ini tidak pernah dikatakan oleh seorang pun. Yang benar, istilah Salafiyyah ditujukan pada jama’ah orang-orang yang beriman yang hidup di kurun pertama dari masa Islam yang berpegang teguh pada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam! dari orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka ini disifati oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dalam sabdanya:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah genenasiku, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian yang datang sesudah mereka.” (Muttafaq’Alaih)

Ini adalah sifat bagi suatu jama’ah dan bukan sifat bagi suatu kurun waktu, ketika menyebut tentang perpecahan umat, sesudahnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengatakan sifat semua kelompok ini “Semuanya di neraka kecuali satu” dan beliau menyifati satu kelompok yang selamat ini adalah yang mengikuti manhaj salaf dan berjalan di atasnya, beliau bersabda: “Mereka adalah yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini.” Hal ini menunjukkan adanya jama’ah salafiyyah yang terdahulu dan jama’ah salafiyyah belakangan yang mengikuti manhaj jama’ah salafiyyah yang terdahulu. Di lain pihak ada kelompok-kelompok yang menyelisih jama’ah salafiyyah, dan (mereka) diancam dengan neraka.”

TSKS berkata dalam buku mereka ini hal. 11: “Pada dekade terakhir, muncul suatu arus pengajian atau pemahaman yang, menamakan diri mereka sebagai Salafiyyun … penamaan ini merupakan hal baru (bid’ah)!”

Perkataan TSKS ini telah dibantah oleh Syaikh Bakar bin Abdulloh Abu Zaid(4) yang menjelaskan tentang disyari’atkannya penamaan Salafiyyun, beliau berkata: “Jika disebut salaf atau salafiyyun atau salafiyyah, maka dia adalah nisbah kepada Salafush Sholih: para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, bukan orang-orang yang cenderung kepada hawa nafsu dari generasi sesudah sahabat dan menyempal dari jalan para sahabat dengan nama atau simbol -mereka inilah yang disebut kholafi, nisbah kepada kholaf-. Adapun orang-orang yang teguh di atas manhaj kenabian menisbahkan diri kepada Salafush-sholih sehingga mereka disebut salaf dan salafiyyun, dan nisbah kepada mereka adalah salafi.” (Hukmul Intima’ hal. 90)

Melecehkan Para Ulama

TimStudiKelompokSunniyyah (TSKS) berkata dalam hal. 13 buku mereka ini: “Ketika pada tahun 1990 terjadi perang Kuwait, muncullah beberapa bentuk pertentangan di antara masyayikh yang ada di Saudi Arabia …. Yang dimaksud para masyayikh adalah beberapa masyayikh di Najd dan Madinah. Dari segi ilmu, mereka semua di bawah level Lajnah Daimah atau Hay’ah Kibar al-Ulama.”

Kami katakan: TSKS hendak menyamakan level (taraf) antara para ulama Madinah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, Syaikh Muhammad Aman al-Jami, Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi, Syaikh Sholih bin Sa’ad as-Suhaimi, dan yang lainnya dengan para tokoh khotbah muda dari Najd seperti Salman al-Audah, Safar Hawali, Aidh al-Qorni, dan yang lainnya! Setiap orang yang jujur dan obyektif akan mengatakan bahwa mereka tidaklah selevel dengan para ulama Madinah dari segi usia, apalagi dari segi ilmu! Realita yang sesungguhnya, perbandingan antara dua kelompok ini adalah perbandingan antara para ulama dengan para tokoh khotbah, seperti yang dikatakan oleh Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu anhu tentang zaman ini:

إِنَّكُمْ فِيْ زَمَانٍ كَثِيْرٌ عُلَمَاؤُهُ قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ وَإنَّ بَعْدَكُمْ زَمَانًا كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ وَالعُلَمَاءُ فِيهِ قَلِيلٌ

“Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di zaman yang banyak ulamanya dan sedikit juru khotbahnya, dan sesungguhnya akan datang sesudah kalian suatu zaman yang banyak juru khotbahnya dan sedikit ulamanya.” (Diriwayatkan oleh Abu Khoitsamah dalam Kitabul Ilm hal. 109 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam takhrijnya)

Ketika para juru-juru khotbah ini menampakkan bid’ah dan fitnah, para ulama Ma-dinah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidhohulloh, Syaikh Muhammad Aman al-Jami rohimahulloh, dan Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi hafidhohulloh memperingatkan umat dari kesesatan mereka. Bantahan para ulama Madinah terhadap mereka ini didukung dan direkomendasi oleh Ketua Lajnah Da’imah dan Hafah Kibar al-Ulama Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahulloh, anggota Lajnah Da’imah dan Hai’ah Kibar al-Ulama Syaikh Sholih al-Fauzan hafidhohulloh, dan yang lainnya.

TSKS berkata dalam hal. 13 dari buku mereka ini: “Pada waktu yang sama di Yaman pun terdapat pula seorang tokoh ahli hadits(5) yang sangat terkenal dalam hal menjarh (menilai negatif) para dari, sehingga pada saat itu mulai terlahirlah arus porak-poranda.”

Kami katakan: Pelecehan ahli bid’ah kepada Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i (6) ini bukanlah yang kali pertama. Orang yang melecehkan Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh dikatakan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh sebagai seorang yang jahil atau pengikut hawa nafsu (simak kaset Silsilatul Huda wan Nur no. 851).

TSKS berkata pada hal. 19 buku mereka ini: “Pemimpin-pemimpin asli mereka, walaupun sangat sedikit, tetapi berpencar di beberapa negeri di Timur Tengah. Di antara para pemimpin tersebut ada yang gemar mengaku sebagai murid(7) dari salah seorang ulama hadits terkenal yang sangat kita hormati. Pengakuan ini masih harus dibuktikan.”

Kami katakan: Sindiran para penulis buku ini kepada Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafidhohulloh tidaklah berarti, karena setiap penulis biografi Syaikh al-Albani rohimahulloh selalu mencantumkan nama Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafidhohulloh. dalam deretan nama murid-murid Syaikh al-Albani rohimahulloh. Dan tidak satu pun dari Salafiyyin yang menganggap beliau sebagai pemimpin sebuah jama’ah yang dibai’at dan ditaati sebagaimana dilakukan oleh para hizbiyyin terhadap amir-amir jama’ah mereka!

Menyamakan Para Ulama Salafiyyin Dengan Murjifun

TSKS berkata pada hal. 21 buku mereka ini: “Ulah kaum sempalan tersebut memang cukup ganjil dan mungkin yang pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Kalaupun ada yang mendahului mereka dalam meniti manhaj pemorak-porandaan seperti ini maka tidak lain adalah kaum Murjifun (perusak) yang ada di Madinah pada zaman Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam’

Kami katakan: Perkataan mereka ini hanyalah daur ulang dari perkataan gembong mereka, Salman al-Audah, dalam kasetnya Tahrirul Ardhi Am Tahrirul Insan yang menyebut para ulama Salafiyyin di Madinah sebagai Murjifin di Madinah. (Lihat al-Quthbiyyah cet. kedua hal. 150)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz rohimahulloh telah membantah perkataan Salman ini dengan mengatakan: “Para saudara kita masyayikh yang dikenal, yang berada di Madinah, kami sama sekali tidak meragukan tentang mereka. Mereka adalah para pemilik aqidah thoyyibah (yang bagus). Mereka adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, seperti Syaikh Muhammad Aman bin Ali al-Jami, Syaikh Robi’ bin Hadi, Syaikh Sholih bin Sa’ad as-Suhaimi, Syaikh Falih bin Nafi’, dan Syaikh Muhammad bin Hadi; semuanya kami kenal dengan istiqomah, ilmu, dan aqidah thoyyibah.” (Bayan Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz tertanggal 28/7/1412 H di Makkah, sebagaimana dalam al-Quthbiyyah cet. kedua hal. 151)

Membela Ahli Bid’ah

TSKS berkata dalam hal. 17 buku mereka ini: “6. Menuduh tanpa bukti dan memutarbalikkan fakta tanpa malu, khususnya tuduhan kepada para ulama yang tertulis dalam daftar musuh-musuh Zionis Internasional, seperti Sayyid Quthb -Rahimahullah- yang dihukum gantung oleh antek-antek Zionis di Mesir.”

Kami katakan: Sayyid Quthb bukanlah seorang ulama sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Sholih al-Fauzan hafidhohulloh, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidhohulloh, dan Syaikh Sholih al-Luhaidan hafidhohulloh. Bahkan banyak sekali perkataan Sayyid Quthb yang merupakan bid’ah dan sesat, seperti: mencela Nabi Musa alaihissalam, mencela para sahabat rodhiyallohu anhum, mengatakan bahwa al-Qur’an makhluk, menganut paham hulul (Alloh menyatu dengan makhluk) dan jabriyyah (Manusia tidak memiliki kekuatan dalam melakukan kehendak dan perbuatannya seperti bulu yang tertiup angin), menolak sifat-sifat Alloh dengan menempuh cara-cara Jahmiyyah (pengikut Jahm bin Shofwan), menolak hadits-hadits yang shohih dalam masalah aqidah, mengimani paham sosialisme, dan yang lainnya.(8)

Pembelaan kelompok Quthbiyyah Sururiyyah terhadap Sayyid bukanlah hal baru. Tokoh mereka, Muhammad Surur, berkata dalam kitabnya Dirosat fi Siroh Nabawiyyah (hal. 321-323): “Sayyid Quthb dizholimi oleh dua kelompok manusia: Dizhalimi oleh sebagian murid-murid dan pengagumnya, karena mereka sangat kagum kepadanya, kagum kepada keteguhannya di atas kebenaran dan kesabarannya menerima ujian di jalan Alloh, kagum kepada keluasan wawasannya, kebersihan fithrohnya, dan kedalaman pengetahuannya … dan kami menyertai mereka dalam hal ini semua….”

Pembelaan senada juga datang dari Muhammad Sholih al-Munajjid dalam risalahnya Arba’una Nashihatan li Ishlahil Buyut hal. 23-25, Aidh al-Qorni dalam kitabnya Lahnul Khulud hal. 20, Salman al-Audah dalam kasetnya Taqwimur Rijal, dan masih banyak lagi dari kalangan mereka.

Mencomot Fatwa Lajnah Da imah yang Sejalan Dengan Kepentingan Mereka

Akhir-akhir ini banyak kelompok bid’ah di tanah air beramai-ramai mencomot Fatwa Lajnah Da’imah yang mengkritik sebagian tulisan dari Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafidhohulloh. Di antara kelompok-kelompok bid’ah tersebut adalah HASMI(9)di dalam akhir dari buku yang mereka edarkan: Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan -yang sedang kita bahas sekarang ini-, dan MMI di dalam selebaran mereka yang berjudul Aqidah Jama’ah Salafiyyah Dalam Tinjauan Syar’i.

Sikap para hizbiyyun ini sangat mengherankan, karena sepanjang sejarah perjalanan mereka baru kali ini mereka begitu antusias menukil sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia. Tempo hari, mereka menuding para ulama Saudi hanyalah ulama haid dan nifas, tidak paham waqi’ (realita), antek-antek CIA, ulama penguasa, dan sederet tuduhan-tuduhan keji yang lainnya(!), lalu hari ini secara serempak mereka menukil sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia dan menyebarluaskannya.(?!)

Sehubungan dengan Fatwa Lajnah Da’imah ini, kami nukilkan tanggapan Syaikh DR. Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidhohulloh -Imam Masjid Nabawi dan Qodhi di Pengadilan Tinggi Madinah Nabawiyyah- di dalam ceramah beliau yang berjudul ‘Ala Thoriqi Sunnah pada tanggal 5 Rabi’ul Awwal l422H:

Penanya berkata: “Fadhilatusy Syaikh, bagaimana pendapat Syaikh tentang fatwa yang dikeluarkan oleh Lajnah Da’imah tentang kedua kitab Syaikh Ali al-Halabi: at-Tahdzir dan Sho’ihatu Nadzir, bahwasanya kedua kitab ini mengajak kepada pemikiran Irja’ yaitu bahwasanya amalan bukanlah syarat sahnya iman, padahal kedua kitab ini tidak membahas masalah syarat sahnya iman atau syarat kesempurnaan iman?!”

Syaikh DR. Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidhohulloh menjawab:

“Yang pertama, wahai saudara-saudaraku! Syaikh Ali dan Masyayikh lainnya satu jalan. Syaikh Ali adalah saudara tua sebagaimana para Masyayikh yang mengeluarkan fatwa ini. Syaikh Ali mengenal mereka, dan mereka pun mengenal Syaikh Ali. Mereka memiliki hubungan baik dengan Syaikh Ali.

Syaikh Ali telah diberi Alloh ilmu dan bashiroh untuk mengatasi masalah ilmiah antara dia dan Masyayikh, dan masalah ilmiah ini untuk menjelaskan al-haq. Adapun Syaikh Ali dan gurunya -Syaikh al-Albani-, setiap orang yang di atas jalan Sunnah tidak ada satu pun yang meragukan bahwasanya mereka di atas manhaj yang diridhai -wa lillahil hamdu-. Syaikh Ali -wa lillahil hamdu-termasuk pembela manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Fatwa tersebut tidak me-nash-kan bahwa Syaikh Ali Murji’ah -tidak akan beliau mengucapkan ini!!- khilaf antara fatwa ini dengan Syaikh Ali pada masalah kitab dan diskusi bersamanya pada perkara ini.

Keberadaan orang-orang lain yang hendak memaksakan kandungan fatwa ini, bahwasanya fatwa ini mewajibkan hukum atas Syaikh Ali bahwa beliau Murji’, maka ini tidak saya pahami, dan aku menyangka bahwa saudara-saudara di sini juga tidak memahami ini. Fatwa ini -wa lillahil hamdu- tidak menyelisihi hubungan antara Syaikh Ali dan Masyayikh, mereka menghormati dan menghargai Syaikh Ali.

Syaikh Ali telah menjelaskan dengan penjelasan ilmiah(10) -sebagaimana dilakukan oleh Salaful Ummah-; tidak ada seorang pun dari kita melainkan mengambil dan memberi, setiap orang diambil perkataannya dan juga dibantah; kecuali pemilik kubur ini, yaitu Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Malik rohimahulloh : “Setiap ucapan diterima dan ditolak, kecuali perkataan Rosul.” Demikianlah umat ini, berselisih pada awalnya antara yang mengambil dan yang menolak. Tetapi manusia -dari segi asalnya- kadang-kadang di tengah ucapan-ucapannya ada ucapan-ucapan yang lain -yaitu yang dinamakan dengan perkataan-perkataan spontan disebabkan adanya perdebatan, dan sebab tabiat asli manusia-, yang terdapat di dalamnya sedikit keras; bahkan juga di antara para sahabat rodhiyallohu anhum sebagaimana terjadi antara Abu Bakar dan Umar, dan antara yang lainnya dari kalangan sahabat -seperti antara Aisyah dan Ali-.

Kesimpulannya, fatwa ini -dalam pandanganku- tidak menghukumi, dan tidak me-nashkan dengan nash yang shorih bahwa Syaikh Ali di atas manhaj (Irja’) ini, sesung-guhnya fatwa ini adalah munaqasyah (pembicaraan) tentang sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh.

Syaikh Ali telah menulis kitab (Ajwibah Mutalaimah) sesudah keluarnya fatwa, bukan dalam rangka membantah, tetapi menjelaskan manhajnya dan manhaj gurunya -Syaikh al-Albani-. Yang kami yakini dan yang kami pertanggungjawabkan di hadapan Alloh, bahwasanya Syaikh Ali dan gurunya -Syaikh al-Albani- paling jauh di antara manusia dari madzhab Murji’ah -sebagaimana telah kami katakan sebelumnya-.

Syaikh Ali -demikian juga Syaikh al-Albani-, jika ditanyakan kepadanya: ‘Apakah definisi Iman?’ Tidak akan kita dapati dalam ucapannya perkataan Murji’ah yang mengatakan bahwa amalan tidak masuk dalam keimanan. Bahkan nash-nash Syaikh al-Albani menashkan bahwa definisi iman adalah keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan, dan amalan dengan anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.” (Tanbihat Mutawaimah hal. 553-557)

Inilah yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca tentang buku ini. Sebetulnya masih banyak hal lain dari kesesatan dan kedustaan buku ini yang perlu dijelaskan, tetapi Insya Alloh apa yang telah kami paparkan sudah bisa memberikan peringatan kepada kita tentang bahaya buku ini. Semoga Alloh selalu menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikutinya. Amin. []

Catatan Kaki

(1) Ashlu Sunnah hal. 24.

(2) Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 116.

(3) TSKS menyebut beliau sebagai “ulama terkenal” di dalam hal. 19 dari buku mereka ini. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah mereka mau mengoreksi buku mereka ini setelah mendengar perkataan Syaikh Sholih Fauzan ini? Ataukah mereka menggunakan kaidah intifa’ bi ghoiri intima’ (mengambil manfa’at tanpa harus mengikuti) sebagaimana dilakukan oleh sebagian tokoh-tokoh mereka terhadap Daulah Su’udiyyah Salafiyyah!

(4) TSKS juga menyebut beliau sebagai “ulama terkenal” di dalam hal. 19 buku mereka ini(?!)

(5) Maksud mereka ialah Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh (red.)

(6) Untuk mengenal lebih lanjut Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh lihat Majalah AL FURQON Th. 5 Edisi 1 rubrik Tokoh.

(7) Maksud mereka ialah Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari murid al-Allamah al-Muhaddits Nashiruddin al-Al hafidhohulloh bani rohimahulloh (red.)

(8) Di antara ulama yang menjelaskan aqidah, manhaj, dan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb ialah Syaikh Abdulloh ad-Duwaisy, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Syaikh Sholih al-Fauzan, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, dan Syaikh Sholih al-Luhaidan, dan Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi. (Lihat Majalah AL FURQON Th. 6 Edisi Spesial Romadhon-Syawwal rubrik Kitab)

(9) HASMI singkatan dari Harokah Sunniyyah Muslim Indonesia, sebuah organisasi di bawah naungan Yayasan Al-Huda Ciomas – Bogor. Mereka memiliki cara-cara licik. Di antaranya, mengundang sebagian du’at salafiyyin dalam acara-acara mereka untuk mengelabui umat, lantas setelah sebagian du’at salafiyyin ini pergi maka mereka yang melanjutkan acara dengan menyampaikan kesesatan-kesesatan mereka.

(10) Dalam kitabnya yang berjudul Ajwibah Mutalaimah ‘ala Fatwa Lajnah Daimah.

***

Wanita Salafi boleh menyusui lelaki lain yang bukan suaminya

Wanita Salafi boleh menyusui lelaki lain yang bukan suaminya

Wanita Wahabi boleh menyusui lelaki dewasa selain suaminya.

fatwa para masyâyikh Salafi Wahhâbi selalu membawa keberkahan bagi para menyandang syahwat yang ingin mendapatkan jalan keluar yang islami.

Kali ini tentang menyusunya kaum pria dewasa -(yang boleh jadi sudah berjenggot menjulur seperti para masyâikh Salafi dan kaum muthowwe’ yang kerjanya “ngobrak”kaum muslimin agar bergegas shalat berjama’ah di masjid)- kepada wanita ajnabiyah (bukan muhrim) yang dimaukan untuk menjadi muhrim melalui persusuan/radhâ’ah.

Fatwa porno itu didasarkan kepada sebuah dongeng yang dinisbatkan kepada seorang istri Nabi saw. Seperti diriwayatkan Imam Malik dan lainnya.

Dalam Al-Muwatho’ hal. 297 Bab Tentang Menyusunya Pria Dewasa disebutkan sbb:

…. Aisyah mengambil hukum ini untuk setiap pria yang ia sukai masuk menemuinya. Ia memerintah Ummu Kultsum putri Abu Bakar ash-Shiddîq; saudarinya dan anak-anak perempuan saudaranya untuk menyusui siapa yang Aisyah sukai untuk masuk menemuinya. Sementara para istri Nabi saw. yang lain tidak mau memasukkan pria asing dengan cara Aisyah itu….

Beberapa saat yang lalu, DR. Izzat ‘Athiyah yang menjabat sebagai Ketua Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir berfatwa membolehkan seorang pegawai perempuan yang berkerja berduaan dengan seorang laki-laki dalam satu ruangan yang tertutup dan pintunya tidak bisa dibuka kecuali melalui salah satu dari keduanya, untuk menyusui teman laki-laki tersebut, dengan tujuan agar nantinya dibolehkan kholwat berduaan, dan perempuan tersebut boleh membuka jilbab dan menampakkan rambutnya di depan laki-laki yang disusuinya tersebut. Dan ketika sudah menyusui temannya tersebut, diharapkan mereka berdua segera meminta surat resmi dari pihak yang berwenang agar tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari. Fatwa tersebut mengakibatkan keresahan di kalangan masyarakat Islam Mesir, maka pihak Universitas memecat yang bersangkutan dari jabatannya.

Bagaimana sebenarnya konsep menyusui dalam Islam, dan apa hukum seorang perempuan menyusui laki-laki dewasa yang bukan muhrimnya, dan konsekwensi apa yang diakibatkan dari susuan tersebut. Insya Allah dibahas dalam makalah di bawah ini.

Menyusui Anak Berumur di Bawah Dua Tahun.

Para ulama sepakat bahwa anak kecil yang berumur dua tahun ke bawah, jika menyusu kepada seorang perempuan, maka susuan tersebut menjadikannya sebagai anak susuan dari perempuan tersebut. Karena air susu pada umur tersebut akan menjadi daging dan tulangnya.

Adapun perempuan yang menyusui laki-laki dewasa yang bukan mahramnya apakah keduanya akan menjadi mahram dengan susuan tersebut? Para ulama dalam masalah ini berbeda pendapat:

Pendapat Pertama: Bahwa menyusui waktu besar tidak bisa menjadikan mahram. Ini adalah pendapat istri-istri Rasullahshallallahu ‘alaihi wasallam, dan mayoritas ulama dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan pendapat dari madzhab Malikiyah, Syafi’yah serta Hanabilah. (Az Zaila’i, Tabyinu Al Haqaiq : 2/182 , Al Kasynawi, Ashalu al Madarik : 2/ 213, As Syafi’I, Al Umm : 5/ 48 , Al Bahuti, Ar Raudh Al Murabbi, hlm : 515)

Mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah: 223)

Ayat di atas menunjukkan bahwa batasan maksimal menyusui adalah dua tahun, sehingga susuan yang terjadi setelah dua tahun tidak bisa menyebabkan terjadinya mahram.

Begitu hadits Aisyah radliyallahu ‘anha, bahwasanya ia berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي رَجُلٌ قَالَ يَا عَائِشَةُ مَنْ هَذَا قُلْتُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ قَالَ يَا عَائِشَةُ انْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku dan saat itu disampingku ada seorang pemuda. Beliau bertanya: “Wahai Aisyah, siapakah orang ini?” Aku menjawab: “Ia saudara sesusuanku”. Beliau bersabda: “Wahai Aisyah teliti lagi, siapa sebenarnya yang menjadi saudara-saudara kalian yang sebenarnya, karena sesusuan itu terjadi karena kelaparan.” (HR. Bukhari no: 2453)

Hadist di atas menunjukkan bahwa susuan yang menyebabkan seseorang menjadi mahram adalah susuan dikarenakan lapar (maja’ah) yaitu pada waktu kecil. (Ibnu al Atsir (544 H-606 H), Al Nihayah fi Gharib al Hadist wa al Atsar, Mekkah, Dar Al Baaz: 1/316) Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak senang melihat Aisyah bersama laki-laki yang barangkali bukan satu susuan waktu kecil. (Ibnu Qayyim, Zaad al Ma’ad: 5/516)

Dikuatkan juga dengan hadist Ummu Salamah radliyallahu ‘anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

لَا يُحَرِّمُ مِنْ الرِّضَاعَةِ إِلَّا مَا فَتَقَ الْأَمْعَاءَ فِي الثَّدْيِ وَكَانَ قَبْلَ الْفِطَامِ

“Persusuan tidak bisa menjadikan mahram, kecuali (susuan) yang mengenyangkan dan terjadi sebelum disapih.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata, “Ini merupakan hadits hasan sahih dan diamalkan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang lainnya; bahwa persusuan tidak menjadikan mahram kecuali pada bayi di bawah dua tahun.”)

Hadist di atas menunjukkan bahwa susuan tidaklah menjadikan seseorang menjadi mahram bagi yang menyusuinya kecuali jika susu tersebut bisa membuka usus anak yang masih kecil, sehingga bisa menumbuhkan daging dan membesarkan tulang. Dan ini terjadi ketika anak masih kecil, yaitu ketika belum disapih.

Lafadh “Ats Tsadyi“ (puting payu dara) tidak dimaksudkan bahwa menyusui tersebut harus dengan cara manual sebagaimana lazimnya seorang bayi menyusu dengan menghisap puting payudara ibunya, tetapi maksudnya adalah umur ketika anak sedang menyusui. Sebagaimana orang Arab sering mengatakan: fulan meninggal di puting payudara, artinya meninggal waktu kecil, pada umur menyusu. Dari situ, bisa dikatakan bahwa jika seorang bayi minum susu seorang perempuan dari botol, maka bayi tersebut telah menjadi anak susuannya secara sah. (Ibnu al- Arabi, Aridhatu al Ahwadzi : 5/ 97, Al Mubarkufuri, Tuhfatu al Ahwadzi, Beirut, Daar al Kutub al Ilmiyah, 1990, cet ke – 1, Juz : 4/ 263)

Pendapat Kedua: Bahwa menyusui waktu besar menyebabkan terjadinya mahram. Ini adalah pendapat Aisyah radliyallahu ‘anha, dan madzhab Ad Dhahiriyah (Ibnu Hazm, al Muhalla : 10/ 17-20)

Mereka berdalil dengan hadist Aisyah radliyallah ‘anhabahwasanya ia berkata:

جَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَرَى فِي وَجْهِ أَبِي حُذَيْفَةَ مِنْ دُخُولِ سَالِمٍ وَهُوَ حَلِيفُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْضِعِيهِ قَالَتْ وَكَيْفَ أُرْضِعُهُ وَهُوَ رَجُلٌ كَبِيرٌ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّهُ رَجُلٌ كَبِيرٌ

“Sahlah binti Suhail datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya melihat di wajah Abu Hudzaifah (ada sesuatu) karena keluar masuknya Salim ke rumah, padahal dia adalah pelayannya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Susuilah dia.” Dia (Sahlah) berkata; “Bagaimana mungkin saya menyusuinya, padahal dia telah dewasa?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum sambil bersabda: “Sungguh saya telah mengetahuinya kalau dia telah dewasa.” (HR. Muslim , no : 2636)

Di dalam riwayat lain disebutkan:

قَالَ أَرْضِعِيهِ تَحْرُمِي عَلَيْهِ

“Susuilah dia, maka dia akan menjadi mahrammu.” (HR. Muslim, no. 2638)

Hadist di atas menunjukkan secara jelas bahwa susuan walaupun waktu dewasa bisa menjadikan seseorang mahram dengan yang menyusuinya.

Pendapat Ketiga: Menyatakan bahwa yang menyebabkan mahram adalah menyusui di waktu kecil, adapun menyusui di waktu besar hanya menyebabkan dibolehkannya berkhalwat. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayim, Shan’ani, dan Syaukani. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al Fatawa :34/ 60, As Syaukani, Nail al Authar, Riyadh, Dar al Nafais, Juz : 6/ 353, As Shon’ani, Subulu as Salam,Beirut, Dar al Kutub al Ilmiyah, 1988, Cet ke -1, Juz 3/ 407).

Mereka berdalil bahwa Abu Hudzifah dan Sahlah binti Suhail sudah menganggap Salim adalah anaknya sendiri, ketika Allah mengharamkan adopsi anak, maka Salim secara otomatis berubah menjadi orang asing dan tidak boleh masuk lagi ke rumah Abu Khudaifah dan Sahlah, keduanya merasa keberatan dan melapor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menyuruhnya untuk menyusui Salim supaya bisa masuk ke dalam rumah mereka kembali sebagaimana anaknya sendiri. Dan ini berlaku bagi Salim dan orang-orang sepertinya.

Benarkah demikian? Wallohu a’lam bish Showab

UTSAIMIN MELARANG BACAAN AL – FATIHAH

FATWA UTSAIMIN MELARANG BACAAN AL – FATIHAH

Fatwa Nyeleneh Utsaimin Yang Melarang Bacaan Al-Fatihah

Salah satu yang membuat kami tidak mau memeluk agama wahabi adalah wahabi melarang membaca surat Al-Fatihah tiap kali hendak melakukan sesuatu dalam kegiatan sehari-hari. Loh, bukannya Al-Fatihah itu bagian surat dari Al-Qur’an? jadi sama saja Wahabi melarang membaca Al-Qur’an. Mari kita lihat fatwa ulama andalan mereka Muhammad bin Shalih al Utsaimin :
قال العلامة الإمام الفقيه محمد بن صالح العثيمين – رحمه الله تعالى – في ( شرح بلوغ المرام ) :
Ketika menjelaskan kitab Bulughul Maram, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan
واما ما يفعله بعض العوام من انه كلما أرادوا شيئا قالوا : الفاتحة ؛ وهذا والحمد لله لا يوجد عندنا ؛ لكن يوجد عند إخواننا الذين يفدون إلي البلاد ؛ كل شيء الفاتحة ؛ عند عقد النكاح الفاتحة ، وعند الصلح ، وعند أي شيء ، وهذا بدعة ؛ ولا يجوز ؛

“Adalah kebiasaan sebagian orang awam setiap kali hendak melakukan sesuatu mengatakan ‘alfatihah’. Alhamdulillah perilaku semacam ini tidak dilakukan oleh orang Saudi namun sebagian saudara kita kaum muslimin yang berada di Saudi itu apa apa al fatihah. Ketika akad nikah alfatihah, ketika berunding untuk damai alfatihah. Pokoknya apa apa serba alfatihah. Sikap semacam ini adalah bid’ah yang tidak boleh dilakukan.
لانه لو كانت خيرا لكان أول من يفعلها الرسول صلى الله عليه وسلم وأصحابه لكنها بدعة ، وليست مشروعة .
Alasannya jika perbuatan semacam ini adalah kebaikan tentu saja yang pertama kali melakukannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Karena mereka tidak pernah melakukannya maka amalan seperti ini adalah bid’ah dan tidak dituntunkan”.
Lihatlah betapa cerobohnya sekte wahabi dalam memvonis bid’ah terhadap kaum muslimin. Bahkan membaca al-Qur’an tiap kali memulai kegiatan itu tidak boleh ya? Munculkan satu dalil Nabi SAW yang melarang membaca Al-Fatihah! intinya Wahabi membenci dan melarang al-qur’an.

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

Anda mungkin juga meminati:
Wanita Salafi boleh menyusui lelaki lain yang bukan suaminya
Bukti kongkret Akidah Salafi – Wahabi adalah akidah Yahudi
Tentang Bid’ah

Diposkan oleh di 02:19

Manhaj Salaf Dalam Kemunafikan

Kisah Nyata : Manhaj Salaf Dalam Kemunafikan

Suasana Gedung Sentral Grosir Cikarang. (tempat rencana pertemuan)

SALAFI – WAHABI INGKAR JANJI

Bermula pada hari Jum’at, 3 Agustus 2012. di sebuah kiriman group 1.000.000 Orang Menolak Wahabi Di Indonesia.

Ada sebuah akun bernama ” Thaifah Manshurah ” yang bernama asli Abdul Zikri. menurut keterangan telesandi tim KPW. beliau adalah Ustad Salafi Wahabi di daerahnya.

Beliau memfosting mengenai ” Sejarah Peringatan maulid Nabi “. walaupun sudah di jelaskan oleh 2 Ulama yaitu Kiayi Abdullah Afif dan Habib Mumu. Si Ustad tetap kekeh dengan kekeliruannya.

Merasa geram akun yang bernama ” Nur El Imam “, secara spontan menantang si Ustad untuk bermudzakaroh secara langsung berhadapan face to face. Dengan spontan pula beliau menyetujuinya. ” Baik, kita ketemuan di SGC…”. Jawab Thaifah dengan tegas.

Bahkan waktu dan tempat beliau lah yang menentukan. Awalnya Senin, 6 Agustus 2012, tapi atas pertimbangan lain rencana pertemuan menjadi:

Minggu, 5 Agustus 2012.

Pukul : 14.00 WIBC

Tempat : Mushola SGC

* semua si ust. salafi yang menentukan.

Pada Sabtu malam, Nur El Imam mencoba inbox Thaifah untuk menanyakan nomor HP beliau. Agar mudah janjiannya. Tapi dari sinilah gelagat tidak baik mulai terlihat. Si Ustad sudah mulai ingkar. berikut Copasannya:
======================================

Thaifah Manshuroh

Pilih pesan untuk diteruskan.
Pilih pesan untuk dihapus.
  • Nur El Imam

    • assalamualaikum..
      minta no tlpnya donk kang..
  • Thaifah Manshuroh

    Sabtu

    Thaifah Manshuroh

    • Wa’alaikum salam no anda dulu
  • Nur El Imam

    • 088808742019
      ente brp?
  • Nur El Imam

    • mana nmor ente?
      Mau curang?
      Yaudh gpp..Ane udah tau ko rumah ente.
      Ente tetangganya yusuf rifa’i albatawi kan.?

=====================================

Gelagat tidak baik semakin nyata, setelah keesokan harinya pada minggu pagi (6/08/12), beliau mem blokir akun Nur El Imam dari facebooknya.

awalnya Nur pun sudah enggan untuk datang ke SGC, akan tetapi karena kadung sudah berjanji. Nur tidak mau menjadi orang munafik yang ingkar janji. dan seorang pengecut yang tidak berani mempertanggungjawabkan ucapannya. Akhirnya nur pun berangkat.

Jam 14.00 tepat, Nur tiba di SGC. 14.05 Nur sampai di Musholah….lalu apa yang terjadi…?

sampai ba’da ashar pukul 16.00, Abdul Zikri (Nama Asli Thaifah) tak kunjung datang.

Suasana Musholah SGC
Sambil nunggu njepret dulu ah 😀

16.30 akhirnya Nur bersama Yusuf Rifa’i menuju ke salah satu rumah rekannya di Cikarang Jati. kebetulan berdekatan dengan Rumah Thaifah. Sambil menunggu saatnya berbuka, mereka pun memikirkan cara untuk langkah selanjutnya.

Akhirnya Ba’da Tarawih Nur El Imam dan Yusuf Rifa’i memutuskan untuk mendatangi tempat Thaifah biasa nongkrong (Ust Salafy hobi nongkrong…hehehe).

Namun apa mau dikata, lagi-lagi sang Thaifah tidak dapat ditemui. Sempat mereka berdua Mondar-Mandir didepan rumah Thaifah, tapi yang ada cuma bapaknya. mereka berdua merasa sungkan apabila harus menyambangi rumah Abdul zikri (Thaifah).

Nur El Imam dan Yusuf Rifa’i harus pulang dengan tangan hampa.

*********

Walaupun pulang dengan tangan Hampa, Nur El Imam dan Yusuf Rifa’i membuktikan bahwasannya Kaum ASWAJA bukan hanya besar mulut di dunia maya. tapi juga bernyali besar didunia nyata.

dan kata yang paling tepat untuk Salafy Wahabi… Al Kadzab dan Munafiq.

Wallohu a’lam.

Anda mungkin juga meminati:
Wahabi memalsukan Kitab-Kitab Ulama Klasik
Salafi Wahabi Serukan perang terhadap Ahlussunnah wal jamaah
Bukti kongkret Akidah Salafi – Wahabi adalah akidah Yahudi

Diposkan oleh di 12:54

Ulumul Hadist beserta sejarahnya

Ulumul Hadist beserta sejarahnya

A. PENGERTIAN DAN SEJARAHNYA
Secara sederhana dapat dipahami, bahwa yang dimaksud dengan ‘Ulum al-Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas hadits dari berbagai aspeknya. Menurut ‘Izzuddin ibn Jama’ah, ‘Ulum al-Hadits adalah ilmu yang membahas tentang dasar-dasar yang dipergunakan untuk mengetahui keadaan sanad, dan matan dengan tujuan untuk mengetahui status hadits apakah shahih atau tidak.[1] Pembahasan mengenai ‘ulum al-hadits erat sekali hubungannya dengan pembahasan ‘ilmu mushthalah hadits (علم مصطلح الحديث), bahkan terkadang berbarengan pembahasannya karena keduanya sulit dipisahkan. Ilmu ini terkadang juga disebut sebagai ‘ilmu ushul al-hadits karena pembahasannya terkait dengan prinsip-prinsip ilmu hadits.
Secara epistemologis, banyak ilmu yang muncul dengan menjadikan hadits sebagai obyek kajian. Secara struktural hadits merupakan bangunan yang terdiri atas sanad, matan dan rawi. Masing-masing elemen membutuhkan ilmu untuk mengkajinya hingga muncul banyak jenis ilmu, yang menurut al-Suyuthi adalah tidak terhitung, dan menurut al-Hazimi adalah 100 macam ilmu.[2]
Dengan demikian kajian hadits ini lebih tepat dikenal dengan istilah ‘Ulum al-Hadits (علوم الحديث) dalam bentuk jama’ (plural) yang berarti beberapa ilmu tentang hadits, daripada terma ‘Ilm al-Hadits (علم الحديث) dalam bentuk tunggal (singular) yang hanya berarti ilmu tentang hadits. Adapun yang dimaksud dengan ‘ilmu mushthalah hadits adalah ilmu yang membahas tentang terma-terma yang dijadikan sebagai alat yang dipergunakan untuk membahas hadits hingga diketahui kondisi dan statusnya. Dengan ini dapat dimengerti bahwa secara sepihak ‘ilmu mushthalah hadits adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ‘Ulum al-Hadits. Keduanya niscaya berlaku secara integrated dan korelatif.
Dalam sejarah tercatat bahwa ‘ulama yang pertama merumuskan ‘Ulum al-Hadits atau ‘Ilm al-Mushthalah adalah al-Qadli Abu Muhammad al-Hasan ibn Abdurrahman ibn Khallad al-Ramahurmuzi (265-360 H.) yang menyusun buku dengan judul al-Muhaddits al-Fâshil bayn al-Râwi wa al-Wâ’i (المحدث الفاصل بين الراوى والواعى) meskipun belum begitu lengkap,[3] namun cukup representatif karena sebelumnya ‘ulum al-hadits masih bercampur dengan ilmu-ilmu lainnya seperti yang tercantum dalam al-Umm karya al-Imam al-Syafi’i ra. (150-204 H.). Kemudian disusul oleh al-Hakim Abu ‘Abdillah al-Naisaburi yang diikuti oleh Abu Na’im al-Ashbihani. ibn Hajar juga telah menyusun sebuah risalah dengan judul Nukhbah al-Fikr fi Mushthalah Ahl al-Atsar (نخبة الفكر في مصطلح أهل الأثر). Generasi berikutnya adalah Ahmad al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H.) yang tidak tertinggal dalam perintisan ‘Ulum al-Hadits dengan menyusun buku tentang rawi berjudul al-Kifayah (الكفاية), dan tentang adab muhaddits dengan judul al-Jami’ li Adab al-Syaikh wa al-Sami’ (الجامع لأداب الشيخ والسامع).[4] Ibn al-Shalah juga berpartisipasi dengan menyusun buku yang terkenal dengan judul Muqaddimah ibn al-Shalah (مقدّمة ابن الصلاح).
Berikut ini saya perkenalkan beberapa di bidang ‘Ulum al-Hadits pada masa awal hingga akhir abad IV H. yang pada umumnya dikenal sebagai Ushul al-Hadits.
1. Al-Risalah karya al-Imam al-Syafi’i (150-204 H); kitab pada dasarnya berbicara tentang ushul al-Fiqh, tetapi realitasnya juga membicarakan aspek-aspek ilmu keislaman lainnya, termasuk ‘ulum al-hadits, misalnya membahas syarat kesahihan hadits, keadilan perawi, dan sebagai sebagainya;[5]
2. Ushul al-Sunnah dan Madzahib al-Muhadditsin karya al-Imam ‘Ali ibn Abdullah al-Madini (161-234 H.);
3. al-Shahih karya al-Imam Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi (204-261 H.); Kitab ini di samping merupakan koleksi hadits juga hal ushul al-hadits yang dibicarakan pada muqaddimah kitab ini;
4. Ma’rifah al-Muttashil min al-Hadits, al-Mursal wa al-Maqthu’, dan Bayan al-Thariq al-Shahihah karya al-Imam al-Hafidh Abu Bakar Ahmad ibn Harun ibn Ruj al-Bardiji (w. 203 H.);
5. al-Muhaddits al-Fâshil bayn al-Râwi wa al-Wâ’i karya al-Qadli al-Muhaddits Abu Muhammad al-Hasan ibn Abdirrahman ibn Khallad al-Ramahurmuzi (265-360 H.); kitab ini dikenal sebagai kitab yang paling awal berbicara tentang ushul al-hadits secara komprehensif.
6. Sunan al-Tahdits karya al-Hafidh al-Mu’ammar Abu al-Fadll Shalih ibn Ahmad ibn Muhammad al-Tamimi al-hamadani al-Simsar (w. 384 H.);
7. Ma’rifah ‘Ulum al-Hadits karya Abu Abdillah ibn Muhammad ibn Abdillah ibn Hamdawaih al-Naisaburi al-Hakim (321-405 H.); Menurut ibn Hajar kitab ini membahas 52 macam ilmu hadits mskipun belum tertib;
8. al-Tamhid lima fi al-Muwatha` min al-Ma’ani wa al-Asanid karya al-Imim al-Hafidh Abu ‘Umar Yusuf ibn ‘Abdillah ibn Muhammad ibn ‘Abdil Bar al-Namari al-Qurthubi (368-463 H.); Dalam kitab ini termuat prinsip-prinsip ushul al-hadits dalam pendahuluan;
9. al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah karya al-Hafidh al-Mu`arrikh Abu Bakar Ahmad ibn ‘Ali ibn Tsabit al-Baghdadi (392-463 H.); Kitab ini masih terkenal dan menjadi referensi ‘ulum al-hadits hingga kini. Beliau juga menulis al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’ dan Syaraf Ashhab al-Hadits
10. al-Alma’ ila Ma’rifah Ushul al-Riwayah wa Taqyid a-Sima’ karya al-Qadli al-Hafidh Abu al-Fadll ‘Iyadl ibn Musa ibn ‘Iyadl al-Yahshi al-Sabi (476-544 H.); kitab ini sangat terkenal pasca al-Baghdadi;

B. KLASIFIKASI ‘ULUM AL-HADITS
Secara umum ilmu hadits bermuara pada dua hal, yaitu sanad dan matan. Keduanya akan diketahui dan diteliti dari berbagai aspek hingga melahirkan beberapa ilmu seperti ilmu Rijal al-Hadits, Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil, Ilmu Gharib al-Hadits, Ilmu Asbab Wurud, ilmu Tawarikh Mutun, ilmu al-Nasikh wa Mansukhuhu, ilmu Mukhtalif al-Hadits, dan ilmu ‘Ilal al-Hadits.
Maka para ‘ulama hadits mengklasifikasi ‘ulum al-hadits menjadi dua, yaitu ‘ilmu al-hadits bi al-riwayah dan ‘ilmu al-hadits bi al-dirayah.
1. Ilmu Hadits Riwayat
Kata riwayat (رواية) atau yang ditulis dengan kata riwayah berasal dari kata rawa (روى) yang mempunyai bentuk mudlari’ yarwi (يروي) dengan arti menceritakan, menyampaikan, mengantarkan. Maka ilmu ini mengkaji proses atau bentuk periwayatan dari awal hingga akhir, lalu diketahui apakah suatu hadits memiliki sanad yang terhubung hingga sumbernya, atau memiliki sanad yang terputus, hingga dapat diketahui sifat hadits, apakah valid atau invalid.
Para ahli hadits (Muhadditsun, محدّثون)mendefinisikan Ilmu Hadits Riwayah secara terminologis sebagai berikut:
علم الحديث رواية هو علم يبحث فيه عن كيفية اتصال الحديث بالرسول صلى الله عليه وسلم من حيث أحوال رواته ضبطا وعدالة ومن حيث كيفية السند اتصالا وانقطاعا ونحو ذلك
(Ilmu Hadits Riwayah: ilmu yang di dalamnya dibahas tentang cara persambungan hadits dengan Rasul saw., yaitu mengenai keadaan para perawinya, baik kedlabitannya maupun keadilannya, dan tentang bagaimana mekanisme sanad, baik secara muttashi maupun munqathi’, dan sebagainya)

Atau secara singkat Ilmu Hadits Riwayah didefinisikan sebagai berikut:
علم الحديث رواية هو علم يعرف به أقوال النبي صلى الله عليه وسلم وأفعاله وتقريراته وصفاته صلى الله عليه وسلم [6]
(Ilmu Hadits Riwayah: ilmu yang digunakan untuk mengetahui ucapan-ucapan nabi saw., perbuatannya, ketetapannya, dan sifat-sifatnya)

Atau dengan formulasi definisi yang lain sebagai berikut:
علم يشتمل على نقل ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم قولا أو فعلا أو تقريرا أو صفة
(Ilmu yang meliputi proses pemindahan apa-apa yang disandarkan pada Nabi saw., baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat)
Dengan demikian dapat dipahami bahwa ilmu hadits riwayat adalah ilmu hadits yang berobyek pada pribadi Rasul saw. dari aspek ucapan, perbuatan, sifat dan ketetapannya, dan sistem periwayatan, atau tentang isnad. Dengan ilmu ini seseorang diharapkan mampu mengetahui apakah sebuah hadits adalah shahih atau lainnya jika telah diketahui apakah sanadnya muttashil atau tidak, apakah sanadnya dlabit atau tidak, dan sebagainya.
Orang yang pertama kali menyusun buku tentang ilmu ini berupa kumpulan hadits adalah Muhammad ibn Muslim ibn Ubaidillah ibn Syihab al-Zuhri ra.[7] yang memperoleh mandat dari Khalifah Umar ibn Abdul Aziz.[8] Berikut inilah amanat beliau kepadanya:
انظروا ما كان من حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم أو سنّته فاكتبوه فإني خفت دروس العلم وذهاب العلماء
(Perhatikan segala hal yang merupakan hadits Rasul Allâh saw. atau yang menjadi sunnahnya lalu bukukanlah, karena aku khawatir kehilangan ilmu dan dan lenyapnya ‘ulama)

2. Ilmu Hadits Dirayah
Kata dirayat atau yang ditulis dengan dirayah (دراية) berasal dari kata dara (درى) yang memiliki bentuk mudlari’ yadri (يدري) yang berarti mengerti, mengetahui, memahami, dan mengenal. Dengan demikian, ilmu dirayat ini merupakan alat untuk mengetahui hadits berdasarkan hasil pengetahuan, pemahaman, persepsi, atau penelitian. Oleh karena itu ilmu ini berkenaan dengan lafadh atau redaksi hadits (matan) yang harus diketahui maknanya, kondisi sanad, dan para pembawa hadits.
Secara terminologis sebagian ahli hadits mendefinisikan ilmu hadits dirayah sebagai berikut:
علم الحديث دراية هو علم يبحث فيه عن المعنى المفهوم من ألفاظ الحديث والمراد منها مبنيّا على قواعد اللغة العربية وضوابط الشريعة ومطابقا لأحوال النبي
(Ilmu Hadits Dirayah adalah ilmu yang di dalamnya dikaji makna logis dari teks-teks hadits dan maksudnya yang terbentuk melalui kaidah-kaidah bahasa Arab, dan pokok-pokok syari’ah dan yang sesuai dengan perilaku Nabi saw.)
Atau secara singkat Ilmu Hadits Dirayah didefinisikan sebagai berikut:
علم الحديث دراية هو علم يعرف به أحوال السند والمتن من حيث القبول والردّ وما يتصل بذلك [9]
(Ilmu Hadits Dirayah adalah ilmu yang digunakan untuk mengetahui hal-ihwal sanad dan matan, baik dari segi diterima dan ditolaknya maupun hal-hal yang terkait dengannya)
atau dengan definisi sebagi berikut:
علم يعرف به أحوال السند والمتن وكيفية التحمل والأداء وصفات الرجال وغير ذلك [10]
(Ilmu yang digunakan untuk mengetahui hal-ihwal sanad dan matan, proses penerimaan dan penyampaian, sifat-sifat para pembawa hadits, dan sebagainya)

Beberapa definisi tersebut memberi isyarat pada kita bahwa obyek Ilmu Hadits Dirayah adalah teks atau redaksi hadits (matan) ditinjau dari segi kondisi teks dan makna yang terkandung di dalamnya (redaksi dan isi), dan bagaimana proses periwayatan, serta sifat-sifat para pembawanya. Dengan ilmu ini sebuah hadits dapat diketahui statusnya, apakah diterima atau ditolak setelah diketemukan para perawinya. Dan dengan demikian Ilmu Hadits Dirayah disebut pula dengan Ilmu Mushthalah al-Hadits (علم مصطلح الحديث).[11]

C. CABANG ILMU HADITS
Berdasarkan klasifikasi ilmu hadits dan definisinya di atas maka cabang-cabangnya diketahui melalui dua ilmu tersebut. Dari dua ilmu ini muncul banyak cabang ilmu hadits.

1. Ilmu Hadits Riwayah
Sesuai dengan definisinya di atas ilmu ini mempunyai obyek kajian berupa sanad. Sedangkan sanad hadits terkait dengan nama para perawinya. Maka melalui Ilmu Hadits Riwayah kajian ‘ulum al-hadits dikembangkan menjadi dua cabang ilmu, yaitu:
a. ilmu Rijal al-Hadits (علم رجال الحديث)
b. ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil (علم الجرح والتعديل)
Kedua cabang ilmu tersebut merupakan ilmu pokok yang harus diketahui oleh orang yang hendak melakukan penelusuran sebuah hadits, baik dari segi kwantitas sanad maupun dari segi kwalitasnya. Ilmu Rijal akan dibahas sekilas dalam bab ini, sedangkan Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil dibahas tersendiri dalam suatu bab. Namun demikian dalam bab ini penulis hendak memperkenalkan keduanya sekilas agar diperoleh pengetahuan tentangnya walau sedikit.
a. Ilmu Rijal al-Hadits
Kata Rijal (رجال) adalah bentuk kata jamak yang berasal kata rajul (رجل), artinya orang lelaki atau pemuda. Rijal al-Hadits berarti para pemuda hadits, atau para perawi hadits. Meskipun demikian tidak semua penerima dan pembawa hadits adalah kaum lelaki, tetapi juga ada dari kaum wanita, seperti para isteri Nabi Muhammad saw. Dengan demikian ilmu Rijal al-Hadits adalah ilmu yang membicarakan para perawi hadits yang tertera dalam daftar sanad hadits, mulai dari kelompok Shahabat hingga orang-orang yang hidup setelah Tabi’in. Ilmu ini akan membahas siapa sanad hadits, bagaimana keadaan masing-masing secara akademik dan moral-sosial, apakah masing-masing bertemu dalam sistem riwayat (kapan dan di mana mereka lahir dan wafat), hingga ditemukan keadaan sebuah hadits apakah ia shahih atau lainnya.
Berikut ini definisi Ilmu Rijal al-Hadits yang populer:
علم رجال الحديث هو علم يبحث فيه عن رواة الحديث من الصحابة والتابعين ومن بعدهم
(Ilmu Rijal al-Hadits adalah ilmu yang didalamnya dibahas mengenai (keadaan) para perawi hadits, yakni para shahabat, kelompok tabi’in, maupun orang-orang setelah mereka)

Ilmu Rijal terkadang dinamakan sebagai Riwayat Hidup para perawi hadits (Tarikh al-Ruwah, تاريخ الرواة). Maka terkait dengan Ilmu Rijal al-Hadits ini dikenal banyak istilah yang antara lain adalah sebagai berikut:
Mu’talif dan Mukhtalif : (مؤتلف ومختلف) yakni tulisan yang mengkhususkan riwayat nama-nama yang sama dengan sebutan yang berbeda;
Muttafiq dan Muftariq : (متفق ومفترق) yakni tulisan yang hanya berupa daftar nama-nama yang sama, tetapi orangnya berbeda dengan riwayatnya;
Musytabah : (مشتبه) yakni tulisan tentang riwayat perawi yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan beserta sebutannya tetapi berlainan keturunan dalam sebutan.

Kecuali istilah-istilah di atas sebagian ada penulis yang menyusun riwayat hidup para shahabat saja, seperti yang dilakukan oleh al-Bukhari (256 H.), Muhammad ibn Sa’ad (230 H.), dan ibn Abdil Barr (463 H.) yang sama-sama menulis buku berjudul al-Isti’âb (الاستعاب). Ada yang menulis riwayat para perawi secara umum. Sebagian lagi hanya menulis buku tentang para perawi yang dapat dipercaya saja, dan sebagainya.
Jadi, yang terpenting dalam Ilmu Rijâl al-Hadits adalah riwayat hidup dan kehidupan para tokoh hadits yang meliputi masa kelahiran dan tahun wafatnya, negeri/ kota asal dan negeri/ kota tempat tinggal, kota/ negeri mana saja yang dikunjungi untuk mencari hadits dan berapa lama tinggal di sana, siapa gurunya dan siapa pula muridnya, dan sebagainya. Oleh karena ilmu ini juga dikenal dengan sebutan Sejarah para Perawi (Târikh al-Ruwâh, تاريح الرواة). Terma tersebut juga terkadang disebut dengan tawârikh al-ruwâh (تواريخ الرواة). Kata tawârikh (تواريخ) sendiri merupakan bentuk jama’ dari kata tarikh yang berarti sejarah atau penanggalan, kalender. Ilmu ini timbul dalam kerangka selektifitas hadits, terutama pasca timbulnya hadits palsu (hadits mawdlu’, حديث موضوع). Menurut Sufyan al-Tsauri, salah satu urgensi ilmu ini adalah untuk mengetahui ketersambungan sanad (ittishal al-sanad, اتتصال السند) ataupun keterputusan sanad (inqitha’ al-sanad, انقطاع السند).[12] Buku yang dianggap paling representatif di bidang ini adalah karya ibn Zubair Muhammad ibn ‘Ubaidillah (w. 379 H.), seorang muhaddits Damascus, dengan judul al-Wafayât (الوفيات).
Usaha para ‘Ulama dalam menulis riwayat rijal hadits ketika itu sangat serius, indikatornya adalah mereka menelusuri identitas nama-nama para perawi hadits kemudian ditulis dalam buku catatan. Hasil catatan mereka beraneka ragam bentuknya sebagaimana berikut.
1) Thabaqat (طبقات); yaitu bentuk kitab atau catatan yang disusun berdasarkan generasi tokoh. Contohnya adalah buku-buku berikut ini:
a. Al-Thabaqat al-Kubra (الطبقات الكبرى) karya Abu Abdullah Muhammad ibn Sa’id Katib al-Waqidi (168-230 H.). Buku ini disusun atas delapan jilid.
b. Thabaqat al-Ruwah (طبقات الرواة) karya Khalifah ibn Khayyath al-‘Ushfuri (w. 240 H.)
c. Thabaqat al-Qurra` (طبقات القرّآء) karya Abu ‘Amr al-Dani.
d. Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubra (طبقات الشافعيّة الكبرى) karya Abdul Wahhab al-Subki.
e. Tadzkirah al-Huffadh (تذكرة الحفاظ) karya al-Dzahabi.

2) Catatan yang disusun berdasarkan abjad, seperti buku yang berjudul al-Tarikh al-Kabir (التاريح الكبير) karya al-Imam Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari (194-256 H.). Meskipun disusun berdasarkan abjad, namun buku ini dimulai dengan nama Muhammad, karena pengarangnya bernama Muhammad.
3) Catatan yang secara khusus memuat biografi para Shahabat, seperti buku-buku berikut ini:
a. al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (الإصابة في تمييز الصحابة) karya ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H./ 1449 M.).
b. Usd al-Ghabah fi Ma’rifah al-Shahabah (أسد الغابة في معرفة الصحابة) karya ‘Izzuddin ibn al-Atsir (630 H.). Buku ini memuat catatan biografi dari 7554 Shahabat.[13]
c. Al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashhab (الإستعاب في معرفة الأصحاب) karya penulis terkenal ibn Abdil Barr (w. 463 H./ 1071 M.).
4) Catatan tentang riwayat perawi pemilik enam buku hadits (al-Kutub al-Sittah, الكتب الستة), yakni buku Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa`i, dan Sunan ibn Majah. Buku-buku dalam jenis ini antara lain berjudul sebagai berikut:
a. al-Kamal fi Asma` al-Rijal (الكمال في أسماء الرجال) karya Abdul Ghani al-Maqdisi (w. 600 H./1202 M.).
b. Tahdzib al-Kamal (تهذيب الكمال) karya Abu al-Hajjaj Yusuf ibn al-Zaki al-Mizzi (w. 742 H.). Buku ini merupakan ringkasan dari buku al-Kamal fi Asma` al-Rijal karya Abdul Ghani al-Maqdisi.
c. Tahdzib al-Tahdzib (تهذيب التهذيب). Ada dua nama yang menulis buku berbeda dengan judul yang sama seperti ini, yaitu ibn Hajar al-Asqalani di satu pihak, dan Muhammad ibn Ahmad al-Dzahabi (w. 748 H./1348 M.) di pihak lainya. Ibn Hajar kemudian meringkasnya dengan judul Taqrib al-Tahdzib (تقريب التهذيب) yang tentunya dharapkan lebih praktis karena lebih ringkas.
5) Catatan tentang nama samaran (laqab, لقب) para perawi, adalah seperti buku yang ditulis dengan judul Nuzhah al-Albab fi al-Alqab (نزهة الألباب في الألقاب).[14]

b. Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil
Kata al-jarh (الجرح) secara bahasa berarti “luka”, “cacat”, “cela”, atau “melukai”, “mencacat”, dan “mencela”. Sedangkan kata ta’dil (تعديل) berasal dari kata ‘addala (عدّل) dan berarti “mengadilkan” atau “menganggap adil”. Ilmu ini membantu seseorang untuk mengetahui dan sekaligus menilai pribadi masing-masing Rijal Hadits yang tercantum dalam daftar sanad.
Secara sederhana definisi terminologisnya dirumuskan sebagai berikut:
علم الجرح والتعديل هو علم يبحث فيه عن جرح الرواة وتعديلهم بألفاظ مخصوصة وعن مراتب تلك الألفاظ
(Ilmu Jarh wa Ta’dil adalah ilmu yang membahas hal mencacat prilaku para perawi dan menganggapnya adil dengan kata-kata tertentu, dan tentang tingkatan ungkapan-ungkapannya)
Ilmu ini akan diuarikan dalam bab tersendiri, insya Allâh. Dan demikian uraian tentang ‘Ulum al-Hadits ditinjau dari aspek riwawah dengan berbagai cabangnya, yang mengacu pada sumber-sumber tekstual. Berikut ini adalah penjabaran ‘Ulum al-Hadits ditinjau dari aspek dirayah dengan bermacam-macam cabangnya.

2. Ilmu Hadits Dirayah
Jika Ilmu Hadits Riwayah berobyek pada sanad sebagai pusat pembahasan, maka Ilmu Hadits Dirayah mempunyai obyek bahasan berupa teks hadits (matan). Matan hadits itulah yang menjadi perhatian para Muhadditsun untuk dicermati dan diteliti agar memperoleh validitas hadits. Oleh karena itu ilmu hadits dikembangkan menjadi beberapa cabang ilmu sebagai berikut:
a. Iilmu Gharib al-Hadits (علم غريب الحديث)
b. Ilmu Asbab al-Wurud (علم أسباب الورود)
c. Ilmu Tawarikh al-Mutun (علم تواريخ المتون)
d. Ilmu Nasikh al-Hadits wa Mansukhuhu (علم ناسخ الحديث ومنسوخه)
e. Ilmu Mukhtalif al-Hadits (علم مختلف الحديث)
f. Ilmu ‘Ilal al-Hadits (علم علل الحديث)

Cabang-cabang ilmu tersebut merupakan metode penelitian hadits dengan memperhatikan aspek yang khusus, karena hadits, termasuk matannya, bisa dipandang dari berbagai aspek. Perhatikan aspek hadits yang tersirat dalam nama-nama cabang ‘Ulum al-Hadits tersebut sebagai akan dijelaskan dalam uraian berikut ini.
a. Ilmu Gharib al-Hadits
Secara harfiah, kata gharib (غريب) berarti “asing”, “aneh”. Menurut para ahli hadits ilmu ini menyingkap apa yang tersembunyi dalam kosa kata (lafadh) hadits. Dengan mengetahui makna dan maksud kosa katanya seseorang akan terbantu dalam memahami isi dan maksud hadits itu sendiri. Jadi dengan ilmu ini seseorang memperhatikan dan meneliti teks atau bahkan lafadh yang mengandung makna yang sulit, tersembunyi di balik teks.
Pada prinsipnya kata-kata yang dipergunakan oleh Nabi saw. dalam setiap hadits bukan hal yang asing bagi para shahabat meski dengan kata kiasan. Tetapi perlu disadari bahwa bahasa Arab berkembang sesuai dengan pengalamannya, berdialog dengan masyarakat luar Arab (‘ajam) dan generasi sesudahnya. Dalam perkembangannya yang demikian bahasa Arab tidak menutup diri dimasuki terma-terma asing hingga menambah kosa kata (vocaburaly). Pada sisi lain ada kosa kata yang di kemudian hari secara berangsur tidak digunakan sehingga menjadi asing bagi penggunanya, terutama orang asing (‘ajam). Implikasi dari kondisi yang demikian adalah munculnya usaha menjelaskan teks hadits (matan) yang dilakukan oleh para ahlinya dengan sebutan Komentar atas Hadits (Syarh al- Hadits, شرح الحديث).
Jika ada hadits yang pesannya sulit diterima oleh akal pada umumnya, maka menurut Yusuf Qardlawi, hadits tersebut tidak bisa mendatangkan makna yang dipahami secara harfiah, tetapi harus ditakwil berdasarkan prinsip (qa’idah) penggunaan bahasa ketika hadits tersebut disampaikan. Berikut ini contoh hadits yang sulit dipahami secara harfiah:
الحمى من فيح جهنم فأبردوها بالماء (رواه البخاري ومسلم عن ابن عمر وعائشة وابن عباس)
(Suhu panas itu berasal dari Keganasan Jahannam. Maka dinginkanlah ia dengan air). HR. al-Bukhari dan Muslim dari ibn Umar, Aisyah, dan ibn Abbas

Menurut Yusuf Qardlawi, sebenarnya panas tidak ada kaitannya dengan api Jahannam. Oleh karena itu hadits tersebut harus dipahami secara majazi, dengan takwil, karena hadits tersebut hanya mengandung makna kiasan, bukan makna yang sebenarnya.

Perhatikan pula contoh lainnya berikut ini:
النيل والفرات وسيحون وجيحون من أنهار الجنة (رواه البخاري)
(Nil, Efrot, Saihun, dan Jaihun adalah bagian dari sungai surga) HR. al-Bukhari
Hadits tersebut memberikan isyarat tentang lambang kemakmuran bagai laiknya kehidupan di surga. Demikian pula hadits-hadits berikut ini.
بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة (رواه البخاري ومسلم)
(Di antara rumahku dan mimbarku terdapat sebuah taman dari taman surga) HR. al-Bukhari dan Muslim

الجنة تحت أقدام الأمهات
(Surga berada di bawah telapak kaki para ibu)

Jadi, makna-makna yang seharusnya di balik hadits-hadits di atas adalah meerupakan keasingan hadits (gharib al-hadits, غريب الحديث) yang harus disingkap dengan metode khusus.
Adapun ‘ulama yang mula-mula menyusun kitab tentang Gharib al-Hadits adalah Abu al-Hasan al-Nadhr al-Mazini (wf. 203 H.) seorang guru bagi Ishaq ibn Rahawaih guru Imam al-Bukhari.[15] Jejak beliau ra. kemudian diikuti oleh generasi berikutnya seperti:
1) Abu Ubaid al-Qasim ibn Sallam (157-223 H.) dengan judul buku Gharib al-Hadits (غريب الحديث);
2) Abu al-Qasim Mahmud ibn ‘Amr al-Zamakhsyari (467-538 H.) denngan judul buku al-Faiq fi Gharib al-hadits (الفائق في غريب الحديث);
3) Ibn al-Atsir (467-538 H.) dengan judul buku al-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar (النهاية في غريب الحديث والأثر) sebagai karya terbaik di bidang ini;
4) al-Suyuthi dengan judul buku al-Durr al-Natsir (الدرّ النثير) sebagai komentar terhadap Kitab al-nihayah

b. Ilmu Asbab Wurud al-Hadits
Cabang kedua dari Ilmu Hadits Dirayah yang sekaligus merupakan metode penelitian hadits adalah ‘Ilm Asbab Wurud al-Hadits. Secara harfiah kata asbab (أسباب) merupakan bentuk jamak dari kata sabab (سبب) yang berarti “sebab”, “alasan” atau “faktor”. Sedangkan kata wurud (ورود) merupakan bentuk mashdar dari kata warada (ورد) yang berarti “datang”, “muncul”, “berjalan”, dan “berlaku”. Maka yang dimaksud dengan Ilmu Asbab Wurud al-Hadits adalah ilmu yang membahas sebab-sebab munculnya hadits. T.M. Hasbi as-Shiddiqi menjelaskannya sebagai berikut:
علم يعرف به السبب الذي ورد لأجله الحديث والزمان الذي جاء فيه [16]
(Ilmu yang dipergunakan untuk mengetahui sebab yang mendatangkan hadits, dan masa di mana hadits tersebut muncul)
Ilmu ini perlu diketahui untuk membantu seseorang memahami maksud yang dikandung dalam sebuah hadits. Terkadang orang salah memahami maksud hadits ketika ia tidak menemukan asbab wurudnya, misalnya terhadap matan berikut ini:
من تشبه بقوم فهو منهم [17]
(Siapa yang menyerupai suatu kelompok maka ia adalah bagian dari mereka)
Bisa jadi hadits tersebut terucap di kala perang sedang berkecamuk. Hal mana pasukan musuh membawa senjata yang tidak dimiliki oleh para shahabat, atau menggunakan kostum dan atributnya yang telah jelas berbeda dengan pakaian seragam perang yang dikenakan oleh para Shahabat. Maka nabi saw. memberikan instruksi agar para shahabat menggunakan kostum yang berbeda, dan jika ada di antara Shahabat ada yang mengenakan kostum mirip dengan kostum yang dikenakan musuh dikhawatirkan terjadi salah sasaran oleh para Shahabat, sehingga resiko harus ditanggung sendiri karena keserupaan kostumnya dengan kostum musuh. Dengan demikian hadits tersebut tidak bisa digeneralisir pemberlakuannya untuk semua kasus, tetapi harus terlebih dahulu dipahami apakah kasusnya mirip dengan apa yang terkait dengan hadits.
Konon, hadits di atas pernah dipahami sebagai hadits yang mengandung larangan sikap seseorang dalam menyerupai sikap orang kafir, sehingga seseorang bisa dianggap kafir manakala ia memakai dasi, atau celana, karena memakai dasi dan celana ketika itu merupakan kebiasaan kaum penjajah, yakni orang-orang kafir. Menurut saya, penggunaan hadits di atas sebagaiman pemahaman tersebut kurang tepat, karena ternyata orang-orang kafir pada masa Nabi saw. tidak memiliki kebiasaan memakai dasi maupun celana.
c. Ilmu Tawarikh al-Mutun
Ilmu tawarikh al-mutun (علم تواريخ المتن) ini merupakan metode penelitian hadits dari segi waktu diundangkannya sebuah hadits. Ilmu ini sangat berhubungan erat dengan ‘Ilm Asbab al-Wurud. Bedanya adalah terletak pada kalender/ waktu dan sebabnya. Perhatikan lagi penjelasan di atas!
d. Ilmu Nasikh al-Hadits wa Mansukhuhu
Jika ada hadits maqbul terbebas dari perlawanan (mu’aradlah), maka ia berstatus sebagai hadits muhkam, jika hadits maqbul dihadapkan pada persamaan dan mungkin dikompromikan, maka dinamakan mukhtalif hadits, dan jika terjadi pertentangan atau perbedaan dua hadits dan keduanya tidak dapat dipertemuan maka salah satunya dinamakan Hadits Nasikh dan lainnya disebut dengan Hadits Mansukh.
Kondisi hadits yang mansukh diketahui melalui tiga hal, yaitu:
1) diketahui adanya sikap perubahan yang dilakukan oleh Nabi saw., seperti sabdanya berikut ini:
كنت نهيتكم عن زيارة القبور ، ألا فزوروها (أخرجه مسلم)
Dan hadits:
كنت نهيتكم عن لحوم الأضاحى فوق ثلاث فكلوا ما بدا لكم (أخرجه مسلم)

2) diketahui adanya keterangan dari seorang Shahabat, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Nasa`i ra. dari Jabir ibn Abdullah ra. berirkut ini:
كان اخر الأمرين من رسول الله ترك الوضوء مما مسّت النار
(Terakhir dari dua hal yang dikerjakan oleh Rasul adalah meninggalkan wudlu` dari sengatan panas)

Karya-karya tentang Nasikh al-Hadits
Telah banyak karya ilmiah tentang ilmu Nasikh-Mansukh dalam hal hadits, di antaranya adalah sebagai berikut:
1) al-I’tibar fi al-Nasikh wa al-Mansukh min al-Atsar (الإعتبار في الناسخ والمنسوخ من الاثار) karya Abu Bakar Muhammad ibn Musa al-Hazimi;
2) al-Nasikh wa al-Mansukh (الناسخ والمنسوخ) karya al-Imam Ahmad;
3) Tajrid al-Ahadits al-Mansukhah (تجريد الأحاديث المنسوخة) karya ibn al-Jauzi.

Ilmu tentang nasikh al-hadits ini dianggap sangat penting terkait dengan seleksi hadits. Tokoh hadits yang disebut-sebut sebagai ‘ulama` yang paling intens dalam ilmu ini adalah al-Imam al-Syafi’i. Dalam konteks ini didapati dialog antara al-Imam Ahmad dan ibn Warah. Beliau kepada ibn Warah: “Apakah Anda mencatat kitab-kitabnya al-Syafi’i?” Ibn Warah menjawab: “Tidak.” Maka beliau berkata: “Anda sia-sia, (karena) kita tidak akan mengetahui keterangan yang global (mujmal) dari yang terurai (mufassar), maupun mengenai hadits yang menasakh (nasikh al-hadits) dari hadits yang dinasakh (mansukh al-hadits) hingga kita berkomunikasi dengan al-Syafi’i.[18]

e. Ilmu Mukhtalif al-Hadits
Ilmu ini difungsikan sebagai alat untuk mengetahui dua hadits atau lebih yang memiliki perbedaan isi, bahkan (terkesan) saling bertentangan. Dengan ilmu ini hadits-hadits yang berindikasi demikian akan lebih mudah diketahui dan diupayakan titik temunya agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Bisa jadi hadits-hadits yang lahiriahnya berbeda bahkan bertentangan tersebut memiliki sumber yang berbeda; satu hadits berasal dari nabi dan lainnya dari lainnya. Maka jika demikian akan lebih memudahkan mukharrij untuk meletakkan keduanya pada posisi yang berbeda karena keadaannya yang memang berbeda.
Perhatikan dua hadits yang dijadikan contoh oleh Mahmud Thahhan[19] berikut ini!
1. Hadits riwayat Muslim ra.:
… لا عدوى ولا طيرة …
2. Hadit riwayat al-Bukhari ra.:
…. فرّ من المجذوم فرارك من الأسد
Kedua hadits tersebut adalah shahih, tetapi menunjukkan kesan fenomena yang berbeda karena secara lafdhi memang terjadi perbedaan, hingga makna berlawanan hadits pertama menafikan ’adwa sedangkan hadits kedua menetapkan adanya. Dalam menghadapi kasus yang demikian didapati banyak cara. Di antaranya seperti yang dilakukan oleh al-Hafidh ibn Hajar al-‘Asqalani dengan mencari titik temu dari keduanya, bahwa hadits pertama menganjurkan agar manusia menerima taqdir jika tidak lagi mampu menghadapi persoalan, sedangkan hadits kedua berisi anjuran berusha keras menghindari taqdir berupa majdzum. Jadi kedua hadits tersebut tidak bertentangan, tetapi berbicara tentang kondisi yang berbeda.
Selebihnya dewan pembaca dapat membaca buku-buku yang membahas masalah ilmu yang satu ini sebagai berikut:
1) Ikhtilaf al-Hadits (اختلاف الحديث) karya al-Imam al-Syafi’i ra.;[20]
2) Ta`wil Mukhtalif al-Hadits (تأويل مختلف الحديث) karya ibn Qutaibah Abdullah ibn Muslim;
3) Musykil al-Atsar (مشكل الاثر) karya al-Thahawi Abu Ja’far Ahmad ibn Salamah.

f. Ilmu ‘Ilal al-Hadits
Yang dimaksud dengan ilmu ‘Ilal al-Hadits adalah ilmu yang mebicarakan sebab-sebab yang tersembunyi di balik kesahehan hadits. Definisinya bisa disimak sebagai berikut:
علم علل الحديث هو علم يبحث فيه عن أسباب غامضة خفيّة قادجة في صحّة الحديث
(ilmu ‘ilalil hadits adalah ilmu yang mengkaji sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang (akan) dapat merusak kesahehan hadits)

Biasanya ‘illat hadits terdapat pada diri para rijal hadits. ‘illat tersebut dapat menurunkan derajat hadits, bahkan merusak validitasnya. Dan hanya dengan ketelitian dan pengetahuan tentang derajat perawi dan sifat-sifat para sanad seseorang mampu mengetahuinya dengan baik.[21] Dan secara teoretik dan praktik ilmu ini dapat dikaji melalui buku-buku berikut ini.
1) Kitab al-‘Ilal (كتاب العلل) karya ibn al-Madini;
2) al-‘Ilal wa Ma’rifah al-Rijal (العلل ومعرفة الرجال) karya al-Imam Ahmad ibn Hanbal ra.;
3) al-‘Ilal al-Kabir (العلل الكبير) dan al-‘Ilal al-Shaghir (العلل الصغير) karya al-Tirmidzi;
4) al’Ilal al-Waridah fi al-Ahadits al-Nabawiyyah (العلل الواردة في الأجاديث النبويّة) kitab terlengkap sebagai karya al-Darquthni.

Menurut al-Imam Abu Syamah, fungsi ‘Ulum al-Hadits dibedakan menjadi kategori utama, yaitu:
1) memelihara redaksinya, mengetahui gharibnya, dan fiqhnya;
2) memelihara sanad-sanadnya, mengenal rijalnya, dan memilah kesahehannya dari cacatnya;
3) mengumpulkan hadits, menuliskannya, mendengarkannya, menyampaikannya, dan mencari keluhurannya.

D. URGENSI ILMU HADITS
Di depan telah diuraikan bahwa al-Qur`ân membutuhkan penjelasan dan pemahaman. Hadits merupakan salah satu alat yang perlu digunakan untuk melakukan pemahaman tersebut. Untuk bisa memilih hadits yang baik, tidak mu’allal, tidak dla’if, tidak mawquf apalagi maqthu’, dan tidak mardud, dan menggunakannya dalam istinbath hukum atau lainnya sangat diperlukan ilmu yang relevan dengannya. Di sinilah ‘ulum al-hadits berperan dan berfungsi untuk meyakinkan bahwa hadits yang diambil adalah benar. Dengan demikian kita bisa mengukti nabi secara benar jika hadits dan sunnahnya kita jumpai sebagai sesuatu yang benar melalui cara yang benar pula. Upaya ini sulit tercapai tanpa memiliki ilmu yang tersimpul dalam ‘Ulum al-Hadits.
Menurut al-Nawawi, ilmu yang paling penting adalah mengetahui hadits-hadits nabi, yang berupa matan, kesahihannya, kehasanannya, kedla’ifannya, dan sebagainya, karena syari’at kita dibangun atas dasar al-Kitab dan al-Sunan yang diriwayatkan, sementara tidak sedikit ayat yang bersifat mujmal.[22] Para ‘ulama telah sepakat bahwa sebagian dari syarat seorang mujtahid adalah mengetahui hadits-hadits, terutama yang konsen hingga menguasai ilmunya. Demikian, semoga tulisan ini, semoga bermanfa’at bagi kita.
Wa Allâh a’lam bi al-shawâb
% % %
[1]Lihat Jamaluddin al-Qasimi, Qawa’id al-Tahdits min Funun Mushthalah al-Hadits, t. penerbit, t.th., h. 75
[2] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, h. 11.
[3] lihat Mahmud Thahhan, Taysir Mushthalah al-Hadits, Surabaya: Bungkul Indah, t.th., h. 10.
[4] Ibid., h. 41.
[5] Lihat Fakhruddin al-Razi, Manaqib al-Syafi’i, Kairo, 1379, h. 101.
[6] T.M. Hasbi as-Shiddiqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra, t.th., h. 129.
[7] Ia adalah Gubernur Madinah, seorang Tabi’i yang menerima hadits dari ibn Umar ra., Sahl ibn Sa’ad, Anas ibn Malik, Mahmud ibn al-Rabi’, Sa’id ibn al-Musayyab, dan Abu Umamah ibn Sahl. Ia tokoh terkenal di wilayah Hijaz dan Syam.
[8]Ia dinobatkan sebagai Khalifah pada tahun 99 H. dari Dinasti Amawiyyah yang terkenal adil dan wara’. Ia mendapat julukan Khulafa` Rasyidin kelima. Kekuasaannya berakhir pada tahun 101 H.
[9] Ibid.
[10] Hafidh Hasan al-Mas’udi, Minhah al-Mughits, Surabaya: CV. Ibn Ahmad Nabhan wa Awladih, t.th., h. 3.
[11] M. Yunus, Ilmu Mushthalah al-Hadits, Jakarta: al-Sa’diyah Putra, 1940, h. 3.
[12] M. Thahhan, Op. Cit., h. 225.
[13] Lihat DR. Muh. Zuhri, Hadits Nabi, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997, h. 119.
[14]Penulis belum menemukan siapa nama pengarang buku ini, meskipun sangat terkenal karya tulisnya.
[15] Ibn al-Atsir, al-Nihayah fi Gharib al-Hadits, Kairo: t. penerbit, 1963, juz I, h. 5.
[16] T.M. Hasbi as-Shiddiqi, Op. Cit, h. 142.
[17] al-Khathib, Op. Cit., h. 289.
[18] M. Thahhan, Op. Cit., h. 59.
[19] Lihat Mahmud Thhan, Op. Cit., h. 56-57.
[20] Beliau adalah tokoh yang terkenal di bidang ini menurut beberapa sumber.
[21] Hasbi al-Shiddiqi, Op. Cit., h. 140.
[22]Jamaluddin al-Qasimi, Op. Cit.., h. 8.

Nasehat Imam Syafi’i

Nasehat Imam Syafi’i

• Seseorang yang mencoba melakukan apa-apa yang dilarang Allah swt selain dosa syirik, masih lebih daripada dia berfikir dengan pandangan ilmu kalam.

• Jika aku melihat seseorang yang ahli hadits, seakan-akan aku melihat seseorang dari sahabat Nabi saw. Mereka telah menjaga untuk kita keaslian sunnah Nabi Muhammad saw, maka mereka berhak mendapat pujian dari kita. Dan fiqih adalah tuannya ilmu, karena dengannnya hadits dapat dipahami.

• Tujuan dari ilmu adalah mengamalkannya, maka ilmu yang hakiki adalah yang terefleksikan dalam kehidupannya, bukannya yang bertengger di kepala.

• Satu hal yang dapat menyia-nyiakan orang yang berilmu dan yang dapat menghilangkan posisinya sebagai seorang ‘alim adalah ketika ia tidak mempunyai kawan.

• Jangan sekali-kali kamu tinggal di suatu Negara atau tempat yang yang disana tidak ada orang yang ahli dibidang fiqih sebagai tempat kamu untuk menanyakan masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang dapat menjelaskan kondisi kesehatanmu.

• Tidak ada satupun ilmu yang ingin aku pelajari setelah aku memahami tentang masalah halal dan haram, kecuali ilmu kedokteran, tapi mengapa kita jauh terbelakang disbanding dengan orang-orang nasrani?

• Jika engkau melihat seseorang berjalan di atas air dan bisa terbang di udara, maka janganlah kehebatan itu menjadikan kalian lengah dan terheran-heran kepadanya sampai kamu mengetahui secara persis atas apa yang di kerjakannya itu berlandaskan pada Al-Qur’an dan as-sunnah.

• Jika rasa ujub menghinggapi aktifitasmu, maka lihatlah keridhaan siapa yang kau harapkan, pahala mana yang kau suka, sanksi mana yang kau benci. Maka jika engkau memikirkan satu di antara kedua hal ini, niscaya akan hadir di depan matamu apa yang sudah kamu lakukan.

• Tawadhu’ adalah perkara yang sangat diidam-idamkan. Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukannya sendiri. Akan tetapi tawadhu’ dihadapan orang yang tidak bisa menghargai orang lain merupakan bentuk kezhaliman terhadap diri sendiri.

• Menghindarkan telinga dari mendengar hal-hal yang tidak baik merupakan suatu keharusan, sebagaimana seseorang mensucikan tutur katanya dari ungkapan buruk.

• Kedermawanan dan kemuliaan adalah dua hal yang dapat menutupi aib.

• Kesabaran adalah akhlak mulia, yang dengannya setiap orang dapat menghalau segala rintangan.

• Takabur ( sombong ) adalah akhlak tercela.

• Bid’ah itu terbagi menjadi dua macam : segala sesuatu yang baru dan tidak sejalan dengan kitab, sunnah, atsar, ijma’ itu merupakan bid’ah dhalalah ( bid’ah yang sesat ). Sementara jika sesuatu yang baru itu tidak berseberangan dengan Al-Qur’an, hadits, atsar dan ijma’, maka sesuatu yang baru itu disebut bid’ah hasanah ( bid’ah yang baik ).

• Cukuplah ilmu itu menjadi keutamaan bagi seseorang, ia bangga manakala disebut sebagai orang berilmu. Ia juga disebut bodoh manakala meninggalkan bagian dari pengetahuannya, dan jika kata bodoh itu ditujukan kepadanya, tentu ia akan marah.

• Pekerjaan terberat itu ada tiga ; Sikap dermawan di saat dalam keadaan sempit; Menjauhi dosa di kala sendiri; Berkata benar di hadapan orang yang ditakuti.

• Barangsiapa yang ingin menjadi seorang pemimpin, niscaya kedudukan yang didambakannya itu akan meninggalkannya, dan jika ia telah menduduki jabatan, maka ia akan ditinggalkan banyak ilmu.

• Yang paling nampak pada diri manusia adalah kelemahannya, maka barangsiapa melihat kelemahan dirinya sendiri, ia akan menggapai keistiqamahan terhadap perintah Allah swt.

• Dunia adalah tempat yang licin nan menggelincirkan, rumah yang hina, bangunan-bangunannya akan runtuh, penghuninya akan beralih ke kuburan, perpisahan dengannya adalah sesuatu keniscayaan, kekayaan di dunia sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kemiskinan, bermegah-megahan adalah suatu kerugian, maka memohonlah perlindungan Allah swt, terimalah dengan hati yang lapang segala karunia-Nya. Jangan terpesona dengan kehidupanmu di dunia sehingga meninggalkan kehidupan Akhirat. Ketahuilah, sesungguhnya hidupmu di dunia akan sirna, dindingnya juga miring dan hancur, maka perbanyaklah perbuatan baik dan jangan terlalu banyak berangan-angan.

• Menganggap benar dengan hanya satu pandangan merupakan suatu bentuk ketertipuan. Berpegangan dengan suatu pendapat itu lebih selamat daripada berkelebihan dan penyesalan. Melihat dan berpikir, keduanya akan menyingkap keteguhan hati dan kecerdasan. Bermusyawarah dengan orang bijak merupakan bentuk kemantapan jiwa dan kekuatan mata hati. Maka, berpikirlah sebelum menentukan suatu ketetapan, atur strategi sebelum menyerang, dan musyawarahkan terlebih dahulu sebelum melangkah maju ke depan.

• Kebaikan itu ada di lima perkara : kekayaan hati, bersabar atas kejelekan orang lain, mengais rezeki yang halal, taqwa, dan yakin akan janji Allah swt.

• Pilar kepemimpinan itu ada lima : perkataan yang benar, menyimpan rahasia, menepati janji, senantiasa memberi nasihat dan menunuaikan amanah.

• Keluarga manapun yang wanita-wanitanya tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang bukan anggota keluarga, dan laki-lakinya tidak pernah bertemu dengan wanita-wanita yang bukan dari keluarganya, niscaya akan ada dari anak-anak mereka yang bodoh.

• Keridhaan semua manusia adalah satu hal yang mustahil untuk dicapai, dan tidak ada jalan untuk terselamatkan dari lidah mereka, maka lakukanlah apa yang bermanfaat untuk dirimu dan berpegang teguhlah dengannya.

• Kesia-siaan seorang Alim adalah ketika dia tidak mempunyai kawan, dan kesia-siaan seorang yang bodoh adalah pikirannya yang dangkal. Dan yang lebih sia-sia dari keduanya adalah seorang yang punya kawan namun tak berakal.

• Barangsiapa yang dipancing untuk marah, namun ia tidak marah, maka dia tak ubahnya keledai, dan barangsiapa yang diminta keridhaannya namun tidak ridha, maka dia adalah syetan.

• Terimalah dariku tiga hal :

a. Jangan berbicara panjang lebar tentang sesuatu yang tidak baik perihal Sahabat Rasulullah saw, karena kelak Rasulullah saw nantinya yang akan menjadi seterumu.
b. Janganlah kamu sibukkan dirimu dengan ilmu kalam, sesungguhnya aku telah melakukan kajian dengan ahli ilmu kalam dan mereka telah melakukan ta’thil ( meniadakan sifat Allah swt ).
c. Dan jangan menyibukkan dirimu dalam nujum ( ramalan dengan bintang ).

• Kenyang itu akan membuat badan jadi berat, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mengajak tidur dan melemahkan ibadah.

• Engkau harus berlaku Zuhud, sesungguhnya zuhudnya orang yang zuhud itu lebih baik dari perhiasan yang ada pada tubuh wanita yang menawan.

• Dasar ilmu adalah kemantapan dan buahnya adalah keselamatan. Dasar Wara’ ( menjaga diri dari sesuatu yang meragukan ) adalah Qona’ah ( menerima karunia Allah swt dengan dada yang lapang ) dan buahnya adalah ketenangan batin. Dasar Kesabaran adalah keteguhan hati dan buahnya adalah kemenangan. Dasar suatu Aktifitas adalah Taufiq ( pertolongan Allah swt ) dan buahnya adalah kesuksesan. Dasar Tujuan akhir dari segala Perkara adalah Shidiq ( benar ).

• Terlalu keras dan menutup diri terhadap orang lain akan mendatangkan musuh, dan terlalu terbuka juga akan mendatangkan kawan yang tidak baik, maka posisikan dirimu di antara keduanya.

• Jadikanlah diam sebagai sarana atas pembicaraanmu, dan tentukan sikap dengan berfikir.

• Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya.

• Jika engkau mendengar sesuatu yang engkau benci tentang sahabatmu, maka jangan tergesa-gesa untuk memusuhinya, memutus tali persahabatan, dan kamu menjadi orang yang telah menghilangkan suatu keyakinan dengan keraguan. Tetapi temuilah dia! Dan katakan kepadanya, “Aku mendengar kamu melakukan ini dan itu….?” Tentunya dengan tanpa memberitahukan kepadanya siapa yang memberi informasi kepadamu. Jika ia mengingkarinya, maka katakana kepadanya, “Kamu lebih jujur dan lebih baik”, cukup kalimat itu saja dan jangan menambahi kalimat apapun. Namun jika ia mengakui hal itu, dan ia mengemukakan argumentasinya akan hal itu, maka terimalah.

• Sesungguhnya Hasad itu terlahir dari suatu kehinaan, lekatnya tabiat, perubahan struktur tubuhnya, runtuhnya temperatur tubuh dan lemahnya daya nalarnya.

• Orang yang paling Zhalim adalah mereka yang melakukan kezhaliman itu pada dirinya sendiri. Bentuk kezhaliman itu adalah :
o orang yang bersikap tawadhu’ ( rendah hati ) di depan orang yang tidak menghargainya.
o menumpahkan kasih sayangnya kepada orang yang tidak ada nilai manfaat.
o mendapat pujian dari orang yang tidak dikenalnya.

• Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya, hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.

• Bersihkan pendengaran kalian dari hal-hal yang tidak baik, sebagaimana kalian membersihkan mulut kalian dari kata-kata kotor, sesungguhnya orang yang mendengar itu tidak jauh berbeda dengan yang berucap. Sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam dirinya, kemudian ia berkeinginan untuk menumpahkannya dalam diri kalian, andaikan kalimat yang terlontarkan dari orang bodoh itu dikembalikan kepadanya, niscaya orang yang mengembalikan itu akan merasa bahagia, begitu juga dengan kehinaan bagi orang yang melontarkannya.

• Orang yang mengkaji ilmu faraid, dan sampai pada puncaknya, maka akan tampil sebagai sosok orang yang ahli berhitung. Adapun ilmu hadits, itu akan tampak nilai keberkahan dan kebaikannya pada saat tutup usia. Adapun ilmu fiqih merupakan ilmu yang berlaku bagi semua kalangan baik muda maupun yang tua, karena fiqih merupakan pondasi dasar dari segala ilmu.

• Di antara orang yang tidak mempunyai harga diri adalah mereka yang dengan mudahnya memberitahukan usianya kepada orang lain, karena kalau usianya lebih muda, tentu mereka akan menganggapnya rendah dan jika usianya lebih tua, tentu mereka akan beranggapan bahwa ia sudah pikun.

• Peranti terbentuknya harga diri itu ada empat : kemuliaan akhlak, kedermawanan, sikap santun dan ibadah ( yang istiqamah ).

• Tidak termasuk saudaramu orang yang senang mencari muka di hadapanmu.

• Tidak ada seorangpun yang hidup dengan tanpa adanya orang yang dicintai dan orang yang dibenci, kalau memang demikian realitasnya, maka hendaknya ia senantiasa bersama orang-orang yang taat kepada Allah swt.

• Jika telah ada akar yang tertanam dalam kalbu, maka lidah akan berperan sebagai pemberi kabar cabangnya.

• Karakter umum manusia adalah pelit, termasuk hal yang menjadi kebiasaannya adalah apabila ada orang yang mendekatinya, maka ia akan menjauhinya, dan apabila ada orang yang menjauh darinya, iapun akan mendekati orang itu.

• Siapa yang memberi nasehat saudaranya di tempat yang sunyi, maka ia telah melakukan perbaikan pada dirinya, dan siapa yang memberi nasehat saudaranya di tempat keramaian, sesungguhnya ia membuka aib dan menghianatinya.

• Seorang bijak menulis kepada seorang bijak lainnya : “wahai saudaraku, engkau telah dianugerahi ilmu, maka janganlah kamu kotori ilmumu dengan gelapnya dosa, sehingga kamu berada dalam kegelapan di saat para ahli ilmu berjalan dengan suluh ilmunya.

• Barangsiapa menghendaki akhirat, maka hendaknya ia ikhlas dalam mencari ilmu.

• Kepandaian itu ada dalam masalah agama, bukan dalam masalah keturunan, kalau saja kepandaian diukur dalam masalah keturunan, maka tak ada satu orang pun yang cakap seperti Fatimah putri Rasulullah saw dan putri-putri beliau yang lain.

• Tidak ada orang yang mencari ilmu yang disertai dengan kemalasan; dan kekayaan menjadikan seseorang beruntung, namun keberuntungan itu akan melekat dalam diri orang yang senantiasa mencari ilmu dengan disertai semangat yang tinggi dan prihatin sreta bersanding selalu dengan Ulama.

• Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketabahan.

• Janganlah kamu berkonsultasi kepada orang yang di rumahnya tidak terdapat makanan, karena hal tersebut menandakan tidak berfungsinya akal mereka.

• Bukanlah orang yang berakal itu manakala dihadapkan kepadanya perkara yang baik dan perkara yang buruk, lantas ia memilih yang baik, akan tetapi dikatakan orang berakal apabila dihadapkan kepadanya dua hal yang buruk lantas ia memilih yang paling ringan keburukannya di antara keduanya.

• Besarnya rasa takut itu sesuai dengan kapasitas ilmunya. Tiada seorang alim pun yang ia takuti kecuali kepada Allah swt. Yang merasa aman akan marah Allah swt, dialah si-jahil. Yang merasa takut akan marah Allah swt, dialah si-arif.

• Andaikan semua manusia memikirkan kandungan isi surah al-Ashr, tentu mereka akan merasa cukup dengannnya.

• Kalau aku melihat orang yang suka mengikuti hawa nafsunya, walaupun ia berjalan di atas air, aku tidak akan menemuinya.

• Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an, maka mulia nilainya. Barangsiapa berbicara tentang fiqih, maka akan berkembang kemampuannya. Barangsiapa menulis hadits, maka akan kuat hujjahnya. Barangsiapa mengkaji bahasa, maka akan lembut tabiatnya. Barangsiapa mengkaji ilmu hitung, maka akan sehat pikirannya. Barangsiapa tidak menjaga jiwanya, maka ilmunya tidak akan berguna baginya.

• Perdebatan dalam agama akan mengeraskan hati dan menimbulkan rasa dendam.

• Tiada aib dalam diri Para Ulama yang lebih buruk dari kesenangan mereka terhadap apa yang Allah swt perintahkan kepada mereka untuk berlaku zuhud terhadapnya.

• Setiap orang yang berbicara dengan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits itulah orang orang yang bersungguh-sungguh, sementara orang yang berbicara dengan tanpa landasan dari keduanya itu merupakan bualan saja.

• Pondasi dasar adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika tidak didapati dari keduanya, maka Qiyaslah berlaku. Jika hadits itu shahih, itulah yang disebut sunnah. Ijma’ itu lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada hadits ahad. Yang diambil dari hadits itu adalah teksnya, namun jika hadits tersebut mengandung banyak penafsiran, maka carilah yang mendekati makna teksnya.

• Mencari ilmu lebih utama daripada shalat sunnah. Mempelajari hadits itu lebih baik daripada shalat tathawwu.

• Ilmu terbagi dua ; ilmu kesehatan dan ilmu agama. Yang dimaksud dengan ilmu agama disini adalah ilmu fiqih, sementara ilmu kesehatan adalah ilmu kedokteran.

• Orang yang pandai akan bertanya tentang apa yang ia ketahui dan tidak ia ketahui. Dengan menanyakan apa yang ia ketahui, maka ia akan semakin mantap, dan dengan menanyakan apa yang belum ia ketahui, maka ia akan menjadi tahu. Sementara orang bodoh itu meluapkan kemarahannya karena ( sulitnya ) ia belajar, dan tidak menyukai pelajaran.

• Sejelek-jelek bekal menuju ke alam akhirat adalah permusuhan dengan sesamanya.

• Kaji dan dalamilah sebelum engkau menduduki jabatan, karena kalau engkau telah mendudukinya, maka tidak ada kesempatan bagimu untuk mengkaji dan mendalaminya.

• Pelajarilah dengan teliti suatu pengetahuan, agar engkau tidak kehilangan kedalaman arti kandungannya.

• Pesona para ulama adalah jiwa yang mulia dan sebagai penghias pengetahuan yang dimilikinya adalah wara’ ( menjauhkan diri dari sesuatu yang belum jelas ) dan berlaku bijak.

• Siapa yang merasa bahwa dalam dirinya terkumpul dua cinta, cinta dunia dan cinta kepada penciptanya, maka ia telah berdusta.

• Ketahuilah bahwa orang yang jujur kepada Allah swt, ia akan selamat. Barangsiapa yang bersemangat dengan agamanya, ia pun akan selamat dari kerusakan, dan barangsiapa yang berlaku zuhud dengan urusan dunianya, niscaya kelak pahala Allah swt, akan nampak indah di matanya.

• Barangsiapa terkumpul dalam dirinya tiga sifat, maka imannya telah sempurna : orang yang menyeru kepada kebaikan dan dia juga melaksanakannya, melarang pada perbuatan buruk dan dia tidak melakukannya serta menjaga aturan-aturan yang telah Allah swt tetapkan.

• Berlakulah zuhud dalam menjalani hidup di dunia, dan cintailah kehidupan akhirat dan barangsiapa harum bau ( badan )nya, maka kecerdasannya akan semakin bertambah.

• Suatu keharusan bagi orang yang ‘alim adalah zikir dari setiap aktifitasnya yang dengannya akan terjalin komunikasi antara dirinya dengan Allah swt.

• Jikalau seseorang dari kalian berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai keridhaan setiap orang, niscaya ia tidak akan menemukan jalannya; maka hendaklah seorang hamba mengikhlaskan amalannya ke haribaan Allah swt.

• Tidak ada yang tahu tentang riya, kecuali orang yang ikhlas.

• Tak pantas, siapapun mengatakan halal dan haram kecuali berlandaskan pada pengetahuan. Dan ilmu itu adalah apa yang yang tertulis dalam Al-Qur’an, hadits, ijma’ ataupun qiyas. Dari dasar inilah kesemuanya akan terungkap maknanya.

• Keutamaan itu ada empat :
Pertama : hikmah, dan penopangnya adalah pemikiran.
Kedua : iffah ( menjaga harga diri ), dan penopangnya adalah syahwat.
Ketiga : kekuatan, penopangnya adalah kemarahan.
Keempat : adil, penopangnya adalah kekuatan jiwa.

• Kefaqiran Ulama adalah ikhtiar ( usaha ) dan kefaqiran orang-orang bodoh adalah goncangan jiwanya.

• Barangsiapa yang tidak dimuliakan karena ketaqwaannya, maka dia tidak memiliki harga diri.

• Mencari-cari kelebihan materi di dunia adalah hukuman yang Allah swt timpakan kepada ahli Tauhid.

• Barangsiapa benar dalam berukhuwah dengan saudaranya, maka kekurangannya akan diterima, kelemahannya akan ditutup dan kesalahan-kesalahannya dimaafkan.

• Barangsiapa mengadu domba untuk kepentinganmu, maka dia akan mengadu domba dirimu; dan barangsiapa menyampaikan fitnah kepadamu, maka ia akan memfitnahmu.

• Barangsiapa jika engkau menyenangkannya, dia berkata : pada dirimu ada yang bukan milikmu. Begitu juga ketika kau membuatnya marah, dia berkata : pada dirimu ada yang bukan milikmu.

• Tak akan sempurna ( akal ) seorang laki-laki, kecuali dengan empat hal; beragama, amanah, pemeliharaan dan penjagaan diri, serta ketenangan dan ketabahan.

• Rendah hati adalah akhlaqnya mulia, sedang kesombongan adalah kebiasaan orang tercela. Rendah hati akan menumbuhkan kecintaan dan lapang dada menerima pemberian Allah swt akan melahirkan ketenangan jiwa.

• Andaikan aku ditakdirkan mampu menyuapkan ilmu kepadamu, pasti kusuapi engkau dengan ilmu.

• Aku akan merasa bahagia, jika semua orang mempelajari ilmu ini, dan sama sekali tidak menyandarkannya padaku.

• Betapa aku senang, jika semua ilmu yang aku ketahui dimengerti oleh semua orang, maka dengannya aku mendapat pahala, meskipun mereka tidak memujiku.

• Menuntut ilmu membutuhkan tiga hal : memiliki keterampilan, umur ( waktu ) yang panjang dan mempunyai kecerdasan.

• Sebaik-baik harta simpanan adalah taqwa, dan sejelek-jeleknya adalah sikap permusuhan.

• Siasat manusia jauh lebih dahsyat dari siasat binatang.

• Orang yang berakal adalah mereka yang dapat menjaga dirinya dari segala perbuatan tercela.

• Seorang hamba yang terjatuh pada perbuatan dosa selain dosa syirik itu lebih baik daripada ia terkungkung oleh hawa nafsunya.

• Barangsiapa yang dirinya terkalahkan oleh kuatnya syahwat dunia, maka ia akan senantiasa menjadi budak ahli dunia; dan barangsiapa yang qana’ah ( menerima karunianya dengan lapang dada ) maka akan hilang ketundukannya pada dunia.

• Tiada kebahagiaan yang menyamai persahabatan dengan saudara yang satu keyakinan, dan tiada kesedihan yang menyamai perpisahan dengan mereka.

• Berapa banyak orang yang telah berbuat kebajikan kepadamu yang membuatmu terbelenggu dengannya, dan berapa banyak orang yang memperlakukanmu dengan kasar dan ia memberi kebebasan kepadamu.

• Barangsiapa yang menghargai dirinya melebihi kapasitasnya, maka Allah swt akan mengembalikannya kepada nilai sesungguhnya dalam dirinya.

• Barangsiapa berhias diri dengan kebatilan, maka Allah swt akan membuka penutup kejelekannya.

• Hendaklah ada bersama ahli fiqih seorang yang bodoh, sehingga ia dapat memberi pelajaran kepadanya.

• Yang menjadi pengganti Nabi Muhammad saw itu ada lima : Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq, Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina Umar bin Abdul Aziz.

• Barangsiapa yang ditertawakan karena suatu masalah, maka ia tidak akan pernah melupakan masalah tersebut.

• Tingkat tertinggi para Ulama adalah ketaqwaan, perhiasan mereka adalah akhlaq mulia dan pesona mereka adalah jiwa yang agung.

• Jika kalian melihat kitab yang didalamnya ada catatan tambahan dan perbaikan, maka lihatlah kebenaran yang ada didalamnya.

• Mereka yang menguasai bahasa arab adalah jin yang berupa manusia, mereka melihat apa yang tidak dilihat orang lain.

• Sesungguhnya akal itu punya batas maximal, sebagaimana mata juga mempunyai batas pandang maximal.

• Orang yang selalu menjaga dirinya akan senantiasa bersungguh-sungguh.

• Pertolongan adalah zakatnya muru’ah.

• Jika terdapat banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, maka mulailah dari yang terpenting dan mendesak.

• Barangsiapa menyimpan rahasianya, maka kebaikan ada di tangannya.

• Siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka harus disertai dengan ilmu; dan siapa menghendaki akherat, juga harus dengan ilmu.

Anda mungkin juga meminati:

Wahabi memalsukan Kitab-Kitab Ulama Klasik

Rabu, 08 Agustus 2012

Wahabi memalsukan Kitab-Kitab Ulama Klasik

Bukti (Scanned kitab) kejahatan wahabi memalsukan kitab Imam Ahlusunnah (Part 1) : 8 dari 40 kitab yang dipalsukan

Menurut penelitianpenulis, ada 38 kitab yang telah terbukti mengalami pemalsuan. Padahal ini belum lagi yang lain yang jumlahnya banyak. Diantaranya:
1.Shahih bukhari
2.Shahih muslim
3.Shahih at-turmudzi
4.Musnad imam ahmad
5.Tarikh al-ya’qubi
6.Nahj al-balaghah
7.Syarh aqaid an-nasafi
8.Al-kasykul wal mukhallah
9.Iqtidhas shirat al-mustaqim
10.Ahwalul qubur, ibn rajab
11.Al-bahr al-muhith
13.As-shawaiqul muhriqah
14.Diwan al-mutanabbi
15.Akhbarul himaqi wal mughaffilin
16.Hayatul muhammad
17.Thabaqatul mu’tazilah
18.Al-ibanah, asy’ari
19.Majma’ al-bayan
20.Mukhtashar tarikh ad-dual
21.Al-aghani, abul faraj
22.Muqatil at-thalibin
23.At-thabaqat, ibn sa’ad
24.Syarh an-nahj, al-mu’tazili
25.Tathir al-jinan
26.Al-ma’arif, ibn qutaibah
27.Tarikh at-thabari
28.Hasiyah as-shawi ala tafsir jalalain
29.Aqidatus salaf ashabul hadits
30.Syarh al-aqidah at-thahawiyah
31.Al-adzkar, an-nawawi
32.Tafsir al-kasyaf, az-zamahsyari
33.Diwanul imam syafi’i
34.Al-fawaid al-muntakhabat
35.Tafsir ruhul ma’ani
36.Hasiyah ibnul abidin
37.Majmu’ fatawa, ibn taimiyah
38.Nihayah al-qaul al-mufid
39. Alwasiat imam Hanafi
40. Nadzom jurumiyah
dll
[lihat Mereka memalsukan kitab-kitab karya ulama klasik:82-83]
disini adalah bukti nyata pemalsuan kitab kitab ulama sunni oleh wahabi :
1. Pemalsuan Kitab alwasiat (imam Hanafi)
2. Pemalsuan Kitab Ijtima’ al-Juyus al-Islamiyah ‘ala Ghazwi al-Mu’aththilah wa al-Jahmiyah (Ibnul Qayyim al-Jauziyah)
3. Pemalsuan Kitab  ‘Aqidah as-Salaf Ashab al-Hadits (Imam  Abu Utsman As-Shobuni)
4. Pemalsuan Kitab “Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain”  (Imam ashawi asyafi’i)
5. Pemalsuan kitab “al adzkar” (Imam Nawawi)
6. Pemalsuan Kitab “Diwan Imam Syafii ” (Imam Syafii)
7. Pemalsuan Kitab “jami’ushaghir” (Imam Suyuti) oleh Syaikh Albani alkadzab
8. Pemalsuan  Kitab Nadhom Jurumiyah
===============================
Bukti Buktinnya: 

A. Kejahatan Wahabi Yang Merombak Kitab al-Washiyyah (Imam Abu Hanifah) : Dia Allah Istawâ atas arsy dari tanpa memerlukan kepada arsy itu sendiri dan tanpa bertempat di atasnya

Kejahatan Wahabi Yang Merombak Kitab al-Washiyyah Karya Imam Abu Hanifah
Tradisi buruk kaum Musyabbihah dalam merombak karya para ulama Ahlussunnah terus turun-temurun dan berlangsung hingga sekarang. Kaum Wahhabiyyah di masa sekarang, yang notabene kaum Musyabbihah juga telah melakukan perubahan yang sangat fatal dalam salah satu karya al-ImâmAbu Hanifah berjudul al-Washiyyah. Dalam Kitab berjudul al Washiyyah yang merupakan risalah akidah Ahlussunnah karya Imam agung, Abu Hanifah an Nu’man ibn Tsabit al Kufiyy (w 150 H),  beliau menuliskan :

استوى على العرش من غير أن يكون احتياج إليه واستقرار عليه

(Artinya; Dia Allah Istawâ atas arsy dari tanpa membutuhkan kepada arsy itu sendiri dan tanpa bertempat di atasnya).
Perhatikan manuskrip kitab al Washiyyah ini:
Namun dalam cetakan kaum Wahabi tulisan Imam Abu Hanifah tersebut dirubah menjadi:

استوى على العرش من غير أن يكون احتياج إليه واستقر عليه

Maknanya berubah total menjadi: ”Dia Allah Istawâ atas arsy dari tanpa membutuhkan kepada arsy, dan Dia bertempat di atasnya”.
Anda perhatikan dengan seksama cetakan kaum Wahabi berikut ini:
Padahal, sama sekali tidak bisa diterima oleh akal sehat, mengatakan bahwa Allah tidak membutuhkan kepada arsy, namun pada saat yang sama juga mengatakan bahwa Allah bertempat di atas arsy.
Yang paling mengherankan ialah bahwa dalam buku cetakan mereka ini, manuskrip risalah al-Imâm Abu Hanifah tersebut mereka sertakan pula. Dengan demikian, baik disadari oleh mereka atau tanpa disadari, mereka sendiri yang telah membuka ”kedok” dan “kejahatan besar” yang ada pada diri mereka, karena bagi yang membaca buku ini akan melihat dengan sangat jelas kejahatan tersebut.
Anda tidak perlu bertanya di mana amanat ilmiah mereka? Di mana akal sehat mereka? Dan kenapa mereka melakukan ini? Karena sebenarnya itulah tradisi mereka. Bahkan sebagian kaum Musyabbihah mengatakan bahwa berbohong itu dihalalkan jika untuk tujuan mengajarkan akidah tasybîh mereka. A’ûdzu Billâh. Inilah tradisi dan ajaran yang mereka warisi dari “Imam” mereka, “Syaikh al-Islâm” mereka; yaitu Ahmad ibn Taimiyah, seorang yang seringkali ketika mengungkapkan kesesatan-kesesatannya lalu ia akan mengatakan bahwa hal itu semua memiliki dalil dan dasar dari atsar-atsar para ulama Salaf saleh terdahulu, padahal sama sekali tidak ada. Misalkan ketika Ibn Taimiyah menuliskan bahwa “Jenis alam ini Qadim; tidak memiliki permulaan”, atau ketika menuliskan bahwa “Neraka akan punah”, atau menurutnya “Perjalanan(as-Safar) untuk ziarah ke makam Rasulullah di Madinah adalah perjalanan maksiat”, atau menurutnya “Allah memiliki bentuk dan ukuran”, serta berbagai kesesatan lainnya, ia mengatakan bahwa keyakinan itu semua memiliki dasar dalam Islam, atau ia berkata bahwa perkara itu semua memiliki atsar dari para ulama Salaf saleh terdahulu, baik dari kalangan sahabat maupun dari kalangan tabi’in, padahal itu semua adalah bohong besar. Kebiasaan Ibn Taimiyah ini sebagaimana dinyatakan oleh muridnya sendiri; adz-Dzahabi dalam dua risalah yang ia tulisnya sebagai nasehat atas Ibn Taimiyah, yang pertama an-Nashîhah adz-Dzhabiyyah dan yang kedua Bayân Zaghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab.
Sesungguhnya memang seorang yang tidak memiliki senjata argumen, ia akan berkata apapun untuk menguatkan keyakinan yang ia milikinya, termasuk melakukan kebohongan-kebohongan kepada para ulama terkemuka. Inilah tradisi ahli bid’ah, untuk menguatkan bid’ahnya, mereka akan berkata: al-Imam Malik berkata demikian, atau al-Imam Abu Hanifah berkata demikian, dan seterusnya. Padahal sama sekali perkataan mereka adalah kedustaan belaka.
Dalam al-Fiqh al-Akbar, al-Imam Abu Hanifah menuliskan sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya Allah itu satu bukan dari segi hitungan, tapi dari segi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tidak ada suatu apapun yang meyerupai-Nya. Dia bukan benda, dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Dia tidak memiliki batasan (tidak memiliki bentuk; artinya bukan benda), Dia tidak memiliki keserupaan, Dia tidak ada yang dapat menentang-Nya, Dia tidak ada yang sama dengan-Nya, Dia tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya, dan tidak ada suatu apapun dari makhluk-Nya yang menyerupainya” (Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan Syarh-nya karya Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 30-31).

Masih dalam al-Fiqh al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan sebagai berikut:

وَاللهُ تَعَالى يُرَى فِي الآخِرَة، وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنّةِ بِأعْيُنِ رُؤُوسِهِمْ بلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِّيَّةٍ وَلاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَة.

“Dan kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat-Nya tanpa adanya keserupaan (tasybih), tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah), tanpa bentuk (kammiyyah), serta tanpa adanya jarak antara Allah dan orang-orang mukmin tersebut (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan atau-pun samping kiri)”” ( Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan syarah Syekh Mulla Ali al-Qari, h. 136-137).

Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini sangat jelas dalam menetapkan kesucian tauhid. Artinya, kelak orang-orang mukmin disurga akan langsung melihat Allah dengan mata kepala mereka masing-masing. Orang-orang mukmin tersebut di dalam surga, namun Allah bukan berarti di dalam surga. Allah tidak boleh dikatakan bagi-Nya “di dalam” atau “di luar”. Dia bukan benda, Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Inilah yang dimaksud oleh Al-Imam Abu Hanifah bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah tanpa tasybih, tanpa Kayfiyyah, dan tanpa kammiyyah.
Pada bagian lain dari Syarh al-Fiqh al-Akbar, yang juga dikutip dalam al-Washiyyah, al-Imam Abu Hanifah berkata:

ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق

“Bertemu dengan Allah bagi penduduk surga adalah kebenaran. Hal itu tanpa dengan Kayfiyyah, dan tanpa tasybih, dan juga tanpa arah” (al-Fiqh al-Akbar dengan Syarah Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 138).

Kemudian pada bagian lain dari al-Washiyyah, beliau menuliskan:

وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.

“Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).

Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.“

Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).

Pada bagian lain dalam kitab al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

“Allah ada tanpa permulaan (Azali, Qadim) dan tanpa tempat. Dia ada sebelum menciptakan apapun dari makhluk-Nya. Dia ada sebelum ada tempat, Dia ada sebelum ada makhluk, Dia ada sebelum ada segala sesuatu, dan Dialah pencipta segala sesuatu. Maka barangsiapa berkata saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?, maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula menjadi kafir seorang yang berkata: Allah bertempat di arsy, tapi saya tidak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit” (al-Fiqh al-Absath, h. 57).

Wa Allah A’lam Bi ash Shawab,
Wal Hamdu Lillah Rabb al Alamin,
(Page AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT)
Lampiran :


I. Bukti (Kitab al fiqh al absath)  Aqidah Imam Abu Hanifah “ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH”, (Mewaspadai Ajaran Sesat Wahabi)



Terjemah:
Lima: Apa yang beliau (Imam Abu Hanifah) tunjukan –dalam catatannya–: “Dalam Kitab al-Fiqh al-Absath bahwa ia (Imam Abu Hanifah) berkata: Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum menciptakan segala makhluk, Dia ada sebelum ada tempat, sebelum segala ciptaan, sebelum segala sesuatu”. Dialah yang mengadakan/menciptakan segala sesuatu dari tidak ada, oleh karenanya maka tempat dan arah itu bukan sesuatu yang qadim (artinya keduanya adalah


II. Hujjah Imam Hanafi dalam Kitab Alwasiat) Kalahkan Aqidah sesat salafy / wahaby


NIH BACA YANG DIGARIS MERAH :

( DIATAS ADALAH KENYATAAN IMAM ABU HANIFAH DALAM KITAB WASIAT BELIAU PERIHAL ISTAWA )

Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab wasiat yang ditulis imam hanifah, sepertimana yang telah di scandiatas, baca yang di line merah) :

 Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat beliau.

================================

B. Bukti Ibnu qayyim melegalkan tawasul dan Kejahatan Wahabi memalsukan kitab ibnul qayyim


Kitab karya Ulama Rujukan Sejati mereka pun tak lepas dari penganiayaan mereka.
Kitab “Ijtima’ al-Juyus al-Islamiyah ‘ala Ghazwi al-Mu’aththilah wa al-Jahmiyah” karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah.

Ibnul Qayyim dalam kitab ini menyebutkan aqidah Imam Hujjatul Islam Abi Ahmad bin Husain Asy-Syafi’iy yang dikenal dengan Ibn Hadaad. Dalam kitab cetakan Darul Kutub ilmiyah, Beirut – Libanon, Cetakan pertama, Tahun 1974, Halaman 105 dituliskan :
ونتوسل إلى الله تعالى باتباعهم
Artinya : Dan kita ber”wasilah” (bertawassul) kepada Allah Yang Maha Tinggi dengan (cara) mengikuti mereka (para shahabat Rasulullah)

NAMUN jika kita lihat pada teks dalam manuskrip ASLinya, yang tertulis adalah :

ونتوسل إلى ربنا تعالى بهم
Artinya : Dan kita ber”wasilah” (bertawassul) kepada Tuhan kita Yang Maha Tinggi dengan mereka (para shahabat Rasulullah).

Secuil pen-tahrif-an isi kitab ini otomatis akan menghasilkan pengertian yang berbeda.
“Berwasilah dengan (cara) mengikuti para sahabat” berbeda pengertiannya dengan “berwasilah dengan mereka”.
KETERANGAN GAMBAR :
1. Tulisan dalam lingkar hitam adalah scan isi kitab Ijtima’ al-Juyus al-Islamiyah ‘ala Ghazwi al-Mu’aththilah wa al-Jahmiyah, cetakan Darul Kutub ilmiyah, Beirut – Libanon, Cetakan pertama, Tahun 1974, Halaman 105. kalimat dalam lingkar birunya adalah kalimat yang sudah ditahrif, yang tertulis : ونتوسل إلى الله تعالى باتباعهم
2. Tulisan dalam lingkar hijau adalah Zoom scan mahfuzhah/manuskrip dari kitab Ijtima’ al-Juyus al-Islamiyah ‘ala Ghazwi al-Mu’aththilah wa al-Jahmiyah. Kalimat dalam dua lingkar merah tertulis :
ونتوسل إلى ربنا تعالى بهم

=====================

C. Bukti Kejahatan Wahabi Mengubah Kitab Ash Shobuni dengan kedok Tharij/ Tahrif = Ziarah Kubur Nabi Menjadi Ziarah masjid nabi

Tahrif Kitab Ash Shobuni

Nama Kitab : ‘Aqidah as-Salaf Ashab al-Hadits
Penulis : Abu Utsman As-Shobuni
Pemalsu : (diduga) Kelompok Wahhabi
Tujuan : Pembenaran faham Wahhabi sebagai faham Salafy
Pada bukti kali ini anda akan saya bawa kepada fakta bahwa mereka memang suka mentahrif kitab kitab ‘Ulama, jika kaum Yahudi terkenal sebagai kaum yang suka merubah rubah isi kitab sucinya para Rasul, maka mereka sangat hoby mentahrif kitab ‘ulama, dan kali ini yang menjadi korban tahrif itu adalah Kitab Ash Shobuni.
Tahrif Kitab Ash Shobuni ini disertai bukti yang kuat melalui scen kitab asli dan palsunya, betapa tahrif kitab ash shobuni ini dalam rangka mendukung fatwa farwa mufti yang ada di kerajaannya.
Berikut adalah Cover Edisi “pemalsuan” pertama  cetakan tahun 1397 H.:
Tahrif Kitab Ash Shobuni
Edisi pertama ini adalah cetakan ad-Dar as-Salafiyah Kuwait. berikut adalah isu kajian yang dipalsukan:

perhatikan, pada halaman ini komentator menjelaskan (sekaligus memperlihatkan) perubahan kata “ziyarat qabri“ pada kata “ziyarat masjidi”. Menurutnya, kata “ziyarat qabri“ adalah salah (walaupun naskah aslinya seperti itu).
Lalu beberapa tahun kemudian, tahun 1404 H. terbit edisi baru:
Tahrif Kitab Ash Shobuni
ini adalah edisi cetakan  pada percetakan yang sama. dengan komentator Badar al-Badar (yang mungkin lebih amanah dari edisi sebelumnya), coba perhatikan pada isu yang sama:

pada halaman ini, terlihat bahwa kata “ziyarat qabri” tertulis sebagaimana aslinya. walaupun si komentator memberikan komentar sesuai dengan keyakinannya, bahwa kata “ziyarat qabri” itu salah.
Kemudian edisi berikutnya, terbit di Mesir:
Tahrif Kitab Ash Shobuni
yang diterbitkan oleh percetakan  Dar at-Tauhid li an-Nasr wa at-Tawzi’, dengan komentator Abu Khalid Majdi Ibn Saad. pada isu yang sama, si komentator sama sekali merubah dan bahkan membuang semua komentar pada edisi sebelumnya, sehingga pembaca akan kehilangan jejak sama sekali.
Tahrif Kitab Ash Shobuni
Anda ingin bergabung dengan orang-orang jahat? Wahabi akan menerima anda dengan tangan terbuka!!!

==================================

D. Tafsir Shawi Bongkar Kejahatan Wahabi

Hasyiyah Ash-Shawi 'ala Tafsir Al-Jalalain
Di dalam kitab tafsir “Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain” yang masih asli dan belum ditahrif oleh Wahabi Salafi cetakan “Darul Fikr” jilid 5 halaman 119-120 (lihat dan simak tulisan yang ada di foto kedua & ketiga di bagian baris 1, 2, dan 3 dari bawah, dan foto keempat di bagian baris 5 dan 6 dari atas) diterangkan sebagai berikut:

ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ۬ شَدِيدٌ۬ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ۬ وَأَجۡرٌ۬ كَبِيرٌ (٧ 

Artinya:Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Qur’an Surat Fathir: 7)
scan kitab
 
Tulisan yang ada di foto kedua dan ketiga, sebagai berikut:

و قيل : هذه الأية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة , و يستحلون بذلك دماء المسلمين و أموالهم , لما هو مشاهد الأن فى نظائرهم و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون أنهم على شيئ 

Artinya:“Dikatakan bahwa ayat tersebut di atas diturunkan pada kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang suka mentahrif (merubah) Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Dengan demikian, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Hal itu bisa dibuktikan, karena adanya suatu kesaksian pada bangsa mereka saat ini. Mereka adalah golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Mekkah). Golongan tersebut dinamakan “Wahabiyyah”. Mereka mengira bahwa mereka berkuasa atas sesuatu.”…
 
Tulisan yang ada di foto keempat, sebagai berikut:

ألا أنهم هم الكاذبون , استحوذ عليهم الشيطان , فأنساهم ذكر الله , اولئك حزب الشيطان , ألا ان حزب الشيطان هم الخاسرون , نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم 

Artinya:
“Ingatlah ! Mereka adalah golongan para pembohong, yang telah dikuasai oleh hawa nafsu setan. Dan setan itu berusaha melupakan agar mereka tidak ingat atau dzikir kepada Allah swt. Mereka adalah termasuk golongan setan. Sedangkan, golongan setan itu adalah golongan orang-orang yang merugi. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, semoga Allah membinasakan mereka !.”
BANDINGKAN:

  • Kitab tafsir Ash-Shawi yang asli.

tafsir “Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain” yang masih asli dan belum ditahrif oleh Wahabi Salafi cetakan pertama “Darul Fikr” th 1988 jilid 5 halaman 119, tertulis:

و قيل : هذه الأية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة , و يستحلون بذلك دماء المسلمين و أموالهم , لما هو مشاهد الأن فى نظائرهم و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون أنهم على شيئ

“Dikatakan bahwa ayat tersebut di atas diturunkan pada kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang suka mentahrif (merubah) Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Dengan demikian, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Hal itu bisa dibuktikan, karena adanya suatu kesaksian pada bangsa mereka saat ini. Mereka adalah golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Mekkah). Golongan tersebut dinamakan “Wahabiyyah”. Mereka mengira bahwa mereka berkuasa atas sesuatu.”

  • Kitab tafsir Ash-Shawi yang dipalsu wahabi


tafsir “Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain” yang masih sudah dipalsukan dan dihapus oleh Wahabi Salafi cetakan “Darul Fikr” tahun 1993 jilid 3 halaman 397, Tertulis

و قيل : هذه الأية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة , و يستحلون بذلك دماء المسلمين و أموالهم , لما هو مشاهد الأن فى نظائرهم………….. يحسبون أنهم على شيئ

“Dikatakan bahwa ayat tersebut di atas diturunkan pada kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang suka mentahrif (merubah) Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Dengan demikian, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Hal itu bisa dibuktikan, karena adanya suatu kesaksian pada bangsa mereka saat ini………………………………………….. Mereka mengira bahwa mereka berkuasa atas sesuatu.”

Sekte wahabi salafi menghapus kalimat:
و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية
Mereka adalah golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Saudi). Golongan tersebut dinamakan “Wahabiyyah”.

CATATAN PENTING:
Kitab tafsir “Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain” yang saat ini beredar di seluruh dunia, asbabun nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat-ayat suci Al-Qur’an) ayat tersebut di atas yang menerangkan tentang “Wahabiyah” dihapus dan dihilangkan oleh kelompok Wahabi. Karena, kalau tidak dihilangkan akan merugikan dan membahayakan bagi mereka, bahkan bisa menjadi ancaman bagi Saudi Arabia dalam rangka tetap menjaga dan memelihara eksistensi kerajaannya di dunia internasional.
(Oleh: KH. thobary Syadzily, Ketua Tim Sarkub)


Tafsir hasyiah asowi yang lain :


DI ATAS ADALAH COVER BAGI KITAB “HASYIYAH AL-ALLAMAH AS-SOWI ALA TAFSIR JALALAIN” KARANGAN SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD AS-SOWI ALMALIKY MENINGGAL 1241H.
YANG TELAH DIPALSUKAN OLEH WAHHABI.CETAKAN DAR KUTUB ILMIAH PADA TAHUN 1420H IAITU SELEPAS CETAKAN YANG ASAL TELAH PUN DIKELUARKAN PADA TAHUN 1419H.

INI ISU KANDUNGAN DALAM KITAB YANG TELAH DIPALSUKAN:

ISI KITAB DI ATAS YANG TELAH DIPALSUKAN & TIDAK BERSANDARKAN PADA NASKHAH YANG ASAL DAN DIUBAH PELBAGAI ISI KANDUNGAN ANTARANYA PENGARANG KITAB TELAH MENYATAKAN WAHHABI ADALAH KHAWARIJ KERANA MENGHALALKAN DARAH UMAT ISLAM TANPA HAK. TETAPI DIPALSUKAN OLEH WAHHABI LANTAS DIBUANG KENYATAAN TERSEBUT. INI MERUPAKAN KETIDAK ADANYA AMANAH DALAM ILMU AGAMA DISISI KESEMUA PUAK WAHHABI.
NAH…!
INILAH KITAB TAFSIR TERSEBUT YANG ORIGINAL LAGI ASAL:


DI ATAS INI ADALAH COVER KITAB SYARHAN TAFSIR ALQURAN BERJUDUL “HASYIYAH AL-ALLAMAH AS-SOWI ALA TAFSIR JALALAIN”.KARANGAN SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD AS-SOWI ALMALIKY MENINGGAL 1241H.CETAKAN INI ADALAH CETAKAN YANG BERSANDARKAN PADA NASKHAH KITAB TERSEBUT YANG ASAL.DICETAK OLEH DAR IHYA TURATH AL-’ARABY.
PERHATIKAN PADA BAHAGIAN BAWAH SEBELUM NAMA TEMPAT CETAKAN TERTERA IANYA ADALAH CETAKAN YANG BERPANDUKAN PADA ASAL KITAB.CETAKAN PERTAMA PADA TAHUN 1419H IAITU SETAHUN SEBELUM KITAB TERSEBUT DIPALSUKAN OLEH WAHHABI.

INI ISI KANDUNGAN DALAM KITAB TERSEBUT PADA JUZUK 5 MUKASURAT 78:
DI ATAS INI ADALAH KENYATAAN SYEIKH AS-SOWI DARI KITAB ASAL MENGENAI WAHHABI DAN BELIAU MENYIFATKAN WAHHABI SEBAGAI KHAWARIJ YANG TERBIT DI TANAH HIJAZ.
BELIAU MENOLAK WAHHABI BAHKAN MENYATAKAN WAHHABI SEBAGAI SYAITAN KERANA MENGHALALKAN DARAH UMAT ISLAM, MEMBUNUH UMAT ISLAM DAN MERAMPAS SERTA MENGHALALKAN RAMPASAN HARTA TERHADAP UMAT ISLAM.LIHAT PADA LINE YANG TELAH DIMERAHKAN.

Inilah Wahhabi. Bila ulama membuka pekung kejahatan mereka Wahhabi akan bertindak ganas terhadap kitab-kitab ulama Islam.
Awas..sudah terlalu banyak kitab ulama Islam dipalsukan oleh Wahhabi kerana tidak sependapat dengan mereka.
Semoga Allah memberi hidayah kepada Wahhabi dan menetapkan iman orang Islam.

=============================

E. Kaum Wahabi Telah Mengoyak Kitab al Adzkar Karya Imam An Nawawi (Mengungkap Kejahatan Wahabi)

Kitab al-Adzkar al-Nawawiyyah karya al-Imam al-Nawawi pernah mengalami nasib yang sama. Kitab al-Adzkar dalam edisi terbitan Darul Huda, 1409 H, Riyadh Saudi Arabia, yang di-tahqiq oleh Abdul Qadir al-Arna’uth dan di bawah bimbingan Direktorat Kajian Ilmiah dan Fatwa Saudi Arabia(LAJNAH AL BUHUTS AL ILMIYYAH WA AD DA’WAH WA AL IRSYAD”.), telah di-tahrifsebagian judul babnya dan sebagian isinya dibuang. Yaitu Bab Ziyarat Qabr Rasulillah SAW diganti dengan Bab Ziyarat Masjid Rasulillah SAW dan isinya yang berkaitan dengan kisah al-’Utbi ketika ber-tawasul dan ber-istighatsah dengan Rasulullah saw, juga dibuang.
Anda tahu apa yang dilakukan oleh lajnah al buhuts at takfiriyyah ini???? Mereka “mengoyak” tulisan Imam an Nawawi; lihat.. sebuah bab semula berjudul:

فصل في زيارة قبر رسول الله صلي الله عليه وسلم

[[[[[ Pasal: Dalam menjelaskan tentang ziarah ke makam Rasulullah ]]]]]
(Anda tahu; kandungan makna dari penamaan bab ini?? adalah berisi ungkapan betapa besar Imam an Nawawi mencintai dan mengagungkan Rasulullah….!!!)
Tapiiii…. ternyata; kaum Wahabiyyah Talafiyyah telah merubah judul bab tersebut menjadi:

فصل في زيارة مسجد رسول الله صلي الله عليه وسلم

[[[[ Pasal: Dalam menjelaskan ziarah ke masjid Rasulullah ]]]]
(Anda tahu dengan pemalsuan tangan-tangan jahat Wahabi ini betapa besar “luka” yang ditorekan mereka kepada “hati” seorang Imam terkemuka sekelas Imam an Nawawi??? Apakah anda tidak merasakan bahwa tangan-tangan jahat tersebut tidak hanya melukai seorang Imam an Nawawi… tapi; PERHATIKAN… bukankah itu melukai Rasulullah???? Lalu apakah anda sebagai umat Rasulullah tidak merasa dilukai ketika Rasulullah dilukai oleh tangan-tangan jahat itu???
Apakah anda tahu bahwa Rasulullah besabda:

من زار قبري وجبت له شفاعتي / رواه البزار وغيره

“Barangsiapa yang datang berziarah ke makamku maka wajiblah ia mendapatkan syafa’atku” (HR. al Bazzar dan lainnya)
????????????????????????????????????????????????????
Orang-orang Wahabi yang tidak tahu diri itu harus menjawab “pertanyaan panjang” ini, dan harus mempertanggungjawabkan itu semua di hadapan Rasulullah kelak; [ ]



Sedangkan pada cetakan wahabi yang lain, kisah utbiy tidak dihilangkan tapi “Pasal ziarah ke kubur Nabi” tidak ditulis dalam daftar isi kitab padahal setiap pasal yang lain ditulis. Sedangkan “Bab Apa apa yang bermanfaat bagi si mayyit dari bacaan selainnya/ bab maa yafna’u lmayyit min qauli ghirihi” SUDAH DIHILANGKAN.  Dibawah ini adalah scan kitab annawawi yang masih asli:



Maka tersebutlah di dalam kitab “al-Adzkar” yang masyhur karya ulama waliyUllah terbilang, Imamuna an-Nawawi ‘alaihi rahmatul Bari, pada halaman 258, antara lain:-
“…. Dan para ulama telah berbeza pendapat mengenai sampainya pahala bacaan al-Quran (kepada si mati). Maka pendapat yang masyhur daripada mazhab asy-Syafi`i dan sekumpulan ulama bahawasanya pahala bacaan al-Quran tersebut tidak sampai kepada si mati. Imam Ahmad bin Hanbal serta sekumpulan ulama yang lain dan sekumpulan ashab asy-Syafi`i (yakni para ulama mazhab asy-Syafi`i) berpendapat bahawa pahala tersebut SAMPAI. Maka (pendapat) yang terpilih adalah si pembaca al-Quran tersebut hendaklah berdoa setelah bacaannya : “Ya Allah sampaikanlah pahala apa-apa yang telah aku bacakan kepada si Fulan.”
F. Bait Diwan Imam Syafe’i yang dihilangkan oleh wahabi ****
BAIT YANG HILANG DARI DIWAN IMAM SYAFI’I !

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan
juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.
Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, 
maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. 
Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, 
maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]
COBA DOWNLOAD DARI (Diwan syafii yang dipalsukan) :
http://www.almeshkat.net/books/open.php?cat=17&book=16
MAKA KALIMAT DI ATAS SUDAH HILANG !
BANDINGKAN DENGAN TERBITAN BEIRUT DAN DAMASKUS:
Dar al-Jil Diwan (Beirut 1974) p.34

 
Dar al-Kutub al-`Ilmiyya (Beirut 1986) p.48 
 


Bahkan terbitan Dar el-mareefah juga dihilangkan (Scan kitab pdf diwan syafii yang asli):
http://www.4shared.com/file/37064910/c3ad321/Diwan_es-Safii.html?s=1

==============================

G. Syaikh Albani wahabi mengubah Kitab Jami’ushaghir Imam Suyuti

Kitab Al-Jamius Shaghir ditulis oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Nama lengkap beliau adalah Jalaluddin abdurrahman ibn Kamaluddin Abi Bakr ibn Muhammad al-Suyuthi. Beliau lahir tahun 849 H atau tahun 1445 M di Asyuth Mesir dari keturunan orang-orang terkemuka di negeri itu dan wafat tahun 911 H atau 1505 M. Ayah beliau wafat pada waktu beliau berumur 6 tahun, sehingga beliau tumbuh sebagai anak yatim.
Untuk memuaskan dahaganya akan ilmu, maka selain di negerinya sendiri, beliau pun mencari ilmu dan merantau ke negeri-negeri seperti Syam, Hijaz, Yaman, India, Maghribi, dan negeri-negeri lain; serta berguru pada para ulama terkenal yang menguasai berbagai disiplin ilmu saat itu, yang jumlahnya kurang lebih 150 orang. Di antara ulama itu ialah Syaikh Syihabuddin al-Syarmasahi, Syaikhul Islam Alamuddin al-Bulqini, putera al-Bulqini, Syaikhul Islam Syarafuddin al-Manawi, Taqiyuddin al-Syibli, Muhyiddin al-Khafiji, Syaikh al-Hanafi, dan lain-lain. Bidang keilmuan yang beliau kuasai sangat luas, antara lain Tafsir, Hadits, Fiqh, Nahwu, Ma’ani, Bayan, dan Badi’ menurut cara orang Arab yang baligh, bukan menurut cara orang Ajam (non-Arab) dan ahli-ahli filsafat (keterangan ini dapat diperoleh dalam kitab beliau Husnul Muhaadlarah).
Sesungguhnya kitab hadits Al-Jami’ Ash-Shaghir karangan Al-Hafidz As-Suyuthi merupakan salah satu kitab hadits yang paling lengkap pokok pembahasannya, paling banyak manfaatnya, paling sederhana penyusunannya. dan yang menjadi kekhasan kitab ini adalah hadits-hadits yang tercantum diurutkan berdasarkan urutan huruf hijaiyah.Kitab jamius Shaghir beliau selesaikan pada tahun 907 H, 4 tahun sebelum beliau wafat (911 H). Dan ini sungguh suatu jihad yang dilakukan oleh seorang ulama untuk mengumpulkan dan menyusun sebuah kitab sehingga manfa’atnya dapat dirasakan oleh ummat setelahnya. Beliau juga menyusun secara terpisah appendix (lampiran) bagi kitabnya ini dengan judul Ziyaadah Al Jami’. Dalam salah satu tulisannya beliau berkata,”Ini adalah appendix bagi kitab karangan saya yang bernama Al Jamius Shaghir Min hadits Al basyir An Nadzir, dan saya memberinya nama Az Ziyadah Al Jami’. Kode yang terdapat dalam appendix ini sam dengan kode dalam kitab Al Jami’, dan susunannya pun sama dengan yang terdapat dalam kitab Al jami’”
Akan tetapi masih banyak koreksi hadits dari para ulama yang lain diantaranya Al-Imam Al-Mannawi -rahimahullah- dalam kitabnya Al-Faidhul Qodir Syarh Al-Jamius Shaghir, juga Appendix kitab Al-jami’, yakni Az-Ziyadah Al-Jami’ juga beliau komentari dalam kitabnya Miftah As-Sa’dah bi Syarhi Az-Ziyadah. Dalam kitabnya ini, Beliau berupaya mengkritisi derajat hadits yang terkandung dalam kitab Al-Jamius Shaghir, namun sayangnya tidak semua hadits beliau teliti.
Entah dengan alasan tersebut atau maksud lain, maka seorang yang katanya ulama hadits tapi belum punya julukan AL-HAFIZH tetapi berani membuat KITAB TANDINGAN JAMI’US SHAGHIR. Orang ini namanya tersohor dikalangan WAHABI SALAFI tapi keulama’annya terdengar ANEH ditelinga Ahlussunnah wal Jama’ah pada umumnya. Siapa dia kalau bukan Nashiruddin Al-Albani yang mengklaim dirinya telah menyempurnakan kitab Jami’us Shaghir dengan LABEL SHAHIH AL-JAMI’ ASH-SHAGHIR WA ZIYADATUH. Juga begitu beraninya Al-Bani ini mendho’ifkan banyak hadits shahih Imam Bukhari.
Untuk membedakan mana Kitab Jami’us Shaghir milik Ahlussunnah Imam Suyuthi dan Kitab Jami’us Shaghir milik WAHABI SALAFI karangan Al-Bani perhatikan gambar dibawah ini.
Jami’us Shaghir As-Suyuthi syahadatnya memakai kata “SAYYIDINA.” Dan tidak melabelkan kata SHAHIH. Hal ini menggambarkan katawadhuan beliau akan kekurangan-dan kelemahan sebagai manusia yg tidak bisa terlepas dari kesalahan.
Bandingkan dengan Jami’us Shaghir karangan Al-Bani yang dengan bangganya melabelkan kata “SHAHIH” yang dimana secara nalar sehat menggambarkan kegeniusan dan hapalannya akan ilmu dan hadits-hadits Nabi, meskipun dia belum memiliki julukan AL-HAFIZH (banyak menghapal hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam), dan juga tidak mau menyebutkan kata “SAYYIDINA” dalam membaca syahadat Rasul.
Ikhwan wa Akhwat fillah…………..hati-hati dan waspada dengan propaganda ulama-ulama WAHABI SALAFI yg bisanya hanya menyalahkan, mendho’ifkan kitab-kitab ulama salaf dan hadits-hadits Nabi, sementara mereka tidak lain hanyalah ulama pemecahbelah umat islam, terutama NASHIRUDIN AL-ALBANI tukang servis jam beralih menservis HADITS SHAHIH menjadi HADITS DHO’IF. Wallohul musta’an wa bish-shawab.

=================================

H.  Wahabi Tahrif/Ubah  Kitab Nadhom Jurumiyah
Astagfirullah… lagi-lagi tangan jahat komplotan tanduk setan nejd gentayangan.. kenapa mereka usil suka merubah-ubah kitab karya ulama shaleh terdahulu. Sekarang giliran kitab nadzhom jurumiyah (kitab nahwu/tata bahasa arab) yang kena tahrif komplotan wahabi.  Suatu kejahatan pelanggaran Hak Cipta Kekayaan Intelektual (HAKI) dilakukan oleh komplotan yang mengaku paling murni aqidah  & paling nyunnah.
Komplotan wahabi yang mentahrif kitab ini adalah

  1. محمد رفيق الونشريسي الجزائري
  2. أحمد بن عمر الحازمي
  3. محمد بن أحمد جَدّو

Ternyata Bait ke 4 terakhir dari kitab nadzom Ajjurumiyah mereka tahrif (lihat gambar dibawah)
Mereka (komplotan WC)  mengganti kata ” بجاه ” dengan kata ” بحب  ”
Sebagi bukti Silahkan download kitabnya disini: http://www.almtoon.com/show-book.php?id=10
Inilah Bait Nadzhom dimanipulasi:

جعلها الله لكل مبتدي **** دائمة النفع بحب أحمد

”Semoga Allah Menjadikan Kitab selalu dalam kemanfaatan bagi para mubtadi (orang yang baru belajar) dengan kecintaan kepada Ahmad (Nabi Muhammad)”
Dan Inilah Bait Nadzhom Aslinya:

جعلها الله لكل مبتدي **** دائمة النفع بجاه أحمد

”Semoga Allah menjadikan selalu manfaat bagi orang yang baru belajar dengan kemuliaan (martabat) Nabi Muhammad”
——-

قال ذلك الوهابي في الشرح : ثم سأل (المؤلف) الله عز و جل أن يجعل نظمه هذا دائم النفع للمبتدئين في علم النحو و قد توسل إلى الله سبحانه و تعالى في الأصل : بجاه محمد صلى الله عليه و سلم فقــــــــــــــــــــــــال

Telah berkata Wahabi dalam Syarah Kitab Itu : Kemudian meminta (pengarang kitab) kepada Allah, supaya nadhomanya di jadikan selalu bermanfaat bagi orang2 yang baru belajar dalam ilmu nahwu, dan ia (si pengarang kitab) bertawasul (mengambil perantara) kepada Allah. Padahal dalam text aslinya adalah: Dengang Kemuliaan Nabi muhammad SAW.

ثم قال (الأستاذ الونشريسي) : و معلوم ما في هذا التوسل من مخالفة لما كان عليه سلفنا الصالح رضوان الله عليهم جميعا فحذفته و أبدلته بتوسل مشروع و هو حب النبي صلى الله عليه و سلم و راجع في ذلك كتاب العلامة المحدث الفقيه محمد ناصر الدين الألباني رحمه الله التوسل أنواعه و أحكامه ) فإنه فريد في بابه. انتهى.

Kemudian berkata Si Wahabi (الأستاذ الونشريسي) dan telah di ketahui apa yang ada dalam tawasul ini adalah dari menyalahi apa yang ada pada ulama salaf, maka Aku menghilangkanya dan menggantinya denga tawasul yang di syariatkan yaitu dg mencintai nabi Muhammad saw, dan sebagai pengembalian hukum dalam masalah itu adalah kitab karya Al-alamah Ahli hadits Ahli fiqih yaitu Muhammad nasiruddin Albani (kitab tawasul dan hukum2nya), dalam bab tersendiri.
————
Berikut hasil download di: http://www.almtoon.com/show-book.php?id=10


(Oleh: Ibnu Rasyid Rahmatulloh)

Anda mungkin juga meminati:
73 Golongan Umat Nabi SAW
Tentang Bid’ah
Nasehat Imam Syafi’i
Ulumul Hadist beserta sejarahnya

Diposkan oleh di 04:29

Salafi-Wahabi-serukan-perang

Salafi Wahabi Serukan perang terhadap Ahlussunnah wal jamaah

Salafi Wahabi Serukan Perang Terhadap Ahlus Sunnah

Selama ini mungkin ada segelintir orang yang mudah terpedaya dan terpesona dengan godaan dakwah Salafi Wahabi, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang belum mengenal Islam sebelum nya, tapi bagi pejuang Islam yang benar-benar peduli pada Islam, melihat dakwah Salafi Wahabi hanyalah fitnah terhadap agama Islam, dakwah Salafi Wahabi yang sangat minoritas tentunya sangat lembut dan bersahaja ketika berhadapan dengan orang awam yang belum tau kebusukan dan kecurangan-kecurangan agama Wahabi, tapi ketika berhadapan dengan para pejuang Islam sesungguhnya, dan para penegak Ahlus Sunnah Waljama’ah, baru nampaklah wajah asli Salafi Wahabi dengan seburuk-buruk fitnah mereka, bagi orang awam tentu merasa tidak mungkin orang berjubah itu adalah penjahat ulung, namun bagi orang yang cerdas tentu sangat tahu bahwa jubah mereka hanyalah topeng belaka, sebagai bukti mari lihat fakta ini, seorang Syaikh Salafi Wahabi yang terkenal, dengan jelas menyerukan kepada para pengikut dakwah Salafi Wahabi agar menyatakan perang dengan Ahlus Sunnah Waljama’ah, inilah seruan perang Wahabi terhadap Ahlus Sunnah sebagai berikut :

وقد انتسب إلى الأشعري أكثر العالم الإسلامي اليوم من أتباع المذاهب الأربعة، وهم يعتمدون على تأويل نصوص الصفات تأويلاً يصل أحياناً إلى التحريف، وأحياناً يكون تأويلاً بعيداً جداً، وقد أمتلأت الدنيا بكتب هذا المذهب، وادعى أصحابها أنهم أهل السنة، ونسبوا من آمن بالنصوص على ظاهرها إلى التشبيه والتجسيم. هذا ولابد لعلماء الإسلام-ورثة رسول الله صلى الله عليه وسلم – من مقاومة هذه التيارات الجارفة، على حسب ما تقتضيه الحال، من مناظرات، أو بالتأليف، وبيان الحق بالبراهين العقلية والنقلية، وقد يصل الأمر أحياناً إلى شهر السلاح.

“Dan sungguh ternisbah kebanyakan ulama Islam sekarang dari pada pengikut Madzhab empat kepada Asy’ari, dan mereka berpegang atas Ta’wil nash-nash sifat dengan Ta’wil yang kadang-kadang sampai kepada Tahrif, dan kadang-kadang dengan Ta’wil yang jauh sekali, dan sungguh telah tersebar ke seluruh dunia dengan kitab-kitab ini Madzhab, dan para pengikut nya menyatakan diri Ahlus Sunnah, dan mereka menisbahkan orang yang beriman dengan makna dhohir nash-nash kepada Tasybih dan Tajsim. Demikian dan wajib bagi ulama Islam –Pewaris Rasulullah SAW- [ulama Wahabi] untuk melakukan perlawanan terhadap ini aliran yang merajalela, menurut apa yang inginkan oleh keadaan, dari berdebat, mengarang, dan menyatakan kebenaran dengan dalil-dalil ‘Aqli (akal) dan Naqli (Al-Quran & Hadits),dan kadang sampai kepada menyatakan perang”

[Lihat Syarah Kitab at-Tauhid min Shohih al-Bukhari – Jilid 1 Halaman 85 – oleh Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Ghaniman al-Wahabi]

Inilah wajah asli dakwah Salafi Wahabi, dakwah yang tidak pernah dicontohkan oleh para Rasul dan tidak pernah dicontohkan oleh para Ulama Islam baik Salaf maupun Khalaf, pantaskah seruan perang terhadap mayoritas ummat Islam di anggap sebagai dakwah Sunnah ? sesungguhnya mereka hanya menunggu waktu nya saja, sampai saat nya tiba, maka perang segera di mulai, selama mereka masih minoritas, tentu menyatakan perang adalah konyol, maka belum saat nya mereka berperang dengan mayoritas kaum muslimin, mereka masih takut menampakkan wajah asli mereka yang masih tersembunyi di balik topeng Arab, dan di balik topeng Sunnah, maka siap-siaplah menunggu sampai saat nya tiba, maka tumpah darah ini tidak akan terelakkan.

Na’uzubillah min fitnatihim

‘Utsaimin – Haul

Wahabi melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sendiri melakukan pengkultusan terhadap diri Syekh al-Utsaimin. Mereka membid’ahkan peringatan haul seorang ulama atau wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat semacam haul untuk Syekh al-Utsaimin dengan nama ‘Haflah Takrim.” Betapa ganjilnya sikap kelompok Wahabi ini.

‘Haul’ al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 lalu di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Syekh al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh Utsaimin,” ujarnya.

Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi. Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini sampai-sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:
وَاللهِ لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ # مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَحَقَّهُ

“Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Syeikh Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau.”

Syair itu menunjukkan pengkultusan orang-orang Wahabi terhadap Syekh Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.)

Sungguh benar Baginda Nabi SAW. yang dalam salah satu hadits beliau mengisyaratkan bahwa akan ada fitnah (Wahabi) yang bakal muncul dari Najed. Isyarat itu menjadi nyata semenjak munculnya Muhammad bin Abdul Wahab dari Najed yang dengan bantuan kolonial Inggris mencabik-cabik syariat Islam.

Syekh Utsaimin adalah salah satu penerus Muhammad bin Abdul Wahab. Ia juga gencar menyebarkan fitnah lewat tulisan-tulisannya. Salah satu fitnah itu seperti tertera di dalam karyanya, al-Manahi al-Lafdziyyah hal 161. Di situ ia menulis:
وَلاَ أَعْلَمُ إِلىَ سَاعَتيِ هَذِهِ اَنَّهُ جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَفْضَلُ اْلخَلْقِ مُطْلَقاً فيِ كُلِّ شَئٍْ

“Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhammad adalah makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara mutlak.” Agaknya kalimat inilah yang membuat penganut Wahabi lebih mengagungkan Utsaimin dari pada Baginda Rasulullah SAW….!

2 komentar:

  1. Renggap says:

    ada sumbernya pak?

 

Poskan Komentar

 

Wahaby dengan Khawarij-

Tidak semua kelompok Wahaby (Salafy gadungan) rela jika disebut Wahaby, walaupun mereka semua sepakat untuk menjadikan Muhammad bin Abdul Wahab sebagai tempat rujukan dan pemimpin. Hanya beberapa gelintir orang Wahaby saja yang rela jika dirinya disebut sebagai Wahaby. Selain sebutan Wahaby memiliki konotasi negatif berupa panggilan celaan, mereka juga bersikeras untuk disebut sebagai kelompok Salafy –sebagai pengganti sebutan Wahaby- agar terhindar dari sebutan negative tadi dan supaya mendapat tempat di sisi golongan Ahlusunah wal Jamaah. Padahal jika kita teliti lebih dalam lagi niscaya akan kita dapati bahwa ajaran dan prilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan ajaran dan keyakinan para Salaf Saleh sebagai pendiri Ahlusunah. Akan tetapi ajaran dan prilaku kaum Wahaby lebih cocok jika disandingkan dan disejajarkan dengan kaum Khawarij yang telah dikutuk dalam lembaran sejarah kaum muslimin. Hal itu dikarenakan Rasul sendiri pun telah mencela mereka. Dan pada kenyataannya, terbukti sebagian orang telah menyamakan kaum Wahabi (Salafi) dengan kelompok Khawarij dengan melihat beberapa kesamaan yang ada.

Melihat dari sejarah yang pernah ada, kelompok Khawarij adalah kelompok yang sangat mirip sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi sekarang ini. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan dan kelanjutan dari kelompok Khawarij di masa sekarang ini. Secara global dapat disebutkan beberapa sisi-sisi kesamaan antara kelompok sesat Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela oleh Rasulullah saw.

Rasul pernah memberi julukan golongan sesat (Khawarij) tersebut dengan sebutan “Mariqiin”, yang berarti “lepas” dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.[Lihat: Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid :2 halaman:118] Sedikitnya terdapat enam sisi-sisi kesamaan antara dua golongan ini yang tentu meniscayakan vonis hukuman dan konsekuensi yang sama pula. Adapun enam sisi kesamaan tadi mencakup:

Pertama: Sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran (Takfir), walaupun dalam beberapa hal sebutan-sebutan itu memiliki kesamaan dengan kekafiran itu sendiri jika dilihat dari konsekwensi hukumnya. Oleh karena itu, kaum Wahaby juga layak dijuluki dengan sebutan Jama’ah Takfiriyah (kelompok pengkafiran), suka dan hoby menyasatkan dan mengkafirkan kelompok muslim lain selain kelompoknya. Mereka (Wahaby dan Khawarij) sama-sama merasa hanya ajarannya saja yang benar-benar murni dan betul. Abdullah bin Umar dalam mensifati kelompok Khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sohih Bukhari jilid:4 halaman:197] Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi palsu (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (Muthowi’) menuduh para jamaah haji -tamu-tamu Allah (Dhuyuf ar-Rahman)- sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah dan keyakinan mereka. Padahal semua orang muslim datang menuju Baitullah Ka’bah dengan tetap meyakini bahwa “tiada tuhan melainkan Allah swt dan Muhammad saw adalah utusan Allah swt”.

Kedua: Sebagaimana kelompok Khawarij telah disifati dengan “Pembantai kaum muslim dan perahmat bagi kaum kafir (non-muslim)”, hal itu sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan”,[Lihat: kitab Majmu’ah al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah Jilid: 13 halaman: 32] maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji tersebut, terkhusus di awal-awal penyebarannya. Sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah berupa pembantaian beberapa kabilah Arab muslim yang menolak ajaran sesat Wahabisme. Hal itu pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi. Ia dengan dukungan Muhammad bin Saud -amir wilayah Uyainah- yang mendapat bantuan penuh pasukan kolonialis Inggris yang kafir sehingga akhirnya dapat menaklukkan berbagai wilayah di dataran Arabia. Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan di beberapa tempat, terkhusus di wilayah Hijaz (sekarang Arab Saudi) dan Irak kala itu, dikarenakan penolakan mereka atas ajaran sesat Muhammad bin Abdul Wahab.

Ketiga: Sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir yang darahnya halal, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama. Mereka menuduh kaum muslim yang berziarah kubur Rasulullah dengan sebutan syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang semua itu sama dengan pengkafiran terhadap kelompok-kelompok tadi.

Keempat: Sebagaimana kelompok Khawarij memiliki jiwa Jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama. Banyak hal mereka anggap bid’ah dan syirik namun dalam penentuannya mereka tidak memiliki tolok ukur yang jelas dan kuat, bahkan mereka tidak berani untuk mempertanggungjawabkan tuduhannya tersebut dengan berdiskusi terbuka dengan kelompok-kelompok yang dianggapnya sesat. Kita dapat lihat, blog-blog dan situs-situs kelompok Wahaby tidak pernah ada forum diskusi terbuka. Sewaktu jamaah haji pergi ke tanah suci tidak diperkenankan membawa buku-buku agama dan atau buku tuntunan haji melainkan yang sesuai dengan ajaran mereka. sementara di sisi lain, mereka menggalakkan dakwah dan penyebaran akidahnya melalui berbagai sarana yang ada –seperti penyebaran buku, brosur, kaset dan sebagainya- kepada para jamaah haji yang Ahlusunah. Ini merupakan bentuk dari pemerkosaan akidah Wahaby dan perampokan keyakinan Ahlusunah wal Jamaah.

Kelima: Sebagaimana kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajarannya yang telah menyimpang dari agama Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saw, Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama sehingga keislaman mereka pun layak untuk diragukan. Pengkafiran kelompok lain yang selama ini dilakukan oleh kaum Wahaby cukup menjadi bukti konkrit untuk meragukan keislaman mereka. karena dalam banyak riwayat disebutkan bahwa barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim maka ia sendiri yang terkena pengkafiran tersebut. Dalam sebuah hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi dimana Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan Bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama (Islam) sebagaimana terkeluarnya (lepas) anak panah dari busurnya. Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala”.[Lihat: kitab Shahih Bukhari, kitab at-Tauhid Bab:57 Hadis ke-7123] Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd. [Lihat: kitab Irsyad as-Saari Jil:15 Hal:626] Sedang dalam satu hadis lain disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai goncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah”. [Lihat: kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid: 2 halaman:81 atau jilid: 4 halaman: 5] Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Disana akan muncul qorn setan”. Dalam kamus bahasa Arab, kata “qorn” berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan. [ Lihat: kitab Al-Qomuus jilid:3 halaman:382, asal kata: qo-ro-na] Sedang kita tahu bahwa kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabisme. Selain kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme dan dari situ pulalah pemikiran Wahabisme disebarluaskan dan diekspor ke segala penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dari semua hadis tadi dapat diambil benang merah bahwa di kota Najd-lah tempat munculnya pengikut ajaran Setan –dimana setan ini terkadang dari golongan jin ataupun dari golongan manusia, sedang yang dimaksud di sini adalah as-Syaithonul-Ins atau setan dari golongan manusia- yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab dimana kelompok tersebut kemudian lebih dikenal dengan sebutan Wahaby atay Salafy sebagai klaim kosongnya (Salafy palsu). Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana, gamis atau sarung hingga betis, suka mencukur pendek rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan tidak karuan adalah salah satu ciri-ciri zahir pengikut kelompok ini. Tanda-tanda yang lebih nampak lagi ialah, mereka sangat lancar dan fasih sewaktu menuduh kelompok selainnya dengan sebutan pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul.

Keenam: Sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan maksiat dan dosa besar maka mereka kategorikan sebagai “negara zona perang” (Daar al-Harb). Karena menurut mereka dengan banyaknya perbuatan maksiat tadi maka berarti penduduk muslim tadi telah keluar dari agama Islam (kafir). Kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal yang sama. Akhir-akhir ini dapat dilihat secara faktual, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi –seperti jaringan al-Qaedah- melakukan aksi teror diberbagai tempat yang tidak jarang kaum muslimin juga –dengan berbagai usia dan gender- sebagai korbannya.

Tujuan diluncurkannya blog ini adalah agar kaum muslimin mengenal dan akan menjadi jelas apa dan siapa kelompok yang mengaku-ngaku sebagai Salafi selama ini, yang mengaku-ngaku sebagai penghidup kembali ajaran Salaf Saleh. Sehingga kita semua bisa lebih waspada dan mawas diri terhadap aliran sesat dan menyesatkan yang telah menyimpang dari ajaran Islam Muhammad Rasulullah tersebut. Alasan kewaspadaan kita juga dikarenakan kaum Wahaby (Salafy palsu) itu selalu menganggap mazhabnya adalah mazhab yang paling benar, dirinya sebagai orang yang paling bertauhid dan ajarannya adalah ajaran yang paling bersih dari syirik, bid’ah, takhayul dan khurafat. Sehingga dari situlah akhirnya mereka mudah menuding golongan lain –selain golongannya- dengan sebutan ahli bid’ah, penganut syirik, berkeyakinan khurafat dan takhayul. [Lihat: kitab Ar-Rasail al-Ilmiyah karya Muhammad bin Abdul Wahab Hal: 79] Padahal jika kita lihat, dalam ajaran Islam dan prilaku Salaf Saleh membuktikan bahwa menuduh seseorang dengan julukan-julukan tadi bukanlah perbuatan mudah, perlu ada dasar yang kuat dan bukti yang konkrit dari al-Quran dan as-Sunah yang sahih. Dan terbukti Rasulullah dan para Salaf Saleh tidak pernah melakukan pengkafiran semacam itu kecuali terhadap orang-orang yang terlibat dalam gerakan Khawarij. Blog ini juga dalam rangka akan membuktikan bahwa apa yang mereka ajarkan adalah pemahaman salah dan penerapan kosong dari al-Quran, as-Sunah as-Shahihah dan ajaran Salaf Saleh. Mereka ternyata hanya menyandarkan pendapatnya pada fatwa-fatwa para ulama Wahaby yang mayoritas berasal dari Saudi Arabia (seperti para anggota Lajnatul Ifta’), negara muslim kaya minyak yang sangat royal dan loyal terhadap semua kepentingan USA, namun kikir terhadap kepentingan sesama muslim. Bahkan beberapa tahun yang lalu Arab Saudi -yang konon- bertujuan untuk melindungi al-Haramain as-Syarifain (Makkah dan Madinah) pun harus mendatangkan bala tentara yang jelas-jelas kafir (tentara USA) ke tanah suci umat Islam sehingga beberapa kasus pelecehan pun terjadi di sana-sini. Apakah semua ini adalah hakekat pemraktekkan ajaran Salaf Saleh yang mereka dengung-dengungkan selama ini? Jika mereka benar akan menegakkan ajaran Salaf Saleh niscaya mereka tidak akan merendah dan menghamba terhadap USA yang kafir. Mana akidah tauhid murni yang konon mereka dapati dari al-Quran, as-Sunnah dan prilaku Salaf Saleh yang hendak mereka tebarkan, namun pada kenyataannya ternyata mereka tidak konsekuen karena terbukti mereka masih berlindung di bawah ketiak manusia-manusia kafir tentara USA, padahal penjagaan Masjidil Haram telah dijamin sebagaimana yang disinyalir dalam al-Quran surat al-Fiil (kisah Abrahah)? Apakah mereka sudah tidak mengimani lagi al-Quran sehingga harus mengundang tentara Kafir ke tanah suci, ataukah ada maksud lain? Atau kenapa mereka harus menggunakan metode “pengkafiran” kelompok lain yang tidak sepaham dengannya, apakah hal itu yang diajarkan oleh para Salaf Saleh? Bukankah para Salaf Saleh –Nabi, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in- adalah orang-orang mulia yang tidak mudah menuduh orang lain yang tidak sependapat dengan mereka dengan tuduhan-tuduhan busuk semacam itu? Pendustaan atas nama Salaf Saleh model apakah ini? Masih layakkah mereka mengaku-ngaku sebagai penghidup ajaran Salaf Saleh yang berdasar al-Quran dan as-Sunnah as-Shahihah sedang mereka masih terus melakukan pengkafiran kelompok muslim lain dan masih terus bermesraan dengan golongan kafir seperti USA beserta sekutunya?

Dibalik Pemujaan Salafi Wahabi

 

Islam sama sekali tak bisa dilepaskan dari sosok Baginda Nabi SAW. Beliau adalah insan yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia dengan agama yang sempurna ini. Tiada sosok yang patut diagungkan di muka bumi melebihi Baginda Nabi SAW. Segenap keindahan fisik dan budi pekerti terdapat dalam figur Baginda Rasulullah SAW. Mencintai Baginda Nabi SAW adalah bagian dari mencintai Allah SWT. Beliau bersaba:

مَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ وَمَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطاَعَ اللهَ

“Barangsiapa mencintaiku, maka ia benar-benar telah mencintai Allah SWT. Barangsiapa menaatiku, maka ia benar-benar telah taat kepada Allah SWT.”

Cinta haruslah disertai dengan penghormatan dan pengagungan. Oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan manusia agar mengagungkan sosok Baginda Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

“Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya dan mengagungkan Rasul-Nya.”

Cinta para sahabat kepada Baginda Rasul SAW adalah cinta yang patut diteladani. Dalam hadits-hadits disebutkan bagaimana para sahabat saling berebut bekas air wudhu Baginda Nabi SAW. Meski hanya tetesan air, namun air itu telah menyentuh jasad makhluk yang paling dekat dengan Sang Pencipta. Karena itulah mereka begitu memuliakannya dan mengharap berkah yang terpendam di dalamnya. Ketika Baginda Nabi SAW mencukur rambut, para sahabat senantiasa mengerumuni beliau. Mereka ingin mendapatkan potongan rambut beliau meski sehelai. Dengan rambut itu mereka hendak mengenang dan mengharap berkah Nabi SAW. Demikianlah rasa cinta para sahabat kepada Baginda Nabi SAW.

Primitif

Apa yang berlaku saat ini di Bumi Haramain adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan kaidah cinta. Di sana orang-orang Wahabi mengaku mencintai Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sama sekali tidak menghormati beliau SAW. Mereka bahkan melecehkan beliau dan melakukan perbuatan yang teramat tidak pantas kepada sosok sebesar beliau. Bayangkan saja, rumah yang ditempati beliau selama 28 tahun, yang semestinya dimuliakan, mereka ratakan dengan tanah kemudian mereka bangun di atasnya toilet umum. Sungguh keterlaluan!

Fakta ini belakangan terkuak lewat video wawancara yang tersebar di Youtube. Adalah Dr. Sami bin Muhsin Angawi, seorang ahli purbakala, yang mengungkapkan fakta itu. Dalam video berdurasi 8:23 menit itu, ia mengungkapkan bahwa ia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk mencari situs rumah Baginda Nabi SAW. Setelah berhasil, ia menyerahkan hasil penelitiannya kepada pihak yang berwenang.

Respon pihak berwenang Arab Saudi ternyata jauh dari perkiraan pakar yang mengantongi gelar Doktor arsitektur di London itu. Bukannya dijaga untuk dijadikan aset purbakala, situs temuannya malah mereka hancurkan. Ketika ditanya oleh pewawancara mengenai bangunan apa yang didirikan di atas lahan bersejarah itu, Sami Angawi terdiam dan tak mampu berkata-kata. Si pewawancara terus mendesaknya hingga akhirnya ia mengakui bahwa bangunan yang didirikan kelompok Wahabi di atas bekas rumah Baginda Nabi SAW adalah WC umum. Sami Angawi merasakan penyesalan yang sangat mendalam lantaran penelitiannya selama bertahun-tahun berakhir sia-sia. Ia kemudian mengungkapkan harapannya, “Kita berharap toilet itu segera dirobohkan dan dibangun kembali gedung yang layak. Seandainya ada tempat yang lebih utama berkahnya, tentu Allah SWT takkan menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggal Rasul SAW dan tempat turunnya wahyu selama 13 tahun.”

Ulah jahil Wahabi itu tentu saja mengusik perasaan seluruh kaum muslimin. Situs rumah Baginda Nabi SAW adalah cagar budaya milik umat Islam di seluruh penjuru dunia. Mereka sama sekali tidak berhak untuk mengusik tempat terhormat itu. Ulah mereka ini kian mengukuhkan diri mereka sebagai kelompok primitif yang tak pandai menghargai nilai-nilai kebudayaan. Sebelum itu mereka telah merobohkan masjid-masjid bersejarah, di antaranya Masjid Hudaybiyah, tempat Syajarah ar-Ridhwan, Masjid Salman Alfarisi dan masjid di samping makam pamanda Nabi, Hamzah bin Abdal Muttalib. Pada tanggal 13 Agustus 2002 lalu, mereka meluluhkan masjid cucu Nabi, Imam Ali Uraidhi menggunakan dinamit dan membongkar makam beliau, dan Tahun 2010 wahabi menghancurkan Masjid Kucing digunakan sebagai jalan raya.

Selama ini kelompok Wahabi berdalih bahwa penghancuran tempat-tempat bersejarah itu ditempuh demi menjaga kemurnian Islam. Mereka sekadar mengantisipasi agar tempat-tempat itu tidak dijadikan sebagai ajang pengkultusan dan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kemusyrikan. Akan tetapi dalih mereka agaknya kurang masuk akal, sebab nyatanya mereka berupaya mengabadikan sosok Syekh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, salah seorang tokoh pentolan mereka. Mereka mendirikan sebuah bangunan yang besar dan mentereng untuk menyimpan peninggalan-peninggalan Syekh al-Utsaimin. Bandingkan perlakuan ini dengan perlakuan mereka kepada Baginda Nabi SAW. Mereka merobohkan rumah Baginda Nabi SAW dan menjadikan tempat yang berkah itu sebagai WC umum, kemudian membangun gedung megah untuk Al-Utsaimin. Siapakah sebetulnya yang lebih mulia bagi mereka? Baginda Rasulullah SAW ataukah Syekh al-Utsaimin?

Bangunan berdesain mirip buku itu dibubuhi tulisan “Yayasan Syeikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.” Di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan Syekh al-Utsaimin, seperti kaca mata, arloji dan pena. Benda-benda itu diletakkan pada etalase kaca dan masing-masing diberi keterangan semisal, “Pena terakhir yang dipakai Syekh al-Utsaimin.” Sungguh ironis, mengingat mereka begitu getol memberangus semua peninggalan Baginda Nabi SAW. Ulama mereka bahkan mengharamkan pelestarian segala bentuk peninggalan Baginda Nabi SAW. Beruntung, sebagian benda peninggalan beliau telah dipindahkan ke Turki.

Haul Wahabi

Wahabi melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sendiri melakukan pengkultusan terhadap diri Syekh al-Utsaimin. Mereka membid’ahkan peringatan haul seorang ulama atau wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat semacam haul untuk Syekh al-Utsaimin dengan nama ‘Haflah Takrim.” Betapa ganjilnya sikap kelompok Wahabi ini.

‘Haul’ al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 lalu di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Syekh al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh Utsaimin,” ujarnya.

Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi. Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini sampai-sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:

وَاللهِ لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ # مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَحَقَّهُ

“Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Syeikh Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau.”

Syair itu menunjukkan pengkultusan orang-orang Wahabi terhadap Syekh Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.)

Sungguh benar Baginda Nabi SAW. yang dalam salah satu hadits beliau mengisyaratkan bahwa akan ada fitnah (Wahabi) yang bakal muncul dari Najed. Isyarat itu menjadi nyata semenjak munculnya Muhammad bin Abdul Wahab dari Najed yang dengan bantuan kolonial Inggris mencabik-cabik syariat Islam.

Syekh Utsaimin adalah salah satu penerus Muhammad bin Abdul Wahab. Ia juga gencar menyebarkan fitnah lewat tulisan-tulisannya. Salah satu fitnah itu seperti tertera di dalam karyanya, al-Manahi al-Lafdziyyah hal 161. Di situ ia menulis:

وَلاَ أَعْلَمُ إِلىَ سَاعَتيِ هَذِهِ اَنَّهُ جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَفْضَلُ اْلخَلْقِ مُطْلَقاً فيِ كُلِّ شَئٍْ

“Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhammad adalah makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara mutlak.” Agaknya kalimat inilah yang membuat penganut Wahabi lebih mengagungkan Utsaimin dari pada Baginda Rasulullah SAW….!

Setelah membaca tulisan ini, anda bisa membuat kesimpulan sendiri, siapakah yang bathil dalam beraqidah sebenarnya?????

Bin Baz dan Bayangan Tuhan.

Dalam Web resminya, Ibnu Bas al Wahhabi mengatakan bahwa Allah memiliki bayangan. Na’uzdu Billah. Berikut ini adalah terjemah dari web-nya itu, (berkata):

Masalah: Tentang Sifat-sifat Allah

Dalam hadits yang mengatakan:

سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله

Apakah dengan dasar hadits ini Allah disifati bahwa Dia memiliki bayangan?

Jawab (Ibnu Bas):

Benar (Allah punya bayangan), sebagaimana itu disebutkan dalam hadits. Dalam sebagian riwayat dengan redaksi “Fi Zhilli ‘Arsyihi”, tetapi yang dalam dua kitab Shahih (Shahih Bukhari dan Muslim) dengan redaksi “Fi Zhillihi”, karena itu maka Allah memiliki BAYANGAN yang sesuai bagi-Nya; kita tidak tahu tata-caranya, sebagaimana kita tidak tahu tata cara dari seluruh sifat-sifat Allah lainnya, pintunya jelas satu bagi Ahlussunnah Wal Jama’ah (yaitu itsbat/menetapkan saja)”.

Lalu, (Lihat dan perhatikan…!!! Terutama untuk orang2 Wahabi; Silahkan PELOTOTIN…!!!)

berikut ini adalah tulisan Ibnu Utsaimin membantah Ibnu Bas; dalam  “Syarh al Aqidah al Wasithiyyah”, j. 2, h. 136, dengan redaksi berikut ini:

وقوله: “لا ظل إلا ظله”؛ يعني: إلا الظل الذي يخلقه، وليس كما توهم بعض الناس أنه ظل ذات الرب عز وجل؛ فإن هذا باطل؛ لأنه يستلزم أن تكون الشمس حينئذ فوق الله عز وجل. ففي الدنيا؛ نحن نبني الظل لنا، لكن يوم القيامة؛ لا ظل إلا الظل الذي يخلقه سبحانه وتعالى ليستظل به من شاء من عباده. أ.ه

Terjemah:

Sabda Rasulullah “La Zhilla Illa Zhilluh” artinya “Tidak ada bayangan kecuali bayangan yang diciptakan oleh Allah”. Makna hadits ini bukan seperti yang disangka oleh sebagian orang (Ibnu Bas) bahwa bayangan tersebut adalah bayangan Dzat Allah, ini adalah pendapat batil (SESAT), karena dengan begitu maka berarti matahari berada di atas Allah. Di dunia ini kita membuat bayangan bagi diri kita, tetapi di hari kiamat tidak akan ada bayangan kecuali bayangan yang diciptakan oleh Allah supaya berteduh di bawahnya orang-orang yang dijehendaki oleh-Nya dari para hamba-Nya”.

AlBani , AlBanna

dikutip dari email ade hernowobroto

Bagi kaum Salafi & Wahabi, Syaikh Nashiruddin al-Albani adalah ulama besar dan ahli hadis yang utama. Karya-karyanya dalam bidang hadis sangat banyak dan sering dijadikan rujukan utama oleh kaum Salafi & Wahabi dalam menghukumi riwayat hadis. Yang sedemikian karena al-Albani sangat gemar meneliti dan mengomentari hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab-kitab para ulama. Pada puncaknya, al-Albani menyusun kitab-kitab khusus mengenai hadis-hadis shahih, dha’if (lemah), dan maudhu’ (palsu), baik yang berkenaan dengan hadis-hadis yang ada di dalam kitab-kitab para ulama, maupun yang ia susun sendiri dengan tajuk silsilah.

Kaum Salafi & Wahabi menganggap sepertinya al-Albani adalah ahli hadis yang sangat menguasai bidangnya, sehingga bagi sebagian mereka seperti ada kepuasan hati ketika sudah mengetahui pendapat al-Albani tentang hadis yang mereka bahas, dan seolah mereka sudah mencapai hasil penilaian final saat menyebutkan “hadis ini dishahihkan al-Albani” atau “al-Albani mendha’ifkan hadis ini”.

Ada dua hal yang penting dalam pembahasan poin ini yang penulis anggap perlu diketahui oleh para pembaca, yaitu: 1. Status hadis dha’if. 2. Kedudukan Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam menilai hadis.

1. Status Hadis Dha’if (Lemah)

Di kalangan masyarakat awam, penulis melihat adanya kecenderungan menganggap bahwa hadis dha’if (lemah) sebagai hadis yang tidak dapat dijadikan hujjah atau dalil dalam melakukan suatu amalan. Hal ini diakibatkan oleh penyebutannya yang seringkali terkesan negatif dan terpisah-pisah (yaitu hanya menyebut kelemahan suatu riwayat hadis tanpa mengkonfirmasikannya dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, yang mungkin dapat mengangkat statusnya dari kelemahan). Padahal, kelemahan suatu riwayat bisa sangat relatif sifatnya, bisa sedikit dan bisa juga banyak. Dan apa yang mungkin tidak diketahui oleh seorang periwayat hadis secara pasti, sangat mungkin diketahui oleh periwayat yang lain, sebagaimana sisi kekuatan suatu riwayat hadis yang diketahui oleh seorang ahli hadis, sangat mungkin tidak diketahui oleh ahli hadis yang lain. Imam Ibnu Katsir menyebutkan:

وقد نبه الشيخ أبو عمرو ههنا على أنه لا يلزم من الحكم بضعف سند الحديث المعير الحكم بضعفه في نفسه، إذ قد يكون له إسناد آخر، إلا أن ينص إمام على أنه لا يروى إلا من هذا الوجه . (الباعث الحثيث شرح اختصار علوم الحديث للحافظ ابن كثير، أحمد مجمد شاكر، دار الكتب العلمية، بيروت، ص. 85)

“Dan Syaikh Abu ‘Amr telah memperingati di sini bahwasanya tidak lazim menghukumi kedha’ifan sanad (jalur riyawat) suatu hadis yang dianggap cacat semata-mata dari hukum dha’ifnya sanad hadis tersebut, dikarenakan ter kadang hadis itu memiliki pensanadan (jalur periwayatan) lain, kecuali bila ada seorang Imam hadis yang menyatakan bahwa hadis tersebut tidak diriwayatkan kecuali hanya melalui jalur ini. ” (Lihat al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, hal. 85).

Pada kitab dan halaman yang sama, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menerangkan ungkapan itu dengan penjelasan berikut:

من وجد حديثا بإسناد ضعيف، فلأحوط أن يقول: “إنه ضعيف بهذا الإسناد”، ولا يحكم بضعف المتن –مطلقا من غير تقييد- بمجرد ضعف ذلك الإسناد، فقد يكون الحديث واردا بإسناد آخر صحيح، إلا أن يجد الحكم بضعف المتن منقولا عن إمام من الحفاظ والمطلعين على الطرق.

“Siapa yang mendapati sebuah hadis dengan pensanadan (jalur periwayatan) yang dha’if, maka yang lebih aman hendaknya ia berkata, ‘sesungguhnya hadis ini dha’if dengan jalur periwayatan ini’, dan matan (redaksi/lafaz) hadis tersebut tidak dihukumi dha’if –secara umum tanpa ikatan— semata-mata karena lemahnya jalur periwayatan tersebut, maka terkadang hadis tersebut datang (diriwayatkan) dengan jalur periwayatan lain yang shahih, kecuali bila ditemukan hukum kedha’ifan matan (redaksi/lafaz)nya yang dinukil dari seorang Imam dari kalangan Huffazh (penghafal hadis) yang meneliti jalan-jalannya (jalur-jalur periwayatan hadis).

Penjelasan di atas adalah kelaziman yang harus dilakukan seorang penerima hadis pada saat ia mendapatkan informasi bahwa suatu hadis itu dha’if (lemah), di mana ia tidak serta merta langsung menyatakan hukum dha’if secara mutlak, apalagi menyatakan bahwa hadis dha’if tersebut tidak boleh diamalkan atau dijadikan hujjah atau dalil.

Hadis dha’if berbeda dari hadis maudhu’ (palsu). Hadis dha’if tetap harus diakui sebagai hadis, dan menjadikannya sebagai dalil atau dasar untuk melakukan suatu amalan kebaikan yang berkaitan dengan fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan) adalah sah menurut kesepakan para ulama hadis. Perhatikan isyarat-isyarat para ulama berikut ini:

مع أنهم أجمعوا على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال (شرح سنن ابن ماجه ج: 1 ص: 98)

“… sementara mereka (para ahli hadis) telah berijma’ (bersepakat) atas bolehnya mengamalkan hadis dha’if (lemah) di dalam fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan) ” (lihat Syarh Sunan Ibnu Majah, juz 1, hal. 98).

باب التشدد في أحاديث الأحكام والتجوز في فضائل الأعمال. قد ورد واحد من السلف انه لا يجوز حمل الأحاديث المتعلقة بالتحليل والتحريم الا عمن كان بريئا من التهمة بعيدا من الظنة واما أحاديث الترغيب والمواعظ ونحو ذلك فإنه يجوز كتبها عن سائر المشايخ (الكفاية في علم الرواية، الخطيب البغدادي، ج. 1، ص. 133)

“Bab bersikap ketat pada hadis-hadis hukum, dan bersikap longgar pada fadha’il al-a’mal. Telah datang satu pendapat dari seorang ulama salaf bahwasanya tidak boleh membawa hadis-hadis yang berkaitan dengan penghalalan dan pengharaman kecuali dari orang (periwayat) yang terbebas dari tuduhan, jauh dari dugaan. Adapun hadis-hadis targhib (stimulus/anjuran) dan mawa’izh (nasehat) dan yang sepertinya, maka boleh menulisnya (meriwayatkannya) dari seluruh masyayikh (para periwayat hadis)” (lihat al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, hal. 85).

قال: ويجوز رواية ما عدا الموضوع في باب الترغيب والترهيب، والقصص والمواعظ، ونحو ذلك، إلا في صفات الله عز وجل، وفي باب الحلال والحرام. (الباعث الحثيث شرح اختصار علوم الحديث للحافظ ابن كثير، أحمد مجمد شاكر، دار الكتب العلمية، ص. 85)

“(Ibnu Katsir) berkata: ‘Dan boleh meriwayatkan selain hadis maudhu’ (palsu) pada bab targhib (stimulus/anjuran) dan tarhib (ancaman), kisah-kisah dan nasehat, dan yang seperti itu, kecuali pada sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla dan pada bab halal & haram” (lihat al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, hal. 85).

Dan banyak lagi pernyataan-pernyataan ulama hadis tentang hal tersebut yang tidak mungkin disebutkan keseluruhannya di sini.

Kaitannya dengan pembahasan bid’ah adalah bahwa kaum Salafi & Wahabi terkesan mudah mengkategorikan suatu amalan sebagai bid’ah, atau minimal sebagai amalan yang harus dihindari hanya karena hadis yang dijadikan dalil untuk itu mereka anggap dha’if. Padahal, amalan-amalan yang didasari oleh hadis-hadis dha’if tersebut tergolong fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan) atau furu’ (perkara cabang) yang bukan pokok di dalam penentuan hukum agama. Contohnya, hadis-hadis yang dijadikan dalil untuk menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an kepada mayit. Al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi menyatakan:

واستدلوا على الوصول، وبالقياس على ما تقدم من الدعاء والصدقة والصوم والحج والعتق، فإنه لا فرق في نقل الثواب بين أن يكون عن حج أو صدقة أو وقف أو دعاء أو قراءة، وبالأحاديث الآتي ذكرها، وهي وإن كانت ضعيفة، فمجموعها يدل على أن لذلك أصلا، وبأن المسلمين ما زالوا في كل عصر، يجتمعون ويقرؤون لموتاهم من غير نكير، فكان ذلك إجماعا. ذكر ذلك كله الحافظ شمس الدين بن عبد الواحد المقدسي الحنبلي في جزء ألفه في المسألة. (شرح الصدور بشرح حال الموتى والقبور، الحافظ جلال الدين السيوطي، دار الفكر، بيروت، ص. 269)

“Dan mereka (jumhur ulama) mengambil dalil atas sampainya (hadiah pahala kepada mayit), dan dengan qiyas kepada apa yang telah disebutkan daripada do’a, sedekah, puasa, haji, dan memerdekakan budak, maka sesungguhnya tidak ada beda dalam hal memindahkan pahala antara entahkah amalan itu haji, sedekah, wakaf, do’a, atau bacaan al-Qur’an. Dan dengan hadis-hadis yang akan disebutkan, meskipun dha’if, maka semuanya menunjukkan bahwa hal tersebut (menghadiahkan pahala kepada mayit) memiliki asal (landasan di dalam agama), dan bahwa kaum muslimin di setiap masa masih terus berkumpul dan membacakan al-Qur’an untuk mayit-mayit mereka tanpa ada yang mengingkarinya, maka menjadilah hal itu sebagai ijma’. Semua itu telah disebutkan oleh al-Hafizh Syamsuddin bin Abdul Wahid al-Maqdisi al-Hanbali di dalam sebuah juz yang ia tulis tentang masalah tersebut.” (Lihat Syarh al-Shudur bi Syarh Hal al-Mauta wa al-Qubur, al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi, Dar el-Fikr, Beirut, hal. 269).

Demikianlah contoh kearifan para ulama hadis dalam menilai dan menyikapi dalil-dalil yang secara zhahir dianggap dha’if. Sayangnya sikap seperti ini tidak ditiru oleh orang-orang yang gemar sekali menuduh bid’ah setiap perkara baru berbau agama. Terkadang bermodalkan sedikit pengetahuan tentang tahqiq al-hadits (penelitian hadis) mereka dengan mudahnya mencampakkan suatu amalan ke dalam keranjang bid’ah sesat hanya karena mereka nilai dalilnya dha’if (lemah).

Ini adalah sebuah masalah yang kerapkali muncul di kalangan para pelajar ilmu hadis, terutama bagi mereka yang baru merasa bisa meneliti hadis sendiri. Yang kemudian menambah masalah tersebut semakin tidak karuan adalah ketika dalam menyebutkan kedha’ifan hadis tersebut, orang-orang tersebut sering mendasarinya dengan penilaian hadis menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani yang kredibilitasnya tidak diakui oleh para ulama hadis, sebagaimana akan dibahas setelah ini.

2. Kedudukan Syaikh Nashiruddin al-Albani Dalam Menilai Hadis

Syaikh Nashiruddin al-AlBani adalah nama yang tidak asing di kalangan para pelajar ilmu hadis belakangan ini. Namanya banyak dicantumkan oleh para penulis buku-buku Islam (terutama yang berpaham Salafi & Wahabi) saat mengomentari suatu hadis. Karya-karyanya juga sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh para pengagumnya, sehingga namanya kini juga banyak didapati di toko-toko buku dan stan-stan pameran buku, berhubung penerbit-penerbit buku atau majalah berhaluan Salafi & Wahabi belakangan sudah semakin menjamur.

Akan tetapi, tahukah anda, bahwa sesungguhnya kepiawaian Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam menilai hadis diragukan oleh para ulama hadis, bahkan cenderung tidak diakui, menimbang bahwa beliau tidak memiliki jalur keilmuan yang jelas dalam bidang tersebut. Lebih jelasnya, penulis akan menyebutkan sekelumit gambaran tentang pribadi Syaikh al-Albani ini sebagaimana ditulis oleh Tim Bahtsul Masa’il PCNU Jember di dalam buku Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik” (H. Mahrus Ali), halaman 245-247 sebagai berikut:

Dewasa ini tidak sedikit di antara pelajar Ahlussunnah Waljama’ah yang tertipu dengan karya-karya al-Albani dalam bidang ilmu hadits, karena belum mengetahui siapa sebenarnya al-Albani itu. Pada mulanya, al-Albani adalah seorang tukang jam. Ia memiliki kegemaran membaca buku. Dari kegemarannya ini, ia curahkan untuk mendalami ilmu hadits secara otodidak, tanpa mempelajari hadits dan ilmu agama yang lain kepada para ulama, sebagaimana yang menjadi tradisi ulama salaf dan ahli hadits. Oleh karena itu al-Albani tidak memiliki sanad hadits yang mu’tabar (diakui-red). Kemudian ia mengaku sebagai pengikut salaf, padahal memiliki akidah yang berbeda dengan mereka, yaitu aqidah Wahhabi dan tajsim (menafsirkan ayat-ayat tentang fisik Allah apa adanya-red).

Oleh karena akidah al-Albani yang berbeda denga akidah ulama ahli hadits dan kaum Muslimin, maka hadits-hadits yang menjadi hasil kajiannya sering bertentangan dengan pandangan ulama ahli hadits. Tidak jarang al-Albani menilai dha’if dan maudhu’ terhadap hadits-hadits yang disepakati keshahihannya oleh para hafizh, hanya dikarenakan hadits tersebut berkaitan dengan dalil tawassul. Salah satu contoh misalnya, dalam kitabnya al-Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu (cet. 3, hal. 128), al-Albani mendha’ifkan hadits Aisyah Ra. yang diwayatkan oleh ad-Darimi dalam al-Sunan-nya, dengan alasan dalam sanad hadits tersebut terdapat perawi yang bernama Sa’id bin Zaid, saudara Hammad bin Salamah. Padahal dalam kitabnya yang lain, al-Albani sendir telah menilai Sa’id bin Zaid ini sebagai perawi yang hasan (baik) dan jayyid (bagus) haditsnya yaitu dalam kitabnya Irwa’ al-Ghalil (5/338).

Di antara Ulama Islam yang mengkritik al-Albani adalah al-Imam al-Jalil Muhammad Yasin al-Fadani penulis kitab al-Durr al-Mandhud Syarh Sunan Abi Dawud dan Fath al-‘Allam Syarh Bulugh al-Maram; al-Hafizh Abdullah al-Ghummari dari Maroko; al-Hafizh Abdul Aziz al-Ghummari dari Maroko; al-Hafizh Abdullah al-Harari al-Abdari dari Lebanon pengarang Syarh Alfiyah al-Suyuthi fi Mushthalah al-Hadits; al-Muhaddits Mahmud Sa’id Mamduh dari Uni Emirat Arab pengarang kitab Raf’u al-Manarah li-Takhrij Ahadits al-Tawassul wa al-Ziyarah; al-Muhaddits Habiburrahman al-A’zhami dari India; Syaikh Muhammad bin Ismail al-Anshari seorang peniliti Komisi Tetap Fatwa Wahhabi dari Saudi Arabia; Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Khazraji menteri agama dan wakaf Uni Emirat Arab; Syaikh Badruddin Hasan Dayyab dari Damaskus; Syaikh Muhammad Arif al-Juwaijati; Syaikh Hasan bin Ali al-Saqqaf dari Yordania; al-Imam al-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki dari Mekkah; Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dari Najd (ulama Wahabi-red) yang menyatakan bahwa al-Albani tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali; dan lain-lain. Masing-masing ulama tersebut telah mengarang bantahan terhadap al-Albani (sebagian dari buku-buku al-Albani dan bantahannya ada pada perpustakaan kami [Tim PCNU Jember-red]).

Tulisan Syaikh Hasan bin Ali al-Saqqaf yang berjudul Tanaqudhat al-Albani al-Wadhihat merupakan kitab yang menarik dan mendalam dalam mengungkapkan kesalahan fatal al-Albani tersebut. Beliau mencatat seribu lima ratus (1500) kesalahan yang dilakukan al-Albani lengkap dengan data dan faktanya. Bahkan menurut penelitian ilmiah beliau, ada tujuh ribu (7000) kesalahan fatal dalam buku-buku yang ditulis al-Albani. Dengan demikian, apabila mayoritas ulama sudah menegaskan penolakan tersebut, berarti Nashiruddin al-Albani itu memang tidak layak untuk diikuti dan dijadikan panutan.

Kenyataan tersebut di atas juga diakui oleh Syaikh Yusuf Qardhawi di dalam tanggapan beliau terhadap al-Albani yang mengomentari hadis-hadis di dalam kitab beliau berjudul al-Halal wal-Haram fil-Islam, sebagai berikut:

Oleh sebab itu, penetapan Syaikh al-Albani tentang dha’if-nya suatu hadits bukan merupakan hujjah yang qath’I (pasti-red) dan sebagai kata pemutus. Bahkan dapat saya katakan bahwa Syaikh al-Albani hafizhahullah kadang-kadang melemahkan suatu hadits dalam satu kitab dan mengesahkannya (menshahihkannya-red) dalam kitab lain. (Lihat Halal dan Haram , DR. Yusuf Qardhawi, Robbani Press, Jakarta, 2000, hal. 417).

Syaikh Yusuf Qardhawi juga banyak menghadirkan bukti-bukti kecerobohan al-Albani dalam menilai hadis yang sekaligus menunjukkan sikapnya yang “plin-plan”, sehingga hasil penelitiannya terhadap hadis sangat diragukan dan tidak dapat dijadikan pedoman. Belum lagi bila menilik fatwa-fatwa al-Albani yang kontroversial, maka semakin tampaklah cacat yang dimilikinya itu.

Di antara fatwa-fatwa al-Albani yang kontroversial itu sebagaimana disebut di dalam buku Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik” (H. Mahrus Ali), halaman 241-245 adalah :

1. Mengharamkan memakai cincin, gelang, dan kalung emas bagi kaum wanita

2. Mengharamkan berwudhu dengan air yang lebih dari satu mud (sekitar setengah liter) dan mengharamkan mandi dengan air yang lebih dari lima mud (sekitar tiga liter).

3. Mengharamkan shalat malam melebihi 11 raka’at.

4. Mengharamkan memakai tasbih (penghitung) untuk berdzikir.

5. Melarang shalat tarawih melebihi 11 raka’at.

Ada pula fatwa-fatwanya yang nyeleneh, seperti: Menganggap adzan kedua di hari Jum’at sebagai bid’ah yang tidak boleh dilakukan (lihat al-Ajwibah al-Nafi’ah), menganggap bid’ah berkunjung kepada keluarga dan sanak famili pada saat hari raya, mengharuskan warga Muslim Palestina agar keluar dari negeri mereka dan menganggap yang masih bertahan di Palestina adalah kafir (lihat Fatawa al-Albani, dikumpulkan oleh ‘Ukasyah Abdul Mannan, hal. 18), mengajak kaum Muslimin untuk membongka al-Qubbah al-Khadhra’ (kubah hijau yang menaungi makan Rasulullah Saw.) dan mengajak mengeluarkan makan Rasulullah Saw. dan Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar ke lokasi luar Masjid Nabawi (lihat Tahdzir al-Sajid min Ittikhadz al-Qubur Masajid, hal. 68), dan bahkan al-Albani berani menyatakan secara bahwa sikap Imam Bukhari dalam menta’wil sebuah ayat di dalam kitab Shahih Bukhari adalah sikap yang tidak pantas dilakukan seorang Muslim yang beriman (artinya secara tidak langsung ia telah menuduh al-Bukhari kafir dengan sebab ta’wilnya tersebut) (lihat Fatawa al-Albani, hal. 523).

Jadi, setelah mengetahui kenyataan yang sedemikian buruknya tentang kredibilitas al-Albani dalam kegemarannya mengomentari hadis-hadis Rasulullah Saw. yang terdapat di berbagai kitab para ulama, maka orang-orang berakal sehat tidak akan lagi memandang “pantas” untuk menjadikan karya-karya al-Albani sebagai rujukan ilmiah, apalagi dalam rangka memvonis suatu amalan sebagai bid’ah hanya karena dalilnya didha’ifkan oleh al-Albani. Kejanggalan al-Albani itu bahkan juga dirasakan oleh ulama Wahabi seperti al-‘Utsaimin dan yang lainnya, sehingga para pengikut Salafi & Wahabi (terutama yang ada di Indonesia) tidak sepantasnya mengunggulkan karya-karya al-Albani, apalagi menerbitkan dan menyebarluaskannya.

Hassan AlBanna – 10 pesan

1. Segerakan shalat bila tiba waktu sepanjang tiada keudzuran.

2. Membaca Al-Quran, membuat kajian dan dengan perbahasan ilmiah, zikir kepadaNya, jangan habiskan masa kepada yang tidak
bermanfaat.

3. Rajin berusaha bertutur dalam bahasa arab dengan fasih karena ia merupakan syiar Islam.

4. Jangan banyak berdebat dalam segala urusan karena ia membawa kepada pertengkaran yang tidak mendatangkan kebaikan.

5. Janganlah banyak tertawa  , karena hati yang bertembung dengan Allah bersifat tenang dan tegas.

6. Jangan banyak bergurau karena umat yang berjuang hanya mengenal ketegasan.

7. Jangan meninggikan suara melebihi had yang diperlukan oleh pendengar karena ia merupakan perbuatan sia-sia dan menyakitkan hati.

8. Jangan mengumpat atau memanggil dengan gelaran yang buruk dan janganlah berkata kecuali perkara yang baik-baik saja.

9. Berkenalanlah dengan saudara sesama Islam di mana-mana saja.

10. Kewajiban hidup lebih banyak daripada waktu, oleh itu tolonglah orang lain memanfaatkan waktunya. Jika ada urusan yang lebih penting maka segerakanlah ia.

 

.

HASMI SURURIYAH BOGOR.

DOWNLOAD AUDIO: Bedah Buku “Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan” yang Disebarkan oleh HASMI Bogor

( Ust. Aunur Rofiq Ghufran )

Posted by

Beberapa tahun yang lalu sekitar 2006 M, muncul sebuah buku “hitam” yang berisi celaan terhadap Salafiyyun maupun Dakwah Salafiyyah yang diberkahi ini. Sebuah buku yang berisi kerancuan dan tuduhan yang sangat menyesatkan terhadap dakwah Islam yang suci ini. Buku “hitam” tersebut berjudul Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan (MKSS) yang disusun oleh Tim Studi Kelompok Sunniyyah [baca: Tim Studi Kelompok Sururiyyah]. Sedangkan pengedar buku tersebut adalah HASMI (Harakah Sunniyyah Masyarakat Indonesia) [baca: Harakah Sururiyyah Masyarakat Indonesia] yang berada di bawah naungan Yayasan Al Huda, Bogor. Mereka dengan penuh kebodohan (dan kebingungan) ingin membatalkan wajibnya penisbatan terhadap istilah Salafiyyah dan Salafiyyun. Mereka pun dengan bangga (di atas kesesatannya) mencela para ulama Islam. Serta masih banyak lagi tuduhan dan celaan mereka terhadap dakwah Islam (baca: Salafiyyah) di dalam buku tersebut.

Tidaklah mengherankan apa yang mereka lakukan, karena begitulah sifat ahli bid’ah. Ketahuilah, “Di antara ciri ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar!” Demikian perkataan dari Imam Abu Hatim Ar Razi –rahimahullah– (Ashlu Sunnah hal 24.).

Akan tetapi, Allah tidak akan pernah membiarkan agama yang suci ini dilecehkan oleh para pengikut kesesatan. Allah Rabbul ‘Arsy telah berfirman,

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci (QS. Ash Shaf: 8)

Selain itu, pasti akan ada sekelompok orang (ahli ilmu) yang akan melakukan pembelaan terhadap dinul haq ini. Hal ini seperti yang diisyaratkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau yang mulia,

Senantiasa ada golongan dari umatku yang membela kebenaran (sunnah). Tidaklah membahayakan mereka orang yang menghinanya sampai datang ketentuan Allah pada hari kiamat. (HR. Muslim: 3554)

Walaupun musuh-musuh Islam begitu semangat melakukan makar, mereka pasti akan dikalahkan, dan agama yang mulia ini akan tetap berkibar hingga Yamus-Sa’ah nanti. Sungguh indah syi’ir dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah,

Kebenaran itu akan menang dan mendapat ujian

Janganlah heran, sebab ini adalah sunnah ar Rahman

(Lihat al Kafiyah asy Syafiyah no. 217)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pun pernah berkata,

“Termasuk sunnatullah, apabila Dia ingin menampakkan agama-Nya, maka Dia membangkitkan para penentang agama, sehingga Dia akan memenangkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan, karena kebatilan itu pasti akan hancur binasa” (Al Uqud ad Durriyyah Ibnu Abdil Hadi hal. 364).

Jadi, sesungguhnya celaan para ahli bid’ah terhadap dakwah Salafiyyah, pada hakekatnya justru semakin mengangkat kemuliaan dan membuktikan kebenaran dakwah Salafiyyah!

Selanjutnya, berkenaan dengan HASMI –organisasi yang “mengaku” sebagai Ahli Sunnah- yang menyebarkan buku MKSS, kami pernah mendengar langsung ucapan salah satu ustadz HASMI di Masjid Al Hikmah, Jatinangor, sekitar dua tahun yang lalu. Beliau –hadahullah- dengan bangganya melakukan pembelaan terhadap seorang tokoh pemecah belah umat, yaitu Muhammad Surur Zainal Abidin (pendiri manhaj Sururiyyah) beserta majalah al Bayan yang diterbitkannya di negeri kuffar London. Juga pembelaan beliau terhadap tokoh teroris internasional yang mempunyai ciri-ciri pemikiran Khawarij, yaitu Osama bin Ladin –hadahullah­-. Dengan bangganya beliau membela tokoh-tokoh tersebut berdasarkan manhaj Muwazanah ala firqoh Sururiyyah. Anehnya, beliau (dan pengikuti HASMI lainnya) pun dengan penuh ke-PD-an, mengaku sebagai pengikut Sunniy, Ahlus Sunnah wal Jama’ah?! Benarkah klaim mereka (HASMI) bahwa mereka adalah pengikut Ahlus Sunnah seperti yang tertulis di buku MKSS? Insya Allah, dengan menelaah (baca: radd) buku Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan yang mereka sebarkan, kita akan dapat menyingkap hakekat dakwah HASMI yang sebenarnya. Apakah dakwah mereka termasuk dakwah Ahlus Sunnah-Sunniyyah yang selama ini mereka gembar-gemborkan? Ataukah merupakan dakwah Hizbiyyah Sururiyyah ala Muhammad Surur Zainal Abidin?!

Sepertinya perkataan seorang penyair berikut ini, sangat cocok jika kita hadiahkan kepada HASMI yang mengaku sebagai Ahli Sunnah,

Dan setiap pengakuan yang tiada bukti

Maka pengakuannya hanya pembual semata

Alhamdulillah, seorang ustadz Ahli Sunnah di negeri ini yang ilmunya insya Allah tidak diragukan lagi, yaitu Al Ustadz Al Fadhil Aunur Rafiq Ghufran hafizhahullah telah membantah buku MKSS dalam pengajiannya. Pengajian tersebut dilaksanakan di Kota Solo setahun setelah buku MKSS diedarkan. Juga di dalam majalah kesayangan kita, majalah Al Furqon pada rubrik Kitab –majalah Edisi Januari 2007 (Edisi 5 Tahun 6 – Dzulhijjah 1429 H)-, terdapat ringkasan bantahan terhadap buku MKSS yang ditulis oleh Ustadz Abu Ahmad As Salafy –jazahullahu ahsanal jaza’-. Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan asatidzah pengasuh majalah Al Furqon yang tidak pernah bosan membantah buku-buku sesat yang beredar di tengah-tengah masyarakat kita. Amin.

Pada kesempatan kali ini, kami sajikan rekaman kajian bantahan terhadap buku MKSS yang diberi judul Waspadalah Terhadap Kedustaan, Kebingungan, dan Kesesatan Buku Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan. Anda dapat men-download (unduh) rekaman tersebut dengan meng-klik link di bawah ini:

  1. Muqaddimah oleh Ustadz Arief Budiman, Lc.

  2. Materi Kajian (Bantahan Buku MKSS) oleh Ustadz Aunur Rafiq Ghufran, Lc.

  3. Tanya Jawab Kajian oleh Ustadz Aunur Rafiq Ghufran, Lc.

Semoga usaha ini bermanfaat. Jazakumullah khairan.

-Abahnya Zaid (admin)-